Kamis, 16-05-2019 | 09:20:34

Mengenal Surah An-Naml

Oleh: H. Ilyas Bustamiludin

Surat An-Naml terdiri atas 93 ayat dan termasuk golongan surat Makkiyyah. Dinamai dengan An-Naml, karena pada ayat 18 terdapat perkataan An-Naml (semut). Selain surah ini tidak disebutkan lagi kata An-Naml (semut) di dalam Al-Qur’an. Surah ini memiliki nama lain, yaitu: Surah Sulaiman, Surah Al-Hudhud dan Tha-siin.[1]

Surah ini diturunkan setelah surah As-Syu’arâ dan sama-sama diawali dengan Al-Huruf Al-Muqathth’ah, yaitu: طسم dan طس yang arti dan makna, keduanya kita serahkan kepada Allah SWT. Di samping itu, Surah An-Naml ini memiliki hubungan dengan surah As-Syu’arâ, karena keduanya membicarakan kisah para rasul dan keduanya juga sama-sama menghibur hati Nabi Muhammad SAW yang mengalami bermacam-macam penderitaan dan permusuhan dari kaumnya. Namun, tetap menerangkan bahwa Al-Quran itu benar-benar diturunkan dari sisi Allah SWT.

 

Hal yang Unik Dalam Surah An-Naml

Hal yang unik bagi saya dalam surah An-Naml ini, ialah diulangnya pertanyaan Allah: أَإِلَهٌ مَعَ اللَّهِ (Apakah disamping Allah ada tuhan (yang lain)?) sebanyak 5 (lima) kali berturut-turut mulai ayat 60, 61, 62, 63 dan 64.

Pada ayat 60, pertanyaan Allah: أَإِلَهٌ مَعَ اللَّهِ, setelah Allah bertanya: “siapakah yang telah menciptakan langit dan bumi dan yang menurunkan air untukmu dari langit, lalu Kami tumbuhkan dengan air itu kebun-kebun yang berpemandangan indah, yang kamu sekali-kali tidak mampu menumbuhkan pohon-pohonnya?” Tidak ada yang mampu menciptakan langit dan bumi dan menurunkan hujan yang darinya tumbuh pohon-pohon. Bahkan berhala-berhala yang mereka sembah tidak mampu melakukan itu semua. Tapi apa yang terjadi بَلْ هُمْ قَوْمٌ يَعْدِلُونَ “Tetapi mereka adalah orang-orang yang menyimpang (dari kebenaran).”

Pada ayat 61, pertanyaan Allah: أَإِلَهٌ مَعَ اللَّهِ, setelah Allah bertanya: “siapakah yang telah menjadikan bumi sebagai tempat berdiam, dan yang menjadikan sungai-sungai di celah-celahnya, dan yang menjadikan gunung-gunung untuk (mengkokohkan)nya dan menjadikan suatu pemisah antara dua laut?” siapakah yang telah menjadikan bumi sebagai tempat berdiam, dan yang menjadikan sungai-sungai di celah-celahnya, dan yang menjadikan gunung-gunung untuk (mengkokohkan)nya dan menjadikan suatu pemisah antara dua laut?” Bumi sebagai tempat berdiam, dia tidak oleng. Padahal di dalam bumi ada 2 (dua) gerakan yaitu rotasi dan revolusi. Bumi berbentuk bulat tapi air di atasnya tidak tumpah. Air tersebut empat perlima bagiannya adalah air asin. Dalam benua-benua terdapat sungai-sungai yang berisi air tawar. Hal yang menakjubkan, yang tawar tidak bercampur dengan yang asin segalanya tetap di jalannya masing-masing. Hal ini karena perbedaan berat jenis. Seharusnya hal ini menghantarkan seseorang kepada meyakini adanya sang Maha Pencipta. Tapi apa yang terjadi? بَلْ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْلَمُونَ “Bahkan (sebenarnya) kebanyakan dari mereka tidak mengetahui.”

