Jumat, 08-03-2019 | 09:10:24

Perlunya Pemahaman Literasi Informasi Bagi Humas Pemula

Utik Kaspani

Oleh : Utik Kaspani

(Guru MTs. Nurul Huda Palabuhanratu)

Mengemban amanah menjadi seorang humas di sebuah madrasah tentu merupakan sebuah kehormatan tersendiri bagi penulis. Amanah dan tanggung jawab yang diembankan tentu juga mempunyai konsekuensi dan resiko tersendiri yang harus siap ditanggung. Termasuk kembali mau dan harus belajar banyak hal yang berkaitan dengan dunia kehumasan itu sendiri.

Sebagai seorang pembelajar, tentu banyak hal-hal baru yang akan kita temui diluar sana yang sebelumnya mungkin belum pernah kita jumpai. Butuh niat dan keseriusan tersendiri serta motivasi yang kuat dalam menggali banyak hal disela-sela waktu tugas utama yang pasti, yaitu mengajar.

Humas dalam sebuah organisasi tentu akan menjadi rujukan informasi dan jembatan terjalinnya hubungan yang harmonis antara pihak madrasah dengan pihak luar maupun pihak internal madrasah sendiri. Hal ini sesuai dengan peran dan fungsi humas.

Humas memiliki peran ganda dalam kinerjanya yaitu fungsi internal dan eksternal. Menurut M. Linggar Anggoro dalam bukunya Teori dan Profesi Kehumasan (2001), kegiatan humas internal lebih kepada membangun komunikasi dan distribusi informasi ke dalam personal di lembaganya. Sementara fungsi eksternal humas lebih bersentuhan dengan pihak luar.

Tugas humas eksternal seperti membina, mengatur dan mengembangkan hubungan dengan komite sekolah, membina pengembangan antara sekolah dengan lembaga pemerintahan, dunia usaha dan lembaga sosial lainnya.

Sementara tugas internal humas lebih pada fungsi fasilitasi informasi dan komunikasi warga sekolah, khususnya sesama guru, guru dengan TU dan guru dengan kepala madrasah. Lebih lanjut humas juga dituntut untuk memiliki kemampuan dalam memahami dirinya sendiri dan orang lain, memotivasi, mempengaruhi, dan menghargai orang lain. Ini merupakan pekerjaan rumah terbesar penulis yang harus penulis kerjakan.

Berbicara tentang literasi, tentu hal ini seharusnya dan sudah selayaknya bukan menjadi barang baru dan aneh bagi telinga seorang humas. Namun pada faktanya, kembali pada penjelasan diatas bahwa banyak hal yang memang harus dipelajari bagi seorang humas  pemula seperti penulis.

Literasi sebenarnya bukanlah suatu istilah baru, hanya saja bagi sebagian orang termasuk penulis, kata literasi masih cukup asing akan maknanya. Masih asingnya kata literasi ini bagi penulis khususnya mengingat kata tersebut memang memiliki makna yang komplek dan dinamis, sementara masih banyak orang pula yang terus mendefinisikannya dengan berbagai cara serta sudut pandang tersendiri.

Berbicara tentang literasi, mungkin perlu sedikit mengupas tentang apa literasi itu sendiri. Literasi adalah seperangkat kemampuan dan keterampilan  individu dalam membaca, menulis, berbicara, menghitung dan memecahkan masalah pada tingkat keahlian tertentu yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari.

Istilah literasi sudah mulai digunakan dalam skala yang lebih luas tetapi tetap merujuk pada kemampuan atau kompetensi dasar literasi yakni kemampuan membaca serta menulis. Hal ini kembali pada makna awal literasi sebagai upaya atau gerakan untuk  memberantas bebas buta aksara supaya bisa memahami semua konsep secara fungsional.

Literasi dasar merupakan suatu kemampuan untuk membaca, mendengarkan, berbicara, menulis serta juga menghitung. Literasi dasar ini bertujuan untuk dapat mengoptimalkan serta meningkatkan dalam hal menulis, membaca, berbicara, menghitung serta juga mendengarkan. Implementasi literasi dasar yang penulis pahami pun masih terus diupayakan dalam pemahannya.

Berkaitan dengan tugas tambahan penulis sebagai seorang humas di madrasah, maka penulis akan menitik beratkan pada lirasi informasi yang erat kaitannnya dengan dunia kehumasan yang baru saja coba penulis geluti.

