Selasa, 14-05-2019 | 11:02:57

Mengenal Surah Al-Kahfi

Oleh: H. Ilyas Bustamiludin

 

Surah Al-Kahfi merupakan wahyu Al-Qur’an yang ke-68 yang turun sesudah surah Al-Ghâsyiyah dan sebelum surah Asy-Syûrâ. Ayat-ayatnya terdiri 110 ayat, yang menurut mayoritas ulama, kesemuanya turun sekaligus sebelum nabi Muhammad SAW berhijrah ke Madinah. Namun dalam mushaf, surah Al-Kahfi terletak pada urutan surah yang ke-18 yakni antara surah Al-Israa dan surah Maryam.

 

Kisah, merupakan isi kandungan lain dalam Al-Qur’an. Kitab samawy terakhir ini menaruh perhatian serius akan keberadaan masalah kisah di dalamnya. Dalam Al-Qur’an tersebut, 26 kali kata Qashash dan yang seakar dengannya, tersebar dalam 12 surah dan 21 ayat. Oleh karena itu, kisah merupakan salah satu faktor psikologis yang penting dan dipakai Al-Qur’an untuk mengemukakan bantahan terhadap kepercayaan-kepercayaan yang salah. Ada 4 (empat) kisah yang terdapat dalam surah yang agung ini, yaitu kisah Ashhabul Kahfi, kisah pemilik dua kebun, kisah seorang hamba yang shaleh yaitu Khidhir dan kisah Dzulkarnain.

 

Hal Yang Unik Dalam Surah Al-Kahfi

 

Surah ini disebut Al-Kahfi karena mengisahkan beberapa pemuda yang masuk ke dalam gua, kemudian Allah menidurkan mereka di dalamnya hingga ratusan tahun lamanya. Kisah ini menjadi sasaran tembak orientalis dengan meluncurkan syubhat bahwa tidak jelas berapa jumlah pemuda itu? Dan tidak jelas juga berapa tahun mereka tertidur dalam gua tersebut.

 

· Jumlah Pasti Pemuda Kahfi

 

Al-Qur’an telah memberitahukan perbedaan pendapat yang terjadi tentang jumlah Ashhabul Kahfi dan menyebut 3 (tiga) pendapat itu dengan firman-Nya:

 

سَيَقُولُونَ ثَلَاثَةٌ رَابِعُهُمْ كَلْبُهُمْ وَيَقُولُونَ خَمْسَةٌ سَادِسُهُمْ كَلْبُهُمْ رَجْمًا بِالْغَيْبِ وَيَقُولُونَ سَبْعَةٌ وَثَامِنُهُمْ كَلْبُهُمْ قُلْ رَبِّي أَعْلَمُ بِعِدَّتِهِمْ مَا يَعْلَمُهُمْ إِلَّا قَلِيلٌ فَلَا تُمَارِ فِيهِمْ إِلَّا مِرَاءً ظَاهِرًا وَلَا تَسْتَفْتِ فِيهِمْ مِنْهُمْ أَحَدًا (22)

 

Artinya: “Nanti (ada orang yang akan) mengatakan (jumlah mereka) adalah tiga orang yang keempat adalah anjingnya, dan (yang lain) mengatakan: "(jumlah mereka) adalah lima orang yang keenam adalah anjing nya", sebagai terkaan terhadap barang yang gaib; dan (yang lain lagi) mengatakan: "(jumlah mereka) tujuh orang, yang ke delapan adalah anjingnya." Katakanlah: "Tuhanku lebih mengetahui jumlah mereka; tidak ada orang yang mengetahui (bilangan) mereka kecuali sedikit." Karena itu janganlah kamu (Muhammad) bertengkar tentang hal mereka, kecuali pertengkaran lahir saja dan jangan kamu menanyakan tentang mereka (pemuda-pemuda itu) kepada seorangpun di antara mereka”. (QS. Al-Kahfi [18]: 22)

 

Ayat di atas mencatat 3 (tiga) perbedaan pendapat tentang jumlah Ashhabul Kahfi. Pendapat pertama, jumlah mereka adalah 3 (tiga) orang yang ke-4 adalah anjingnya. Pendapat kedua, jumlah mereka adalah 5 (lima) orang yang ke-6 adalah anjingnya. Dan pendapat ketiga adalah jumlah mereka 7 (tujuh) orang yang kedelapan adalah anjingnya.