Pada ayat 62, pertanyaan Allah: أَإِلَهٌ مَعَ اللَّهِ, setelah Allah bertanya: “siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi?” Siapa lagi kalau bukan Allah yang selalu menolong dengan mengabulkan permohonan orang yang berdoa tatkala dalam kesulitan hidup dan menghilangkan bencana berupa sakit dan menjadikan manusia sebagai penguasa di bumi. Tapi apa yang terjadi? قَلِيلًا مَا تَذَكَّرُونَ “Amat sedikitlah kamu mengingati(Nya)”.

Pada ayat 63, pertanyaan Allah: أَإِلَهٌ مَعَ اللَّهِ, setelah Allah bertanya: “siapakah yang memimpin kamu dalam kegelapan di dataran dan lautan dan siapa (pula)kah yang mendatangkan angin sebagai kabar gembira sebelum (kedatangan) rahmat-Nya?”Allah lah yang memberikan alat-alat navigasi untuk digunakan di darat, udara dan laut. Dia juga menurunkan rahmat-Nya berupa air hujan yang menyebabkan suburnya tumbuh-tumbuhan. Tapi apa yang terjadi? Mereka tetap mempersekutukan Allah. تَعَالَى اللَّهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ “Maha Tinggi Allah terhadap apa yang mereka persekutukan (dengan-Nya).”

Dan pada ayat 64, pertanyaan Allah: أَإِلَهٌ مَعَ اللَّهِ, setelah Allah bertanya: “siapakah yang menciptakan (manusia dari permulaannya), kemudian mengulanginya (lagi), dan siapa (pula) yang memberikan rezki kepadamu dari langit dan bumi?” Belum ada yang mengaku telah menciptakan manusia dan mengulanginya lagi nanti setelah kematian, selain Allah. Jika ada yang mengaku, قُلْ هَاتُوا بُرْهَانَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ “Katakanlah: "Unjukkanlah bukti kebenaranmu, jika kamu memang orang-orang yang benar”. Sebab, tidak ada bukti yang dapat didengar dari kekafiran. Untuk menafikan keberadaan Allah itu adalah sindorm bukanlah pemikiran. Ia adalah tipu daya yang bersandar pada prasangka yang tanpa bukti yang tidak memiliki tempat dalam akal.

Kelima ayat di atas, secara terang benderang Allah Tuhan semesta alam. Dia yang telah menganugerahkan manusia nikmat ekologis seperti: bumi dengan tumbuh-tumbuhannya, lautan dengan segala fasilitasnya, gunung dengan segala fungsinya. Allah menganugerakan langit dengan bintang gumintangnya untuk perjalanan manusia dan menurunkan darinya rizki berupa air hujan. Nikmat ekologis ini seharusnya menghantarkan manusia meyakini akan keberadaan Allah. Bahwa semua ini Allah yang menciptakan dan milik-Nya, dan semua kembali kepada-Nya. maka lengkaplah nikmat tersebut, yaitu nikmat teologis yang padahal manusia sudah merasakan kehadiran-Nya ketika manusia meminta bantuan kepada-Nya tatkala manusia dalam kesulitan dan tertimpa bencana.

 

Fokus Surah An-Naml

Surah An-Naml ini, mengajarkan kepada kita bahwa manusia tidak lepas dari dunia di luar komunitas manusia, yaitu: dunia binatang dan dunia ghaib dalam hal ini adalah jin. Mereka adalah tentaranya nabi Sulaiman, sebagaimana dijelaskan dalam surah An-Naml ayat 17: “Dan dihimpunkan untuk Sulaiman tentaranya dari jin, manusia dan burung lalu mereka itu diatur dengan tertib (dalam barisan)”.

Dunia Binatang

Beberapa binatang disebut dalam surah An-Naml ini, seperti: Semut, burung (Hudhud) dan binatang melata.