Literasi informasi juga sangat diperlukan dalam setiap aspek kehidupan manusia, dan itu berlangsung seumur hidup. Literasi informasi menambah kompetensi masyarakat dengan mengevaluasi, mengorganisir dan menggunakan informasi.

Kembali dalam rangka muhasabah diri. Sejatinya manusia adalah pembelajar sejati, pembelajar sepanjang hayat. Memasuki era Revolusi Industri 4.0 dimana seakan-akan benar dunia dalam genggaman. Semua hal berkaiatan dengan urusan manusia dapat dikendalikan dan dilakukan secara digital. Termasuk maraknya dan mudahnya dalam mengakses informasi dari belahan dunia manapun.

Kemampuan berliterasi informasi/media mutlak diperlukan sebagai bagian aksi keprihatinan maraknya peredaran ujaran, ajaran yang berbau sara, porografi, porno aksi bahkan aksi perundungan (bullying). Terlalu mudah dalam mengakses informasi karena kecanggihan alat yang dlmiliki hingga tanpa ada aksi untuk melakukan cek ricek terlebih dahulu.

Sebagai seorang humas yang masih dapat dikatakan baru seumur jagung, tentu kompetensi selaku humas harus terus ditingkatkan. Misalnya dalam kemampuan beriliterasi informasi. Kemampuan menjadi seorang humas hendaknya minimal bisa dalam memahami bacaan dan belajar membuat tulisan. Kemampuan membaca dan daya baca harus pula terus ditingkakan. Tidak terhenti hanya sebatas kemampuan membaca, kemudian ditingkatkan dalam kemampuan menulisnya.

Sebagai seorang humas, ada kalanya penulis harus membuat keterangan baik dalam bentuk berita ataupun press realese. Kemampuan ini pun bisa dipelajari. Tidak mudah memang, namun bukan berarti sulit.

Mudahnya dalam menyebarkan informasi atau berita yang masih simpang siur kebenarannya (hoax) adalah sebuah permasalahn yang akhir-akhir ini tengah marak ditengah masyarakat. Hal ini terjadi karena pengaruh media sosial yang marak beredar di masyarakat, hingga berlomba-lomba ingin menjadi yang tercepat. Bijak dalam implementasi bermedia sosial, bijak dalam menanggapi sebuah hambatan dan kendala, serta bijak dalam menyikapi sebuah permasalahan. Kiranya itulah sedikit makna dan manfaat yang baru dapat penulis terapkan dalam proses pembelajaran diri sebagai humas dalam memaknai manfaat berliterasi informasi.

Dengan pemahaman literasi informasi bagi seorang humas sekolah, dharapkan salah satunya dapat mampu berlaku bijak dalam bermedia. Dalam upaya mensosialisasikan sebuah program atau tujuan yang baik tentu tak dapat dilakuakan dengan sekejab. Butuh waktu dan proses untuk dapat diterima khalayak (warga sekolah), termasuk ke para peserta didik yang ada  di sekolah.

Butuh konsistensi dan niat yang tidak boleh padam dalam mengkampanyekan bijak dalam bermedia, sebagai bagian dari gerakan literasi informasi. Pro dan kontra pasti akan selalu ada. Hal yang wajar dan lumrah yang acap kali bisa kita rasakan. Namun, sebagai prbadi seorang humas, penulis akan terus mencoba dari hal-hal kecil nan sederhana terlebih dahulu. Semoga dengan adanya literasi informasi khususnya literasi media bagi penulis yang seorang humas pemula, tidak hanya dapat mendapatkan ilmu yang bermanfaat namun lebiih lanjut dapat memaknai dan mendapatkan lebih jauh baik tersurat meupun tersirat makna litersi informasi itu sendiri.

Bijak dalam bermedia, terutama bermedia sosial semata-mata bukan hanya sekedar ikut-ikutan trend yang sedang marak, namun juga bisa menjadikan manfaat dan berkat bagi sesama. Jangan sampai kita yang dikendalikan oleh arus informasi, namun kita lah sang pengendali arus informasi itu sendiri. Melek literasi informasi, bijak dalam bermedia hingga dapat menjadikan berkah dan manfaat bagi yang lain. Dunia tidak saja dalam genggaman, namun dunia telah berada diujung jari...semoga penulis dapat terus meningkatkan kompetensi mutu dalam hal literasi informsi ini.