Selasa, 14-05-2019 | 11:04:02

Mengembalikan Nilai-Nilai Religius Pelajar Era Mileneal

Oleh : H. Ade Irawan

Suka atau tidak perubahan pola dan system masyarakat begitu cepat, tak terkecuali menimpa generasi muda saat ini. Hal ini disebabkan banyak hal mulai dari perkembangan teknologi IT, percepatan pembangunan dan perubahan struktur dalam masyarakat baik di perkotaan maupun dipedesaan. Perubahan yang begitu cepat ini terus terang mulai merangsek pada dunia pendidikan. Dimana banyak nilai pendidikan karakter yang terus tergerus sehingga menjadi tantangan tersendiri bagi pengelola pendidikan khususnya pada pendidikan di madrasah-madrasah baik negeri maupun swasta.

Saat ini, tak jarang kita melihat banyak pelajar yang mulai meninggalkan nilai-nilai religious yang padahal nilai-nilai itu menjadi kebangaan orangtua maupun guru. Misalnya saja, anak-anak sudah mulai hilang rasa kesopanan terhadap orang yang lebih tua, lebih banyak bermain medsos dibanding membaca Al quran atau pelajaran agama dan banyak contoh kecil lainnya yang mulai hilang pada generasi muda saat ini. Sedangkan dampak negatif lainnya lahirnya generasi instan, dekadensi moral, konsumerisme, bahkan permisifisme. Selain itu dampak negatif lainnya adalah muncul tindakan kekerasan, penyalahgunaan obat-obat terlarang, seks bebas, dan kriminalitas. Semua hal negatif tersebut berujung pada hilangnya karakter bangsa.

Tentu ini menjadi keprihatinan kita, padahal pendidikan karakter menjadi concern pemerintah, atau siapapun yang merasa peduli dengan dunia pendidikan di Indonesia. Semua sepakat penguatan pendidikan karakter yang didalamnya ada nilai-nilai religius menjadi jati diri sebuah bangsa dan menjadi penopang kemajuan disuatu bangsa.

Dalam nawacita disebutkan bahwa pemerintah akan melakukan revolusi karakter bangsa. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengimplementasikan penguatan karakter penerus bangsa melalui gerakan Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) yang digulirkan sejak tahun 2016. Bahkan, Sesuai arahan Presiden Joko Widodo, pendidikan karakter pada jenjang pendidikan dasar mendapatkan porsi yang lebih besar dibandingkan pendidikan yang mengajarkan pengetahuan. Untuk sekolah dasar sebesar 70 persen, sedangkan untuk sekolah menengah pertama sebesar 60 persen.

Maka program itu selaras dengan Al Quran dimana proses pendidikan karakter adalah Q.S Luqman ayat 12-24, Walaupun terdapat banyak ayat Al-Qur’an yang memiliki keterkaitan dengan pendidikan karakter, namun Q.S Luqman ayat 12-14 karena ayat ini mewakili pembahasan ayat yang memiliki keterkaitan makna paling dekat dengan konsep pendidikan karakter.

 

 

 

 

Allah SWT berfirman: “Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmah kepada Lukman, yaitu: "Bersyukurlah kepada Allah. Dan barang siapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barang siapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji".  Dan (ingatlah) ketika Lukman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan (Allah) sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kelaliman yang besar".  Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu”.

Dari beberapa dasar tersebut diatas, yang menjadi pertanyaan besarnya bagaimana kita bisa mengembalikan nilai-nilai karakter atau religus pada generasi muda kita yang saat ini sudah sangat habit dengan dunia medsos.

5 Nilai yang Dikembangkan Pemerintah Saat Ini

Lima nilai ini menjadi platform pengembangan dan pembentukan generasi Indonesia, kelima nilai ini diharapkan menjadi pintu masuk dalam mengembalikan berbagai dekandensi  masyarakat Indonesia, kelima nilai itu meliputi :

Nilai karakter religius mencerminkan keberimanan terhadap Tuhan yang Maha Esa yang diwujudkan dalam perilaku melaksanakan ajaran agama dan kepercayaan yang dianut, menghargai perbedaan agama, menjunjung tinggi sikap toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama dan kepercayaan lain, hidup rukun dan damai dengan pemeluk agama lain. Implementasi nilai karakter religius ini ditunjukkan dalam sikap cinta damai, toleransi, menghargai perbedaan agama dan kepercayaan, teguh pendirian, percaya diri, kerja sama antar pemeluk agama dan kepercayaan, anti perundungan dan kekerasan, persahabatan, ketulusan, tidak memaksakan kehendak, mencintai lingkungan, melindungi yang kecil dan tersisih.