 

Dalam hal ini, Al-Qur’an sepertinya berpihak kepada pendapat yang ketiga yaitu jumlah mereka adalah 7 (tujuh) orang yang ke-8 adalah anjingnya dengan argumentasi sebagai berikut: Al-Qur’an menolak dan membatalkan kedua pendapat yang pertama. Hal itu tampak dengan menggambarkan keduanya dengan ungkapan رَجْمًا بِالْغَيْبِ “sebagai terkaan terhadap barang yang gaib”. Sangkaan terhadap yang gaib itu merupakan ucapan tanpa pengetahuan dan tuduhan tanpa bukti. Dan ini merupakan anjuran bagi kita agar teguh dengan ucapan, pikiran dan pendapat kita. Sedangkan, ucapan tanpa pengetahuan dan tuduhan tanpa bukti tidak sesuai dengan metode ilmiah objektif yang dianjurkan oleh Al-Qur’an.[1]

 

Setiap pendapat mengaitkan mereka dengan anjing mereka, dengan memperhatikan bahwa kedua pendapat yang pertama tidak memisahkan mereka dengan anjingnya. Pendapat pertama سَيَقُولُونَ ثَلَاثَةٌ رَابِعُهُمْ كَلْبُهُمْ begitu juga dengan pendapat kedua وَيَقُولُونَ خَمْسَةٌ سَادِسُهُمْ كَلْبُهُمْ . sedang pendapat ketiga memisah mereka dengan anjing mereka dengan huruf Wau, وَيَقُولُونَ سَبْعَةٌ وَثَامِنُهُمْ كَلْبُهُمْ .

 

Inilah Huruf Wau yang fenomenal. Oleh para mufassir huruf Wau ini disebut sebagai Wau Ats-Tsamaniyah[2] yaitu penyebutan huruf wau yang muncul setelah jumlah ketujuh yang artinya wau kedelapan. Ini berarti bahwa wau itu disebutkan kalau kalimat ma’thuf sesudahnya tidak termasuk dalam kalimat ma’thuf ‘alaih yang terletak sebelumnya. Ini menunjukkan perubahan makna antara ma’thuf dan ma’thuf ‘alaih. Hikmah lain dari pemisahan ini adalah orang-orang yang beriman dan saleh, sedangkan anjing mereka adalah hewan yang najis, sehingga tidak pantas jika anjing itu disebutkan bersama-sama dengan mereka.

 

· Jumlah Pasti Lamanya Tidur Pemuda Kahfi

 

Adapun tentang masa Ashhabul Kahfi tinggal di gua, Al-Qur’an juga memberitahukan bahwa tidurnya para pemuda Ashhabul Kahfi sangat lama. Sedang, cara menghitung masa itu berbeda antara perhitungan Qomariyah dan perhitungan Syamsiyah. Ayat selanjutnya memberitahukan bahwa:

 

وَلَبِثُوا فِي كَهْفِهِمْ ثَلَاثَ مِئَةٍ سِنِينَ وَازْدَادُوا تِسْعًا (25)

 

Artinya: “Dan mereka tinggal dalam gua mereka tiga ratus tahun dan ditambah sembilan tahun (lagi)”. (QS. Al-Kahfi [18]: 25)

 

Kata مِئَةٍ di sini di-tanwin dan kata سِنِينَ sebagai tamyiz atau penjelas yang menjelaskan kata-kata 300. Seandainya tidak ada kata سِنِينَ, maka kita tidak tahu 300 apa? 300 hari, minggu atau tahun?

 

Para mufassir zaman dahulu dan sekarang berpendapat bahwa Ashhabul Kahfi tinggal di gua selama 300 tahun menurut perhitungan matahari dan menjadi 309 tahun menurut perhitungan bulan. 9 tahun itulah yang menjadi selisih perbedaan antara dua versi perhitungan: matahari dan bulan.