- Semut
Semut disebut pada ayat 18. Tatkala nabi Sulaiman bersama tentaranya melakukan lawatan hingga mereka sampai di lembah semut berkatalah seekor semut: “Hai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari". Maka dia tersenyum dengan tertawa karena (mendengar) perkataan semut itu, seraya berdoa: رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَدْخِلْنِي بِرَحْمَتِكَ فِي عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ "Ya Tuhanku berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh." (QS. An-Naml [27]: 18 - 19)

 

- Burung
Secara khusus, surah ini menyebut profil burung yang bernama hudhud. Walaupun hanya sekali disebut dalam Al-Qur’an, yaitu dalam Surah An-Naml ayat 20, namun hasil investigasinya sangat akurat. Dialah penyebab masuk Islamnya Ratu Balqis bersama rakyatnya. Menurut foot note ke-1093 Al-Qur’an Terjemah Kemenag RI, Hud-hud ialah sejenis burung pelatuk. Apa peran burung ini dalam surah An-Naml?

Ketika Sulaiman AS menginspeksi pasukan, hudhud kedapatan tidak hadir. Maka, Sulaiman benar-benar akan mengazabnya dengan azab yang keras atau benar-benar menyembelihnya kecuali jika benar-benar dia datang kepada Sulaiman dengan alasan yang terang. Maka tidak lama kemudian (datanglah hud-hud), lalu ia berkata: "Aku telah mengetahui sesuatu yang kamu belum mengetahuinya; dan kubawa kepadamu dari negeri Saba suatu berita penting yang diyakini. Saba nama kerajaan di zaman dahulu, ibu kotanya Ma'rib yang letaknya dekat kota San'a ibu kota Yaman sekarang. Sesungguhnya aku menjumpai seorang wanita yang memerintah mereka, dan dia dianugerahi segala sesuatu serta mempunyai singgasana yang besar. Selanjutnya, hudhud ditugaskan Sulaiman AS sebagai pengantar surat dari Sulaiman ke Ratu Balqis. (QS. An-Naml [27]: 20 - 35)

Secara umum, Al-Qur’an menyebut burung dengan 2 (dua) kata, yaitu: طير dan طائر . Kata طير disebut 19 (sembilan belas) kali, sedang kata طائر (dalam arti burung yang sesungguhnya) disebut hanya 1 (satu) kali.[2] Pada kisah nabi Ibrahim AS dan nabi Isa AS, burung dijadikan Allah media untuk menunjukkan kebesaran Allah. Tatkala Ibrahim AS berkata: "Ya Tuhanku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang-orang mati." Allah berfirman: "Belum yakinkah kamu ?" Ibrahim menjawab: "Aku telah meyakinkannya, akan tetapi agar hatiku tetap mantap (dengan imanku) Allah berfirman: "(Kalau demikian) ambillah empat ekor burung, lalu cincanglah semuanya olehmu. (Allah berfirman): "Lalu letakkan diatas tiap-tiap satu bukit satu bagian dari bagian-bagian itu, kemudian panggillah mereka, niscaya mereka datang kepadamu dengan segera." Dan ketahuilah bahwa Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana (QS. Al-Baqarah [2]: 260).

Ketika Bani Israil meminta Isa AS untuk membuktikan kerasulan-Nya, Isa AS mengatakan: “…Aku membuat untuk kamu dari tanah berbentuk burung; kemudian aku meniupnya, maka ia menjadi seekor burung dengan seizin Allah…” (QS. Âl ‘Imrân [3]: 49). Dikisahkan juga di dalam QS. Al-Mâ’idah [5]: 110.
Bagi orang beriman, burung-burung yang dengan mudahnya terbang di angkasa bebas. Tidak ada yang menahannya selain daripada Allah. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang beriman. (QS. An-Nahl [16]: 79). Burung dan gunung Allah tundukkan, semua bertasbih bersama Daud (QS. Al-Anbiyâ’ [21]: 79 dan QS. Saba’ [34]: 10). Burung bertasbih dengan mengembangkan sayapnya. Masing-masing telah mengetahui (cara) sembahyang dan tasbihnya (QS. An-Nûr [24]: 41 dan QS. Al-Mulk [67]: 19). Di akhirat, daging burung merupakan santapan yang paling diinginkan oleh penduduk surga (QS. Al-Wâqi‘ah [56]: 21).