Nilai karakter nasionalis merupakan cara berpikir, bersikap, dan berbuat yang menunjukkan kesetiaan, kepedulian, dan penghargaan yang tinggi terhadap bahasa, lingkungan fisik, sosial, budaya, ekonomi, dan politik bangsa, menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan diri dan kelompoknya. Sikap nasionalis ditunjukkan melalui sikap apresiasi budaya bangsa sendiri, menjaga kekayaan budaya bangsa, rela berkorban, unggul, dan berprestasi, cinta tanah air, menjaga lingkungan, taat hukum, disiplin, menghormati keragaman budaya, suku, dan agama.

Adapun nilai karakter integritas merupakan nilai yang mendasari perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya sebagai orang yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan, dan pekerjaan, memiliki komitmen dan kesetiaan pada nilai-nilai kemanusiaan dan moral. Karakter integritas meliputi sikap tanggung jawab sebagai warga negara, aktif terlibat dalam kehidupan sosial, melalui konsistensi tindakan dan perkataan yang berdasarkan kebenaran. Seseorang yang berintegritas juga menghargai martabat individu (terutama penyandang disabilitas), serta mampu menunjukkan keteladanan.

Nilai karakter mandiri merupakan sikap dan perilaku tidak bergantung pada orang lain dan mempergunakan segala tenaga, pikiran, waktu untuk merealisasikan harapan, mimpi dan cita-cita. Siswa yang mandiri memiliki etos kerja yang baik, tangguh, berdaya juang, profesional, kreatif, keberanian, dan menjadi pembelajar sepanjang hayat.

Nilai karakter gotong royong mencerminkan tindakan menghargai semangat kerja sama dan bahu membahu menyelesaikan persoalan bersama, menjalin komunikasi dan persahabatan, memberi bantuan/pertolongan pada orang-orang yang membutuhkan. Diharapkan siswa dapat menunjukkan sikap menghargai sesama, dapat bekerja sama, inklusif, mampu berkomitmen atas keputusan bersama, musyawarah mufakat, tolong menolong, memiliki empati dan rasa solidaritas, anti diskriminasi, anti kekerasan, dan sikap kerelawanan.

Dari kelima nilai itu, bisa kita renungkan apalagi saat ini kita tengah berada di bulan Ramadhan, bulan ramadhan menjadi momentum bagaimana kita sebagai pengelola pendiidkan khususnya dimadrasah untuk terus menguatkan proses kembalinya nilai-nilai religious yang ada pada anak.

Cara terkecil yang bisa dilakukan saat ini adalah dengan cara memberikan suri teladan yang baik, dimulai dengan “Ibda’ binafsik”, kemudian mengarahkan pada proses perbaikan pola pembelajaran keseharian secara kontinyu, dan memanfaatkan waktu dengan baik sesuai kaidah-kaidah pendidikan keagamaan yang selaras dengan kebutuhan pelajar di satuan pendidikan masing-masing.

Walaupun berat untuk mengaplikasnnya dan tidak mungkin cepat dan instan, hal ini tak lantas mengurungkan niat sebagai pendidik atau orang-orang yang concern dalam dunia pendidikan madrasah untuk terus berjuang mewujudkan pendidikan agama islam yang kuat. Jika dulu, ramadhan menjadi ajang pencarian anak terhadap ustad atau guru dengan tanda-tangannya, tentu pola-pola baru dalam membentuk interaksi anak agar lebih mengarah pada proses nilai religious ini patut dibuat secara factual sesuai tingkatan pendidikan di Indonesia mulai dari dasar, menengah dan atas. (*)