 

Bagaimana angka 9 tahun itu terjadi?

 

Seorang ahli Sejarah Islam modern, Ahmad Adil Kamal dalam bukunya, Jadawil At-Taqwim Al-Milaad Al-Muqabil Li At-Taqwim Al-Hijri, seperti yang dikutip oleh Shalah Khalidy mengatakan bahwa 1 hari dalam bulan Syamsiyah lebih lama dibanding 1 hari dalam bulan Qamariyah, yaitu selama 3 menit 55, 9 detik. Dan 1 hari menurut bangsa Arab dimulai dari terbenamnya matahari sampai terbenamnya matahari pada hari berikutnya. Jadi, 1 bulan Qamariyah terdiri atas 29,530588 hari. Sedangkan 1 tahun Qamariyah terdiri atas 354 hari 8 jam 48 menit 36 detik. Selisihnya denngan 1 tahun Syamsiyah sekitar 11 hari. Di mana 1 tahun Syamsiyah terdiri atas 365 hari 6 jam 9 menit dan 9,5 detik. Berarti, perbedaan antara dua versi perhitungan itu dalam 1 tahun adalah 10 hari 21 jam 1 menit. Ini kalau 1 tahun, kalau 100 tahun berarti 1087 hari 13 jam 4 menit. Sama dengan 3 tahun 24 hari 11 jam 16 menit. Dan kalau 300 tahun menjadi 9 tahun 73 hari 9 jam 48 menit.[3]

 

Dengan demikian, perbedaan atau selisih antara dua perhitungan itu tidak tepat 9 tahun, sebagaimana yang disebut dalam Al-Qur’an, karena selisihnya lebih dari 73 hari.

 

Mengenai hal ini, mayoritas ulama tidak menjadi masalah karena kurang dari seperempat tahun dan sudah menjadi kebiasaan bangsa Arab untuk tidak menyebut bilangan pecahan yang kurang dari setengah. Karena itu, Al-Qur’an tidak mengatakan, “dan ditambah sembilan seperempat (tahun)” atau “sembilan tahun tujuh puluh tiga hari”[4]

 

Tema-tema Pokok Surah Al-Kahfi

 

Sayyid Quthb dalam tafsirnya menyatakan bahwa thema-thema pokok surah Al-Kahfi ialah: perbaikan Aqidah, perbaikan pola pikir dan pandangan serta perbaikan nilai-nilai dengan parameter Aqidah.

 

1. Perbaikan Aqidah

 

Perbaikan aqidah ditetapkan konteks surah pada permulaan dan penutup surah. Pada permulaan surah Al-Kahfi, Allah berfirman bahwa Al-Qur’an untuk memperingatkan kepada orang-orang yang berkata: اتَّخَذَ اللَّهُ وَلَدًا ("Allah mengambil seorang anak.") Mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang hal itu, begitu pula nenek moyang mereka. Alangkah buruknya kata-kata yang keluar dari mulut mereka; mereka tidak mengatakan (sesuatu) kecuali dusta.” (QS. Al-Kahfi [18]: 1 – 5). Sedang pada penutup surah, Allah berfirman: قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَى إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا (110) “Katakanlah: Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: "Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa." Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya." (QS. Al-Kahfi [18]: 110)

 

Demikianlah, permulaan dan penutup surah serasi dalam menyatakan keesaan Allah dan menolak kemusyrikan, menetapkan wahyu dan membedakan secara mutlak antara Dzat Ilahi dan dzat-dzat segala sesuatu yang baru[5]. Konteks surah menyentuh tema ini berkali-kali dalam berbagai bentuk. Misalnya dalam kisah Ashhabul Kahfi dan dalam kisah pemilik kebun.