Namun bagi orang kafir, suara burung dianggap membawa kesialan. Sikap ini yang disebut dengan istilah Tathayyur. Terutama, ketika mereka mendapat musibah, maka dituduhlah para rasul yang menjadi penyebab datangnya musibah itu, seperti yang menimpa nabi Musa AS (QS. Al-A‘râf [7]: 131) nabi Shaleh (QS. An-Naml [27]: 47) dan para utusan nabi Isa As yang beliau utus ke sebuah negeri yang disebut Intokiyah (QS. Yâsîn [36]: 19). Padahal musibah itu datang bukan karena suara burung itu.

 

- Binatang Melata
Surah AN-Naml menyebutkan berita besar tentang keluarnya sejenis binatang melata yang datangnya ketika hendak masa kehancuran alam. Salah satu dari tanda-tanda kehancuran alam ialah keluarnya sejenis binatang melata yang disebut dalam ayat 82. Dalam ayat tersebut binatang itu disebut دَابَّةٍ (Binatang Melata). Binatang ini ketika keluar dari bumi akan mengatakan kepada manusia, bahwa sesungguhnya manusia dahulu tidak yakin kepada ayat-ayat Kami.

Dalam bahasa Arab kata دَابَّةٍ memiliki makna makhluk hidup yang memiliki jasad kasar, baik jantan maupun betina, baik berakal maupun tidak berakal. Sehingga, makhluk hidup seperti manusia, Alien, hewan, maupun tumbuh-tumbuhan dapat digolongkan sebagai dabbah. Sedangkan makhluk halus seperti jin dan setan bukan termasuk dabbah.

Kata دَابَّةٍ (mufrad) disebut 14 (empat belas) kali dalam Al-Qur’an sedang الدَّوَابِّ (jama’) disebut 4 (empat) kali.[3] Sering, Al Qur’an menggambarkan orang kafir sebagai kata الدَّوَابِّ ini. di antaranya ialah firman Allah dalam QS. Al-Anfâl [8] ayat 22: إِنَّ شَرَّ الدَّوَابِّ عِنْدَ اللَّهِ الصُّمُّ الْبُكْمُ الَّذِينَ لَا يَعْقِلُونَ (“Sesungguhnya binatang (makhluk) yang seburuk-buruknya pada sisi Allah ialah; orang-orang yang pekak dan tuli yang tidak mengerti apa-apapun.” (QS. Al-Anfâl [8]: 22).

Lafal ٱلدَّوَآبِّ (makhluk melata) ini meliputi manusia dengan segala sesuatunya, karena mereka melata atau merayap di muka bumi. Tetapi, penggunaannya lebih banyak untuk binatang. Kali ini manusia yang tidak menggunakan akalnya, disindir sebagai binatang melata. Sebab, binatang mendapatkan petunjuk dengan fitrahnya mengenai hal-hal yang berkaitan dengan urusan kehidupannya yang vital. Sedangkan, binatang-binatang melata (yang berupa manusia sesat) itu urusannya diserahkan kepada akal yang tidak mereka pergunakan. Sehingga, sudah barang tentu mereka menjadi makhluk melata yang paling buruk. Mereka telah merusak potensi fitrah untuk menerima dan mematuhi seruan Allah. Maka, Allah tidak membukakan hati yang telah mereka tutup dan fitrah yang telah mereka rusak itu. Karena akal dapat mengerti, tetapi hatinya sudah tertutup, tidak mau taat. Sampai-sampai andaikata Allah menjadikan mereka dapat mendengar dan mengerti, mereka pun tetap tidak mau mematuhi. Kepatuhan itu ialah mendengarkan dengan benar. Betapa banyak orang yang pikirannya bisa mengerti, tetapi hatinya tertutup, tidak mau menaati.

