Senin, 11-02-2019 | 07:58:38

Beratnya Disiplin Positif

Utik Kaspani

Oleh : Utik Kaspani

 (Guru MTs. Nurul Huda Palabuhanratu)

Madrasah kami baru saja mengenal apa yang dimaksud dengan madrasah ramah anak. Seperti halnya barang baru yang baru saja kami dengar, tentu banyak pertanyanan yang berkaitan dengan madrasah ramah anak. Dan baru pada awal tahun ajaran baru 2018/2019 ini, madrasah kami mensosialisasikan madrasah ramah anak. Dihadapan para wali siswa dan siswa yang hadir, kami mencoba mensosialisasikan apa itu madrasah ramah anak dan disiplin positif.

Mencoba untuk menyamakan pandangan dan segala hal yang berkaitan dengan konsep madrasah ramah anak adalah tujuan awal kami dalam hal ini. Berharap adanya keperdulian lebih dari para wali siswa dalam keterlibatannya dalam proses pembelajaran. Bahkan kami membuat perjanjian-perjanjian dengan wali siswa dalam hitam diatas putih yang dibubuhi materai sebagai penguat. Sebagai pendidik dan pengajar pun tentu kami membutuhkan perlindungan saat kami menjalani tugas. Meminimalisir segala ekses yang kemungkinan terjadi.

Di lingkup madrasah kami, hal semacam ini tentu sangat diperlukan untuk mensinergikan pemahaman madrasah ramah anak dan disiplin positif. Apalagi bila mengingat keterlibatan wali siswa dalam proses pengajaran di madrasah sangatlah minim, jika tak boleh dikatakan acuh. Masih terlalu mempercayakan seutuhnya semua hal yang berkaitan dengan proses belajar mengajar pada pihak madrasah.

Saya adalah salah satu guru yang harus banyak belajar tentang apa itu madrasah ramah anak dan disiplin positif. Setelah mempelajari dengan seksama dan perlahan, baru saya pahami betapa harus banyak belajar mengerem, menahan  emosi dan mendinginkan kepala untuk mengahadapi segala keunikan dan kehebohan dari para peserta didik.

Saya adalah salah satu guru yang dulu sangat sering menghukum siswa dengan hukuman yang bersifat fisik. Bila ada siswa yang membuat gaduh atau pun tidak mengerjakan PR biasanya akan saya hukum berlari keliling lapangan. Tapi dengan adanya disiplin positif yang sekarang, stoooooop..... tahan.

Menghadapi para peserta didik dewasa ini memang diperlukan kesabaran dan strategi tersendiri bagi para pengajar. Dibiarkan tentu mereka akan semakin menjadi, didekati ada kalanya mereka justru terkadang malah bersikap kurang sopan.

Berkaitan dengan mata pelajaran IPA TERPADU yang saya ampu, sering kali para siswa terutama anak laki-laki ada saja kegaduhan dan keonaran yang mereka lakukan. Semua yang mereka lakukan semata-mata untuk menggagalakan proses belajar saat itu. Dan salah kegaduhan dan keonaran yang biasa mereka lakukan adalah kebiasaan ke kamar kecil dengan alasan ingin buang air kecil.

Dari yang saya pelajari, kebiasaan siswa laki-laki ini pada dasarnya hanyalah upaya mereka agar membuat guru menjadi marah. Kalau guru marah, maka pembelajaran dipastikan tidak akan berjalan dengan baik. Atau bahkan pelajaran hari itu akan tidak berjalan, karena hanya akan berisi amarah dari guru.

Hal ini saya amati dari pengalaman sendiri ketika berada di kelas, ataupun dari cerita-cerita sesama rekan guru. Termasuk yang saya alami sendiri. Ketika seorang murid minta izin untuk ke kamar mandi, saya berusaha untuk berbaik sangka. Maka saya izinkan. Untuk kedua kalinya selang beberapa saat setelah ia pergi ke kamar mandi, murid ini masih juga minta izin untuk pergi ke kamar mandi. “Bu, bade ka cai (Bu, mau ke kamar mandi..), saya pun memberikan izin lagi. Dengan tetap berfikiran positif, barangkali memang tadi kencing nya belum tuntas.