 

· Dalam Kisah Ashhabul Kahfi

 

Di dalam kisah Ashhabul Kahfi para pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka berkata: وَرَبَطْنَا عَلَى قُلُوبِهِمْ إِذْ قَامُوا فَقَالُوا رَبُّنَا رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ لَنْ نَدْعُوَ مِنْ دُونِهِ إِلَهًا لَقَدْ قُلْنَا إِذًا شَطَطًا (14) } "Tuhan kami adalah Tuhan seluruh langit dan bumi; kami sekali-kali tidak menyeru Tuhan selain Dia, sesungguhnya kami kalau demikian telah mengucapkan perkataan yang amat jauh dari kebenaran." (QS. Al-Kahfi [18]: 14).

 

Ucapan mereka dikomentari oleh QS. Al-Kahfi [18]: 26, yaitu: قُلِ اللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا لَبِثُوا لَهُ غَيْبُ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ أَبْصِرْ بِهِ وَأَسْمِعْ مَا لَهُمْ مِنْ دُونِهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلا يُشْرِكُ فِي حُكْمِهِ أَحَدًا (26) Tak ada seorang pelindungpun bagi mereka selain dari pada-Nya; dan Dia tidak mengambil seorangpun menjadi sekutu-Nya dalam menetapkan keputusan."

 

· Dalam Kisah Pemilik Kebun

 

Di dalam kisah Pemilik Kebun, yang beriman berkata kepada temannya yang kafir: قَالَ لَهُ صَاحِبُهُ وَهُوَ يُحَاوِرُهُ أَكَفَرْتَ بِالَّذِي خَلَقَكَ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ مِنْ نُطْفَةٍ ثُمَّ سَوَّاكَ رَجُلًا (37) لَكِنَّا هُوَ اللَّهُ رَبِّي وَلَا أُشْرِكُ بِرَبِّي أَحَدًا (38) “Apakah kamu kafir kepada (Tuhan) yang menciptakan kamu dari tanah, kemudian dari setetes air mani, lalu Dia menjadikan kamu seorang laki-laki yang sempurna? Tetapi aku (percaya bahwa): Dialah Allah, Tuhanku, dan aku tidak mempersekutukan seorangpun dengan Tuhanku.” (QS. Al-Kahfi [18]: 37 - 38).

 

Sebagai jawaban, Allah ber-kalam: وَلَمْ تَكُنْ لَهُ فِئَةٌ يَنْصُرُونَهُ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَمَا كَانَ مُنْتَصِرًا (43) هُنَالِكَ الْوَلَايَةُ لِلَّهِ الْحَقِّ هُوَ خَيْرٌ ثَوَابًا وَخَيْرٌ عُقْبًا (44) “43. Dan tidak ada bagi dia segolonganpun yang akan menolongnya selain Allah; dan sekali-kali ia tidak dapat membela dirinya. 44. Di sana pertolongan itu hanya dari Allah Yang Hak. Dia adalah sebaik-baik Pemberi pahala dan sebaik-baik Pemberi balasan.” (QS. Al-Kahfi [18]: 43 - 44).

 

Perbaikan cara pandang dan pikir tampak pada penolakan terhadap dakwahan-dakwahan kaum musyrikin yang mengatakan sesuatu hal yang tidak mereka ketahui dan orang-orang yang tidak bisa mengajukan satu argumen pun apa yang mereka ucapkan. Sementara apa yang tidak diketahuinya hendaknya diserahkan urusannya kepada Allah[6].

 

2. Koreksi Cara Pandang dan pikir

 

Koreksi surah Al-Kahfi terhadap cara pandang dan pikir ini, bisa dilihat pada permulaan surah, kisah Ashhabul Kahfi dan pada kisah Khidhir. Pada permulaan surah, Allah menyatakan tentang diturunkannya Al-Qur’an yaitu “dan untuk memperingatkan kepada orang-orang yang berkata: "Allah mengambil seorang anak”, Allah mengoreksi cara pandang dan pola pikir mereka itu dengan firman-Nya: مَا لَهُمْ بِهِ مِنْ عِلْمٍ وَلَا لِآبَائِهِمْ كَبُرَتْ كَلِمَةً تَخْرُجُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ إِنْ يَقُولُونَ إِلَّا كَذِبًا (5) “Mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang hal itu, begitu pula nenek moyang mereka. Alangkah buruknya kata-kata yang keluar dari mulut mereka; mereka tidak mengatakan (sesuatu) kecuali dusta.” (QS. Al-Kahfi [18]: 5).

