Senin, 10-06-2019 | 12:39:37

Memaknai Ramadhan sebagai lembaga Madrasah Mutamayyizah

Oleh : Dr. H. Akhmad Buhaiti, M.SI. (Kepala Seksi Pendidikan Madrasah Kementerian Agama Kab. Pangandaran)

 “ Shalat lima waktu, jumat ke jumat, dan Ramadhan ke Ramadhan akan menjadi kifarat dosa selama menjauhi dosa-dosa besar” (HR Muslim)

Sungguh merupakan kenikmatan yang luar biasa, karena kita berada di bulan Ramadhan (1440 H). Ramadhan merupakan bulan istimewa, karena didalamnya terkandung berbagai kemuliaan dan keberkahan. Salah satu amalan yang menjadi tradisi dan kekhasan ramadhan adalah iktikaf. Yaitu berdiam diri di masjid dalam waktu tertentu untuk mencari ridha Allah.

Ibadah puasa merupakan sarana latihan untuk pengembangan diri. Yusuf al-Qardhawi dalam bukunya Fiqh al-Shiam. Memandang puasa Ramadhan sebagai lembaga par-excellent (madrasah mutamayyizah) yang dibuka oleh Allah SWT setiap tahun. Siapa yang mendaftar dan mengikuti perkuliahan dengan baik sesuai dengan petunjuk islam ia akan lulus ujian dengan predikat “sukses besar”. Karena, tidak ada keuntungan yang lebih besar ketimbang meraih ampunan Allah SWT dan bebas dari siksa neraka.

Di antara hikmah paling penting ibadah puasa, kata al-Qaradhawi adalah pencucian atau peningkatan kualitas diri (tazkiyat al-nafs). Dalam pemikiran Islam, jiwa atau mental (al-nafs) memiliki empat tingkatan, yaitu pertama mental tumbuh-tumbuhan (nafs al-nabt), ke-dua mental binatang (nafs al-hayawan), ke-tiga jiwa manusia (nafs al-insan) dan ke-empat jiwa malaikat (nafs al-malakut). Manusia sesuai dengan hakikatnya harus mampuh mentransformasi diri dan memiliki semangat serta jiwa dari yang paling rendah ke jiwa yang paling tinggi dalam arti peningkatan kualitas diri dengan semangat kebenaran (tahaqquq) dan pengabdian (ta’abbud) yang tinggi kepada Allah SWT.

Memaknai iktikaf dan hikmah Ramadhan bagi kalangan pendidik merupakan nilai eksistensi dan konsistensi diri dalam melaksanakan tugasnya. Guru harus mampu membuktikan dan meningkatkan keprofesionalannya, dengan Ramadhan seorang guru akan mendapatkan spirit yang lebih untuk menjalankan tugasnya. Bukan malah menjadi alasan untuk meninggalkan profesinya.

Bulan Ramadhan, menjadi bulan latihan untuk mengendalikan diri dari ucapan, hawa nafsu dan perbuatan yang tidak ada manfaatnya. Dengan demikian, seluruh waktunya hanya dipergunakan untuk taqarrub kepada Allah SWT dan ia memaksimalkan waktunya untuk memberikan manfaat yang optimal bagi sesama manusia.

Karena itu Madrasah Mutamayyizah harus kita maksimalkan untuk dijadikan sarana pembelajaran dalam membentuk karakter anak dan karakter masyarakat yang berakhlak. Menurut Ghazali, perbaikan akhlak hanya dapat dilakukan dengan metode penyembuhan terbalik (bi thariqat al-‘aks) artinya penyakit akhlak hanya bisa disembuhkan dengan lawannya. Sifat bodoh dilawan dengan ilmu, kikir dengan dermawan. sombong dengan rendah hati. dusta dengan jujur. dan lainnya. Bertolak dari konsep ini maka Madrasah Mutamayyizah dapat dijadikan sarana dan alat operasi serta alat deteksi oleh guru untuk mengoperasi kebathinan murid untuk mewujudkan ketercapaian tujuan pembelajaran dalam satu tahun ajaran.

Semoga semua bisa memanfaatkan momentum Ramadhan ini untuk memperbanyak pengabdian. Ingatlah, ketika detik-detik Ramadhan tahun lalu akan berakhir, para malaikat bersedih dan meminta supaya satu tahun semua bulannya adalah Ramadhan. Kini, ketika Ramadhan kembali menyapa, tentu mereka, para malaikat dan semesta alam akan merasa haru dan bahagia menyambutnya. oleh karenanya mari kita siapkan untuk menata hati dan meningkatkan kompetensi dalam melaksanakan pengabdian sesuai dengan kapasitas kita selaku hamba-Nya. Waallohu a’lam Bisshawab.