Rabu, 06-03-2019 | 08:32:32

MENULIS BERBASIS IKHLAS

Agus Nana Nuryana, M.M.Pd Pengurus PGM Indonesia Kecamatan Ciawi Tasikmalaya

Kegiatan menulis bagi sebagian orang adalah aktifitas yang sulit dan kadang menjemukan. Alasan ini adalah yang paling sering dilontarkan oleh kebanyakan orang yang tidak punya tuntutan untuk menulis, bahkan oleh orang yang seharusnya melakukan aktifitas menulis.

Melakukan kegiatan menulis di zaman milenial yang serba berbasis teknologi bukan lagi hal yang sulit karena bisa dilakukan dimana pun dan kapan pun dengan menggunakan peralatan yang super mudah dan canggih. Namun sepertinya walau didukung dengan kemudahan yang disediakan oleh teknologi, tidak serta merta juga orang bisa menulis.

Tak terkecuali juga bagi seseorang yang semestinya tidak bisa dilepaskan dari kegiatan menulis seperti seorang akademisi, tidak semua diantara mereka yang terbiasa melakukan kegiatan menulis. Berbagai alasan kadang terlontar ketika seorang akademisi ditanya kenapa tidak menulis, dan alasan paling klasik adalah karena tidak punya kemampuan untuk menulis.

Kemampuan menulis, seperti halnya kegiatan lain perlu dilatih agar bisa terbiasa. Manusia ditakdirkan oleh Alloh sebagai makhluk terbaik diantara makhluk-makhluk yang lain dituntut untuk menjadi manusia pembelajar dari sejak dalam kandungan sampai masuk ke liang lahat.

Kegiatan belajar inilah yang memungkinkan seseorang untuk bisa melakukan apapun termasuk menulis. Maka ketika kita ingin bisa menulis maka menulislah! Sebab belajar menulis yang paling efektif adalah dengan menulis. Bisa dibayangkan seandainya seorang manusia yang ketika kecilnya tidak mau belajar berjalan, maka sampai kapanpun maka dia tidak akan bisa jalan.

Menulis adalah salah satu upaya untuk mentransfer pengetahuan yang ada dalam otak kedalam bentuk tulisan agar pengetahuan tersebut bisa dibaca dan dipelajari oleh orang lain, sehingga pengetahuan tersebut bisa bermanfaat bagi banyak orang. Seseorang yang berupaya untuk mentransfer pengetahuan lewat tulisan tentu tidak begitu saja menuangkan gagasan dalam bentuk tulisan namun dia harus memiliki dasar ilmu yang dipelajari, sehingga apa yang dituliskan bisa dipertanggungjawabkan. 

Proses pencarian ilmu inilah yang menjadi sangat penting ketika seseorang ingin menuangkan gagasan dalam bentuk tulisan, mereka dipaksa harus mencari sumber informasi yang dibutuhkan untuk disampaikan kembali dalam bentuk karya tulis. Jadi intinya kegiatan menulis harus dibarengi dengan kegiatan membaca.

Kegiatan menulis dan membaca bisa diibaratkan sebagai pasangan suami-istri dalam rumah tangga yang satu dengan lainnya saling melengkapi. Oleh karena itu seseorang yang rajin menulis, maka harus rajin membaca, sebab ide-ide yang dipaparkan lewat tulisan itu sebagiannya adalah informasi dari hasil membaca dan mungkin ditambah dengan pengalamannya secara pribadi. 

Perlu perjuangan yang berat untuk bisa menuangkan gagasan dalam bentuk tulisan, namun hal ini menjadi cara yang baik agar manusia mau terus belajar. Perlu keikhlasan dalam melaksanakannya, sebab hasil jerih payah kadang tidak sebanding dengan hasil 'materi' yang didapat.

Profesi sebagai penulis mungkin tidak banyak orang yang menginginkan mengingat beban berat yang harus ditempuhnya, namun ada kepuasan tersendiri yang dirasakan oleh seorang penulis yaitu ketika tulisannya mendapatkan apresiasi dari pembacanya, tidak mesti berbentuk 'materi' namun juga bisa berupa tanggapan memuaskan dari orang yang membaca tulisan tersebut.

Saya berpendapat bahwa menulis harus diniatkan ibadah dan bersedekah, kalau orang kaya bisa bersedekah dengan hartanya yang melimpah, maka seorang penulis bersedekah dengan ilmunya yang pahala dari keduanya sama saja kalau niatnya ikhlas karena Alloh swt.

Kalau kita menulis sudah diniatkan beribadah yang harus dikerjakan dengan ikhlas, maka itu tidak akan jadi beban bagi para pelakunya malah mungkin akan sebaliknya menjadi penyemangat untuk terus berkarya, sebab keyakinan akan mendapatkan pahala terus mendorong untuk melakukan kegiatan menulis walaupun bisa saja hasil karyanya tersebut dikomersilkan.

Kegiatan menulis yang diawali dengan keikhlasan akan menghasilkan karya yang bermanfaat bagi orang lain, sebab tulisan tersebut tidak terbebani dengan hal-hal yang sifatnya materialistis. Sang penulis akan menuangkan gagasannya secara lugas dan all out tanpa ada tekanan dari pihak manapun baik internal maupun eksternal.

Belajar dari para ulama terdahulu ratusan  tahun yang lalu, mereka dengan ikhlas membukukan ilmunya dalam bentuk kitab-kitab yang sampai saat ini hasil karyanya masih digunakan. Walaupun hasil karyanya masih digunakan namun mereka tidak mendapatkan royalti dari ribuan bahkan jutaan kitab yang sudah diperbanyak. Namun walau pun demikian nama mereka tetap harum dan panjang umur karena masih dikenal oleh umat Islam sampai saat ini, dan itulah pahala yang mereka dapatkan yang tidak bisa dibandingkan dengan materi apapun.

Sungguh keikhlasan menebar ilmu melalui karya tulis ini memberikan manfaat yang tak terkira, manusia yang hidup ratusan bahkan ribuan tahun setelah ilmu itu dibukukan masih bisa menerima paedahnya padahal orang yang menulisnya sudah tidak ada. Mudah-mudahan kita bisa kita semua selalu diberikan keikhlasan dalam menebar kebaikan. Amin