 

· Dalam Kisah Ashhabul Kahfi

 

Pada kisah Ashhabul Kahfi, ada orang yang akan mengatakan bahwa jumlah mereka adalah tiga orang yang keempat adalah anjingnya. Dan yang lain mengatakan bahwa jumlah mereka adalah lima orang yang keenam adalah anjingnya. Dan yang lain lagi mengatakan bahwa jumlah mereka adalah tujuh orang yang ke delapan adalah anjingnya. Lalu Allah mengoreksi cara pandang dan pola pikir mereka dengan firman-Nya: قُلْ رَبِّي أَعْلَمُ بِعِدَّتِهِمْ مَا يَعْلَمُهُمْ إِلَّا قَلِيلٌ فَلَا تُمَارِ فِيهِمْ إِلَّا مِرَاءً ظَاهِرًا وَلَا تَسْتَفْتِ فِيهِمْ مِنْهُمْ أَحَدًا (22) “Katakanlah: "Tuhanku lebih mengetahui jumlah mereka; tidak ada orang yang mengetahui (bilangan) mereka kecuali sedikit." Karena itu janganlah kamu (Muhammad) bertengkar tentang hal mereka, kecuali pertengkaran lahir saja dan jangan kamu menanyakan tentang mereka (pemuda-pemuda itu) kepada seorangpun di antara mereka. (QS. Al-Kahfi [18]: 22).

 

· Dalam Kisah Khidhir

 

Begitu juga dengan kisah Khidhir, setelah dia menjelaskan beberapa tindakannya yang dianggap salah seperti merusak perahu, membunuh anak kecil dan membangun dinding yang hendak roboh, Khidhir berkata kepada Musa AS sebagai koreksi cara pandang dan pola pikirnya, bahwa: وَمَا فَعَلْتُهُ عَنْ أَمْرِي ذَلِكَ تَأْوِيلُ مَا لَمْ تَسْطِعْ عَلَيْهِ صَبْرًا (82) “...Dan bukanlah aku melakukannya itu menurut kemauanku sendiri. Demikian itu adalah tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya." (QS. Al-Kahfi [18]: 82).

 

3. Koreksi Nilai-nilai Dengan Parameter Akidah

 

Adapun koreksi nilai-nilai dengan parameter aqidah dipaparkan di beberapa tempat terpisah, yang seluruhnya mengembalikan nilai-nilai yang hakiki kepada iman dan amal shaleh dan mengecilkan nilai-nilai duniawi yang memesona mata[7]

 

Beberapa ayat dalam surah Al-Kahfi mengoreksi nilai-nilai dengan parameter Aqidah, di antaranya: pada awal-awal surah, pada kisah Ashhabul Kahfi, kisah pemilik kebun dan pada akhir surah Al-Kahfi.

 

· Dalam Awal Surah Al-Kahfi

 

Pada awal-awal surah Al-Kahfi yakni pada ayat 7 dan 8 dinyatakan bahwa seluruh perhiasan yang ada di bumi ini dijadikan sebagai ujian dan cobaan dan ia akan berakhir pada kemusnahan sebagaimana firman-Nya: إِنَّا جَعَلْنَا مَا عَلَى الْأَرْضِ زِينَةً لَهَا لِنَبْلُوَهُمْ أَيُّهُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا (7) وَإِنَّا لَجَاعِلُونَ مَا عَلَيْهَا صَعِيدًا جُرُزًا (8) “Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang di bumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya. Dan sesungguhnya Kami benar-benar akan menjadikan (pula) apa yang di atasnya menjadi tanah rata lagi tandus.” (QS. Al-Kahfi: 7 – 8).