Ternyata dua kali ke kamar mandi belum lah cukup dilakukan, kembali disela-sela saya menerangkan meteri hari itu, murid ini kembali meminta izin ke kamar mandi. “Bu, bade ka cai deui...sakeudap,”pintanya. Dengan santainya saya menjawab, “Yang lama aja ga apa-apa kok” ucap saya dengan senyum tipis menyungging. Tiba-tiba murid saya membalikkan badan kembali ke bangkunya. Saya perhatikan saja, tak ada lagi komentar  yang saya sampaikan, tiba-tiba murid saya ini kembali berdiri.

Dia berjalan kembali ke arah saya, sejurus kemudian sebuah pertanyaan dilontarkan. “Kunaon Ibu teu ambeuk (kenapa Ibu ga marah?)”, tanyanya... Dengan kembali tersenyum saya menjawab, “Apa Ibu harus marah? Kalau memang mau ke kamar kecil, ke kamar kecil saja,jawab saya ringan. Tiba-tiba murid ini kembali bersuara, Ahh... teu rame ah, Ibu na teu ambeukeun (ah.. ga rame, Ibunya ga marah).

Terpancing emosi, hingga membuat emosi seorang guru meledak adalah tujuan yang memang ingin dicapai. Pengendalian emosi dan pemahaman tentang skenario yang telah mereka rancang demi aksi sebuah penggalan proses belajar mengajar perlu untuk dipahami bagi seorang guru. Menyikapi dengan kepala dingin dan lebih banyak membangun komunikasi dua arah yang positif relatif akan lebih mudah membangun tingkat kesadaran para peserta didik. Menyampaikan konsekuensi logis dari segala hal yang dapat mereka akibatkan dari sikap yang tidak bertanggung jawab, akan lebih mudah dalam menciptakan suasana yang lebih kondusif.

Ternyata, apa yang dilakukannya semata hanya ingin membuat saya marah. Dan berharap, kalau saya sampai marah, maka pelajaran hari itu tidak akan tersampaikan. Untungnya ini lah pola yang sudah dapat saya pahami. Akhirnya pelajaran hari itu dapat berjalan sebagaimana mestinya.

Dari apa yang saya pelajari, saya mempunyai strategi untuk bisa memberikan pemahaman kepada peserta didik. Dengan mengajak mereka bicara, lebih memandang dan menyamakan mereka menjadi seorang kawan, ternyata hal ini lebih mudah untuk mengetuk hati mereka. Memang belum semua dapat seperti apa yang saya inginkan. Namun setidaknya, sekarang saya tidak perlu lagi untuk menarik otot leher untuk menyadarkan mereka.

Masih butuh waktu dan proses lagi untuk benar-benar bisa menyadarkan mereka. Terutama hal yang berkaiatan dengan adab sopan santun, dan kesadaran untuk tidak membuat keonaran. Karena apa yang mereka lakukan bisa berakibat juga pada yang lain. Membangun kesadaran memang bukan lah perkara mudah dan sepele. Butuh waktu lebih lama dalam berproses.

Akhirnya, saya  berkesimpulan bahwa tidak mudah untuk menjalankan disiplin positif. Begitu banyak hal dan ujian yang harus kami jalani demi terlaksananya disiplin positif. Tapi saya yakin bahwa kita mampu dan pasti bisa. Terlalu dini rasanya, untuk saya menyimpulkan bahwa disiplin positif yang kami lakukan berhasil. Karena belum cukup waktu yang lama untuk mengevaluasi program disiplin positif yang kami terapkan. Masih terlalu dini, masih seusia umur jagung. Semoga selalu ada jalan untuk niat yang baik...