 

Dunia Jin

Sebagai raja, Sulaiman memfungsikan semua bala tentaranya dengan melihat skill masing-masing. Kali ini, Sulaiman berencana memindahkan istana Ratu Balqis dari Yaman ke Palestina. Maka Sulaiman mengumpulkan bala tentaranya seraya berkata: يَا أَيُّهَا الْمَلَأُ أَيُّكُمْ يَأْتِينِي بِعَرْشِهَا قَبْلَ أَنْ يَأْتُونِي مُسْلِمِينَ "Hai pembesar-pembesar, siapakah di antara kamu sekalian yang sanggup membawa singgasananya kepadaku sebelum mereka datang kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri." Berkata 'Ifrit (yang cerdik) dari golongan jin: أَنَا آتِيكَ بِهِ قَبْلَ أَنْ تَقُومَ مِنْ مَقَامِكَ وَإِنِّي عَلَيْهِ لَقَوِيٌّ أَمِينٌ "Aku akan datang kepadamu dengan membawa singgsana itu kepadamu sebelum kamu berdiri dari tempat dudukmu; sesungguhnya aku benar-benar kuat untuk membawanya lagi dapat dipercaya." Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari AI Kitab: أَنَا آتِيكَ بِهِ قَبْلَ أَنْ يَرْتَدَّ إِلَيْكَ طَرْفُكَ "Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip.” Maka, Sulaiman memilih yang tercepat yaitu yang dapat memindahkan istana Ratu Balqis dengan sekejap mata. Peristiwa yang luar biasa tersebut, membuat Sulaiman berdoa: هَذَا مِنْ فَضْلِ رَبِّي لِيَبْلُوَنِي أَأَشْكُرُ أَمْ أَكْفُرُ وَمَنْ شَكَرَ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ رَبِّي غَنِيٌّ كَرِيمٌ “Ini termasuk kurnia Tuhanku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya). Dan barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia." (QS. An-Naml [27]: 39 - 40).

Kata 'Ifrit menurut Shahih Al-Bukhari nomor hadits 3170 digunakan untuk setiap orang yang membangkang (durhaka), baik dari kalangan manusia maupun jin.

Dari penjelasan tentang dunia binatang dan dunia jin, sebagai pengemban agama rahmatan lil ‘alamin, nabi SAW mengajarkan ummatnya untuk saling menghormati dan menghargai sesama makhluk Allah. Sebab, tiadalah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan umat (juga) seperti kamu (QS. Al-An‘âm [6]: 38). Artinya, mereka memiliki hak yang sama untuk bertahan hidup dan berhak untuk dilindungi. Oleh karenanya, beberapa hadits yang menjadi rujukan ummat islam dalam berinterkoneksi dengan sesame makhluk, bisa dilihat sebagai berikut.

Misalnya nabi bersabda: "Ada seorang Nabi di antara Nabi-nabi yang singgah di bawah pohon kemudian digigit semut. Maka dia memerintahkan agar mengeluarkan semut itu dari bawah pohon itu lalu memerintahkan agar membakar rumah semut itu. Kemudian Allah mewahyukan kepada Nabi tersebut: "Apakah hanya karena seekor semut (yang menggigitmu lalu kamu membakar semua?) ".. (HR. Al-Bukhary no. hadits: 3072 dan hadits no. 2796).

Nabi juga melarang ummatnya untuk menjadikan binatang sebagai sasaran tembak. Seperti yang diceritakan oleh Ibnu Umar, bahwa ia pernah menemui Yahya bin Sa'id, sementara ada seorang anak laki-laki keturunan Yahya mengikat seekor ayam untuk dijadikan sebagai sasaran tembaknya, maka Ibnu Umar pun berjalan ke arahnya dan melepaskan ayam tersebut. kemudian ia kembali lagi bersama ayam dan anak laki-laki tersebut, setelah itu ia berkata, "Hardiklah anak laki-laki kalian dari menjadikan burung ini sebagai sasaran tembaknya, sesungguhnya aku mendengar Nabi shallallahu 'alaihi wasallam melarang untuk menjadikan binatang atau selainnya sebagai sasaran tembak." (HR. Al-Bukhary no. hadits: 5090). Dan sejumlah hadits lainnya.