 

Dalam kisah tersebut dinyatakan bahwa para pemuda berkata sesudah mereka meninggalkan kaum mereka: وَإِذِ اعْتَزَلْتُمُوهُمْ وَمَا يَعْبُدُونَ إِلَّا اللَّهَ فَأْوُوا إِلَى الْكَهْفِ يَنْشُرْ لَكُمْ رَبُّكُمْ مِنْ رَحْمَتِهِ وَيُهَيِّئْ لَكُمْ مِنْ أَمْرِكُمْ مِرْفَقًا (16) “Dan apabila kamu meninggalkan mereka dan apa yang mereka sembah selain Allah, maka carilah tempat berlindung ke dalam gua itu, niscaya Tuhanmu akan melimpahkan sebagian rahmat-Nya kepadamu dan menyediakan sesuatu yang berguna bagimu dalam urusan kamu”. (QS. Al-Kahfi [18]: 16)

 

· Dalam Kisah Pemilik Dua Kebun

 

Dalam kisah pemilik dua kebun dilukiskan bagaimana orang mukmin punya ‘izzah dengan imannya dalam menghadapi harta, tahta dan perhiasan dan terhadap pemilik harta, tahta dan perhiasan tersebut dengan kebenaran dan menegurnya karena melupakan Allah: وَمَا أَظُنُّ السَّاعَةَ قَائِمَةً وَلَئِنْ رُدِدْتُ إِلَى رَبِّي لَأَجِدَنَّ خَيْرًا مِنْهَا مُنْقَلَبًا (36) قَالَ لَهُ صَاحِبُهُ وَهُوَ يُحَاوِرُهُ أَكَفَرْتَ بِالَّذِي خَلَقَكَ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ مِنْ نُطْفَةٍ ثُمَّ سَوَّاكَ رَجُلًا (37) لَكِنَّا هُوَ اللَّهُ رَبِّي وَلَا أُشْرِكُ بِرَبِّي أَحَدًا (38) وَلَوْلَا إِذْ دَخَلْتَ جَنَّتَكَ قُلْتَ مَا شَاءَ اللَّهُ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ إِنْ تَرَنِ أَنَا أَقَلَّ مِنْكَ مَالًا وَوَلَدًا (39) فَعَسَى رَبِّي أَنْ يُؤْتِيَنِ خَيْرًا مِنْ جَنَّتِكَ وَيُرْسِلَ عَلَيْهَا حُسْبَانًا مِنَ السَّمَاءِ فَتُصْبِحَ صَعِيدًا زَلَقًا (40) أَوْ يُصْبِحَ مَاؤُهَا غَوْرًا فَلَنْ تَسْتَطِيعَ لَهُ طَلَبًا (41) “Dan mengapa kamu tidak mengatakan waktu kamu memasuki kebunmu "maasyaallaah, laa quwwata illaa billaah (sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah). Sekiranya kamu anggap aku lebih sedikit darimu dalam hal harta dan keturunan, maka mudah-mudahan Tuhanku, akan memberi kepadaku (kebun) yang lebih baik dari pada kebunmu (ini); dan mudah-mudahan Dia mengirimkan ketentuan (petir) dari langit kepada kebunmu; hingga (kebun itu) menjadi tanah yang licin; atau airnya menjadi surut ke dalam tanah, maka sekali-kali kamu tidak dapat menemukannya lagi”. (QS. Al-Kahfi [18]: 37 - 41).

 

· Dalam Kisah Dzulkarnain

 

Dalam kisah Dzulkarnain disebutkan bahwa Dzulkarnain bukan karena statusnya sebagai raja. Tetapi ia disebutkan karena amal-amal shalihnya. Ketika ditawari oleh suatu kaum yang ditemukannya di antara dua gunung untuk membuatkan dinding yang melindungi mereka dari Ya’juj dan Ma’juj dengan imbalan sejumlah harta, Dzulkarnain menolak tawaran harta itu, karena kekuasaan yang diberikan Allah kepadanya lebih baik dari pada harta mereka[8]: قَالَ مَا مَكَّنِّي فِيهِ رَبِّي خَيْرٌ فَأَعِينُونِي بِقُوَّةٍ أَجْعَلْ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَهُمْ رَدْمًا (95) “Dzulkarnain berkata: "Apa yang telah dikuasakan oleh Tuhanku kepadaku terhadapnya adalah lebih baik, maka tolonglah aku dengan kekuatan (manusia dan alat-alat), agar aku membuatkan dinding antara kamu dan mereka”. (QS. Al-Kahfi [18]: 95).

