Rabu, 10-07-2019 | 20:50:22

Jujur Pada Diri Sendiri

Oleh : H. Mamun Zahrudin (Guru Bahasa Arab MTs El Ghazy Tambun Selatan)

Salah satu dimensi moral yang dilahirkan shalat adalah kejujuran, keikhlasan, dan ketabahan. Seseorang yang sedang melaksanakan shalat, begitu taat dan bersungguh-sungguh untuk mengikuti seluruh proses sejak dari takbir sampai salam. Tidak pernah kita dengar ada orang yang menuju jumlah rakaat dalam shalat walaupun dia shalat sendirian.

Shalat adalah ritual yang melahirkan nuasa kejujuran dan melaksanakan seluruh kewajibannya dengan penuh rasa tanggung jawab.

Bagi orang-orang yang shiddiq, esensi shalat tidak berhenti sampai ucapan assalamu'alaikum, tetapi justru ucapan itu merupakan awal bagi dirinya untuk membuktikan hasil shalatnya dalam kehidupannya secara aktual dan penuh makna manfaat.

Kita tidak pernah akan jujur pada diri sendiri selama tidak mempunyai makna hidup yang sejati berpihak kepada kebenaran. Juga selama tidak merasakan bahwa kebahagian sejati adalah terpenuhinya makna hidup tersebut.

Jujur pada diri sendiri juga berarti kesungguhan yang amat sangat untuk meningkatkan dan mengembangkan misi dan bentuk keberadaaan untuk memberikan yang terbaik bagi orang lain. Dia menampakkan dirinya yang sejati, apa adanya, lurus, bersih, dan otentik. Dia menyadari bahwa keberadaannya hanya punya makna bila memberikan manfaat bagi orang lain secara terbuka (transparan) tanpa kepalsuan, apalagi menyembunyikan fakta kebenaran atau memanipulasinya. Inilah yang disebut sebagai keberadaan otentik atau berdiri lurus.

Dia adalah tipe manusia yang berjalan dengan penuh keyakinan diri yang kuat. Berdiri diatas kebenaran (qadama shiddiqin) dan sadar bahwa harus mengambil keputusan, mandiri, dan berbuat tanpa harus menghubungkan diri kepada orang lain (independen).

Kesadaran otentik berarti juga menyadari besarnya amanah yang diterimanya sebagai rahmatan lil alamiin, sehingga orang yang jujur tidak hanya sekadar ucapan dan perbuatannya. Sebaliknya, keberadaan yang "tidak otentik atau hidup yang palsu itu" adalah tipe manusia yang menyembunyikan atau mengingkari tugas dan tanggung jawabnya dalam keberadaan dirinya di dunia.

Keberadaannya menjadi tidak murni dikarenakan ketergantungannya kepada orang lain. Dia hanya mau berbuat atau mengukuhkan dirinya karena pamrih, tepuk tangan pujian, dan dorongan orang lain. Keberadaan dirinya beserta perbuatan dan tindakannya benar-benar hanya digerakkan orang lain, sebuah kepura-puraan.

Bagi seseorang yang memiliki jiwa kejujuran yang otentik, tepukan pujian dan penghargaan hanyalah sekadar akibat sampingan dari upaya dirinya memberikan makna hidup yang sejati. Pujian, tepukan, uang, dan kenikmatan duniawi bukanlah tujuan atau motivasi yang sebenarnya.

 

Selang, 09 Juli 2019

Alfaqir

MZ