Begitu juga dengan komunitas Jin. Beberapa etika menyangkut akhlak muslim terhadap jin. Di antaranya ialah: Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam melarang kencing di lubang. Mereka bertanya kepada Qatadah; "Apa yang membuat kencing di lubang dilarang?" Dia menjawab; "Dikatakan bahwa ia adalah tempat tinggal jin.” (HR. Abu Dawud no. hadits: 27). Atau, Telah datang utusan dari bangsa jin kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, seraya berkata; "Wahai Muhammad, laranglah umatmu untuk beristinja' dengan tulang, atau kotoran binatang atau arang, karena sesungguhnya Allah Ta'ala telah menjadikan rizki kami pada hal Hal tersebut!" Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam melarang umatnya untuk melakukan demikian.( HR. Abu Dawud no. hadits: 35)

 

Penutup Surah An-Naml

Surah An-Naml ditutup dengan memperkuat 4 (empat) perintah, yaitu: diperintah untuk menyembah Allah, diperintahkan supaya termasuk orang-orang yang berserah diri, diperintah supaya membacakankan Al Quran (kepada manusia) dan diperintah untuk bersyukur kepada Allah dengan mengucap: الْحَمْدُ لِلَّهِ ("Segala puji bagi Allah”) [4], perintah yang sudah disebutkan pada ayat 59 dan diulang lagi pada akhir surah ini. Hal ini mungkin untuk mengimbangi bahwa sudah ada 2 (dua) orang nabi yang telah mengucapkannya, yaitu: Daud AS dan Sulaiman AS pada ayat 15 di atas: الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي فَضَّلَنَا عَلَى كَثِيرٍ مِنْ عِبَادِهِ الْمُؤْمِنِينَ ("Segala puji bagi Allah yang melebihkan kami dari kebanyakan hamba-hambanya yang beriman"). Kelebihan yang dimaksud adalah keduanya dianugerahi dapat berbicara dengan binatang.

Kalau nabi Daud dan nabi Sulaiman bisa berdialog dengan burung, itu wajar karena burung tersebut masih dalam keadaan hidup. Hal yang mencengangkan adalah nabi SAW diberitahu kambing yang sudah dipanggang. Kambing panggang itu memberitahu nabi SAW bahwa dirinya telah diracun oleh wanita yahudi. Kisah ini diabadikan dalam kitab Sunan Ad-Darimi, Bab: Mayyit bisa bicara, No. Hadist: 67. Ini adalah salah satu mukjizat nabi SAW yang sekaligus mengalahkan mukjizatnya nabi Daud AS dan nabi Sulaiman AS sekaligus.
الْحَمْدُ لِلَّهِ




[1] Munîrah Muhammad Nâshir, Asmâ Suwar Al-Qur’ân Wâ Fadhâiluhâ, (Mekkah: Dâr Ibn Al-Jauzy, 1426 H), cet. ke-1, h. 295.

[2] Muhammad Fu’âd ‘Abd Al-Bâqî, Al-Mu’jam Al-Mufahras li Alfâzh Al-Qur’ân, (Al-Qâhirah: Dâr Al-Kutub), cet. Ke-1, h. 433.

[3] Kata دَابَّةٍ disebut dalam QS. Al-Baqarah [2]: 164, QS. Al-An‘âm [6]: 38, QS. Hûd [11]: 6, dan 56, QS. An-Nahl [16]: 49 dan 61, QS. An-Nûr [24]: 45, QS. An-Naml [27]: 82, QS. Al-‘Ankabût [29]: 60, QS. Luqmân [31]: 10, QS. Saba’ [34]: 14, QS. Fâthir [35]: 45, QS. As-Syûrâ [42]: 29 dan QS. Al-Jâtsiyah [45]: 4. Sedangkan kata الدَّوَابِّ disebut dalam QS. Al-Anfâl [8]: 22 dan 55, QS. Al-Hajj [22]: 18 dan QS. Fâthir [35]: 28 (Muhammad Fu’âd ‘Abd Al-Bâqî, Al-Mu’jam Al-Mufahras li Alfâzh Al-Qur’ân, (Al-Qâhirah: Dâr Al-Kutub), cet. Ke-1, h. 252).

[4] Muhammad Fu’âd ‘Abd Al-Bâqî, Al-Mu’jam Al-Mufahras li Alfâzh Al-Qur’ân, (Al-Qâhirah: Dâr Al-Kutub), cet. Ke-1, h. 384.