 

Bahkan, ketika dinding itu telah selesai dibangun, Dzulkarnain mengembalikan urusan kepada Allah, bukan kepada kekuatan manusiawinya: قَالَ هَذَا رَحْمَةٌ مِنْ رَبِّي فَإِذَا جَاءَ وَعْدُ رَبِّي جَعَلَهُ دَكَّاءَ وَكَانَ وَعْدُ رَبِّي حَقًّا (98) “Dzulkarnain berkata: "Ini (dinding) adalah rahmat dari Tuhanku, maka apabila sudah datang janji Tuhanku, Dia akan menjadikannya hancur luluh; dan janji Tuhanku itu adalah benar.” (QS. Al-Kahfi [18]: 98).

 

Di akhir surah Al-Kahfi, konteks surah menetapkan bahwa manusia yang paling merugi amalnya adalah orang-orang yang mengingkari ayat-ayat Tuhan mereka dan perjumpaan dengan-Nya. Mereka tidak memiliki nilai meskipun mereka merasa telah berbuat baik: قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُمْ بِالْأَخْسَرِينَ أَعْمَالًا (103) الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا (104) أُولَئِكَ الَّذِينَ كَفَرُوا بِآيَاتِ رَبِّهِمْ وَلِقَائِهِ فَحَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فَلَا نُقِيمُ لَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَزْنًا (105) “Katakanlah: "Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya? Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya. Mereka itu orang-orang yang telah kufur terhadap ayat-ayat Tuhan mereka dan (kufur terhadap) perjumpaan dengan Dia[9], maka hapuslah amalan-amalan mereka, dan Kami tidak mengadakan suatu penilaian bagi (amalan) mereka pada hari kiamat.” (QS. Al-Kahfi [18]: 103 - 105).

 

Demikianlah surah Al-Kahfi dengan berbagai keistimewaan dan kisah-kisahnya yang berisi koreksi terhadap aqidah, pandangan dan pola pikir serta koreksi terhadap nilai-nilai dengan parameter aqidah. Kisah-kisahnya mengadung pelajaran dan nasihat untuk direnungkan.

 

 

 

 

[1] Shalah Al-Khalidy, Kisah-kisah Al-Qur’an Pelajaran Dari Orang-orang Terdahulu, terj. Setiawan Budi Utomo, (Jakarta: Gema Insani Press, 1420 H/ 2000 M h. 80

[2] Wau seperti ini juga terdapat dalam sejumlah tempat dalam Al-Qur’an, di antaranya ialah dalam QS. At-Taubah [9]: 112. Begitu juga dengan QS. At-Tahrim [66]: 5.

[3] Shalah Al-Khalidy, Kisah-kisah Al-Qur’an Pelajaran Dari Orang-orang Terdahulu, h. 100.

[4] Shalah Al-Khalidy, Kisah-kisah Al-Qur’an Pelajaran Dari Orang-orang Terdahulu, h. 101.

[5] Sayyid Quthb, Tafsîr Fî Zhilâl al-Qur’an, Fî Dzilâl al-Qur’an, terj. M. Misbah dan Aunur Rafiq Shaleh Tahmid, Jakarta: Robbani Press, 2009, h. 165.

[6] Sayyid Quthb, Tafsîr Fî Zhilâl al-Qur’an, h. 166.

[7] Sayyid Quthb, Tafsîr Fî Zhilâl al-Qur’an, h. 167.

[8] Sayyid Quthb, Tafsîr Fî Zhilâl al-Qur’an, h. 175.

[9] Maksudnya: tidak beriman kepada pembangkitan di hari kiamat, hisab dan pembalasan. (Foot note 896, Al-Qur’an Dan Terjemahnya, Kemenag RI)