Selasa, 14-05-2019 | 11:03:26

Pola Pendidikan Dalam Keluarga

Oleh : H. Mamun Zahrudin (Guru Bahasa Arab MTs El Ghazy Tambun Selatan)

 

Salah satu aspek penting yang sangat terkait dengan upaya perbaikan pendidikan dan akhlak adalah “ Pola Pendidikan dalam Keluarga.”

Bagaimanapun pola pendidikan dalam keluarga tetap mempunyai peranan penting. Sebab siapapun yang kelak menjadi guru, politikus, polisi ,tentara, pejabat atau apa saja, awalnya tentu sangat bergantung kepada pola pendidikan dirumah. Sebagai cermin dan teladan dalam pola pendidikan dirumah adalah “orang tua”. Kegigihan orang tua untuk menjadi teladan bagi anak-anaknya adalah pendidikan yang tidak ternilai.

Mendidik anak merupakan amanah yang tidak sepele. Bagaimana akhirnya karakter anak setelah dewasa nanti, bergantung pada pendidikan yang ditanamkan orang tuanya sejak dini. Menanamkan nilai-nilai aqidah, akhlak dan lainnya menjadi tanggung jawab orang tua. Seorang anak wajib dibiasakan untuk selalu mengingat dan menjalankan rukun Islam yang merupakan ibadah seperti sholat, puasa, zakat, sedekah. Wajib pula mengajarkan anak tentang dasar-dasar syariah dan akhlak Islam yang terpuji, dimana orangtua mengajarkan halal dan haram serta berbagai ketetapan hukum lainnya. Orangtua harus mengajari anaknya akhlak yang baik dan tingkah laku yang terpuji serta mencegahnya dari akhlak yang burukdan sifat-sifat yang tercela seperti berdusta, mencuri, mencela pemabuk dan lain sebagainya. Dalam Al-Quran telah menegaskan “Jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka”.

Mendidik anak dalam rumah tangga harus diiringi dengan kekuatan akhlak yang baik dari para orang tua. Singkatnya apa yang diinginkan dari anak mulailah dari diri sendiri. Ingin anak rajin jadilah orang tua yang rajin, ingin anak yang soleh jadilah orang tua yang soleh. Sayangnya, orang tua masih mengukur kesuksesan anak dari nilai akademisnya. Ketika mempunyai anak yang mendapat peringkat pertama atau mendapat nilai Ujian Nasional (UN) yang tinggi orang tua mungkin bisa berbangga tetapi orang tua jarang tahu seperti apa akhlak anaknya di sekolah baik kepada guru atau kepada teman-temannya? Apakah anaknya saat ujian nyontek atau tidak ? Apakah nilai ujiannya benar-benar hasil dari kerja kerasnya selama ini?Apakah dia pedengki kepada sesamanya atau tidak? Apakah dia sombong atau tawadhu? Apakah dia pecandu miras atau narkoba? Apakah dia terlibat dalam tawuran ?

Orang tua harus serius dalam mengevaluasi perilaku anak-anaknya. Jika ada anak yang mungkin agak nakal atau bandel jangan saling menyalahkan, jangan salahkan guru, masyarakat tapi cobalah untuk mencari akar permasalahannya bersama-sama

Apabila alat ukur untuk mengukur kesuksesan hanya hal-hal duniawi, maka jagan aneh bila kelak dikemudian hari akan lahir generasi-generasi pecinta dunia.. Memang tidak salahnya mencari kebahagian duniawi namun jika kecintaan kepada dunia sudah membabi buta maka akan tumbuh kehinaan dan kelemahan diri.

Penyakit cinta dunia dan takut mati sebenarnya adalah kunci dari segala kelemahan manusia. Manusia-manusia yang terlalu cinta dunia akan melakukan apa saja tanpa menghiraukan hitam putihnya aturan, dari sinilah maka timbul keserakahan, kejahatan, kezholiman serta keburukan akhlak lainya.

Dalam Al-Quran surat Al-Hujaraat (49) Allah berfirman :” Sesunggguhnya orang paling mulia diantara kamu disisi Allah adalah orang yang paling bertaqwa diantara kamu.” Orang yang taqwa selalu berhati-hati dalam setiap langkahnya, dia takut kalau-kalau perbuatannya akan merugikan orang lain dan dia takut menabraki/ melanggar rambu-rambu Allah..

Alangkah indahnya kalau komitmen taqwa tersebut datang dari rumah sehingga ketika anak tumbuh dewasa maka ia akan memancarkan akhlakulkarimah dilingkungannya. Marilah kita mendidik anak-anak kita dengan mendidik diri sendiri. Suruhlah anak-anak kita dengan menyuruh diri kita.