Jumat, 08-02-2019 | 09:04:28

Jahe Instan, Life Skill Siswa Bidang Pembelajaran IPA Terpadu Di MTs. Nurul Huda Palabuhanratu

Utik Kaspani (Guru MTs. Nurul Huda)

Oleh : Utik Kaspani (Guru MTs. Nurul Huda)

Menjadi seorang guru di daerah pedesaan bukanlah sebuah pekerjaan yang tanpa tantangan. Mengajar dan mendidik sudah menjadi harga mutlak yang tak lagi bisa ditawar. Dan saya merasa, semua guru juga akan mengalami hal yang sama. Menjadi seorang guru mata pelajaran IPA TERPADU di daerah transisi seperti Desa Buniwangi tempat saya mengajar tentu merupakan tantangan tersendiri.

Kenapa demikian ?  Keberadaan sekolah di desa Buniwangi tentu memiliki karakter yang berbeda dengan sekolah yang ada di kota.  Perbedaan karakter ini disebabkan antara lain oleh adanya keterbatasan media pembelajaran, kemampuan siswa dalam memahami dan menerima mata pelajaran, kondisi lingkungan dan keluarga para siswa, rendahnya keterlibatan orang tua siswa dalam proses belajar di rumah yang itu terkadang harus terganggu akibat siswa harus meluangkan waktunya untuk membantu urusan-urusan keluarganya di rumah.  Meskipun tidak semua siswa terkena dampak, namun hal tersebut tak jarang akan mempengaruhi konsentrasi siswa dalam memahami dan mencerna pelajaran pada saat siswa di sekolah.

Selain itu, tidak halnya seperti daerah lain, tingkat melanjutkan ke jenjang sekolah yang lebih tinggi di Desa Buniwangi masih relatif rendah. Keterbatasan biaya menjadi salah satu faktor dan alasan utama bagi sebagian orang tua untuk tidak lagi melanjutkan jenjang pendidikan bagi putra-putrinya.

Untuk itu, saya selaku guru mata pelajran IPA TERPADU melakukan kegiatan pembelajaran dan lokalatih bagi para siswa tentang keterampilan mengolah jahe menjadi serbuk minuman jahe instan.  Pembelajaran life skill ini untuk memberikan bekal pengetahuan dan keterampilan kepada siswa jika suatu saat nanti tidak lagi melanjutkan jenjang pendidikannya.

Desa Buniwangi terletak di Kecamatan Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat. Mayoritas penduduknya bergama Islam yang taat dan relijius, dengan  suku Sunda sebagai penduduk asli.  Mata pencaharian penduduk desa ini sebagian besar sebagai petani, berkebun, pedagang, dan sebagian lagi berprofesi sebagai wirausahawan dan pegawai di instansi pemerintah maupun swasta.

Secara geografis Desa Buniwangi dikelilingi dengan kawasan hutan, yang sebagian besar merupakan kawasan hutan negara yang dikelola Perum Perhutani. Selain itu, juga terdapat kawasan hutan adat maupun hutan rakyat yang dikelola secara lestari oleh masyarakat.  Keberadaan kawasan hutan tersebut secara ekologi merupakan kawasan tangkapan air (catchment area) untuk memenuhi kebutuhan air rumah tangga dan pertanian baik bagi Desa Buniwangi maupun untuk desa-desa sekitarnya. 

Sebagai daerah penyangga kawasan hutan dengan fungsi hutan sebagaimana tersebut diatas, tentu keberadaan Desa Buniwangi secara geografis sangat diuntungkan sebagai desa pengembangan pertanian yang baik.  Selain berfungsi sebagai kawasan penyedia air, hutan-hutan di sekitar Desa Buniwangi juga memiliki manfaat sebagai kawasan penyedia bahan-bahan kebutuhan pangan dan obat-obatan tradisional yang memiliki nilai ekonomi bagi masyarakatnya.

Beberapa potensi kawasan hutan yang sering dimanfaatkan masyarakat antara lain jenis-jenis tumbuhan yang bermanfaat untuk lalapan makan seperti daun songomp, daun poh-pohan, lamtoro atau petai cina atau palanding, jengkol, rimpang muda tanaman jahe, kunyit dan beberapa jenis tumbuhan lalapan lainnya.  Jahe dan Kunyit khususnya, selain bermanfaat untuk lalapan juga merupakan tumbuhan yang memiliki khasiat obat herbal yang sudah lama dikenal lama oleh masyarakat sebagai alternatif pengobatan di masyarakat desa.

Dengan posisi dan potensi Desa Buniwangi tersebut, mendorong penulis untuk menjadikannya sebagai bahan pembelajaran life skill pada bidang pembelajaran IPA Terpadu kepada siswa di MTs Nurul Huda Palabuhan ratu.  Hal ini dimaksudkan agar para siswa mengetahui kondisi geografis desanya yang memiliki peranan penting sebagai penyangga kehidupan yang harus dilestarikan serta memiliki potensi ekonomi yang dapat dikembangkan sebagai alternatif usaha.

Berkaitan dengan kondisi para peserta didik di wilayah tempat saya mengajar, sebenarnya menyisakan sedikit bahan renungan dan kajian yang terus memerlukan alternatif pemecahan sebagai solusi yang mungkin dapat dilakukan. Salah satunya, sebagai guru yang mengampu mata pelajran IPA TERPADU saya selalu berupaya untuk mencari bahan pengetahuan yang sekiranya mampu membekali para peserta didik nanti untuk bekal kehidupan mereka di masa yang akan datang.

Berbekal dorongan dan inisiatif tersebut, saya yang mengampu mata pelajaran IPA Terpadu dalam rangka membangun upaya untuk mencari bahan pengetahuan yang sekiranya mampu membekali para peserta didik untuk bekal kehidupan mereka di masa yang akan datang.   

Tataguna pengelolaan hutan yang ada di Desa Buniwangi dikenal adanya istilah Leuweung Tutupan dan Leuweung Bukaan atau GarapanLeuweung Tutupan merupakan kawasan hutan yang oleh masyarakat ditetapkan dan dikelola sebagai kawasan hutan lindung. Fungsi lindung pada kawasan hutan ini untuk menjaga kawasan leuweung tutupan sebagai kawasan penyedia air, penyedia tumbuhan obat, kawasan perlindungan satwa dan kebutuhan masyarakat yang bersifat terbatas dalam pemanfaatannya.  Sedangkan Leuweung Bukaan atau Garapan, merupakan kawasan hutan yang oleh masyarakat setempat di cadangkan sebagai kawasan budidaya atau kawasan hutan yang dapat dimanfaatkan dengan tetap menjaga pola pengelolaannya secara lestari.

Pada kedua kawasan hutan tersebut, biasanya masyarakat memanfaatkan sebagai area untuk mencari dan melakukan budidaya tanaman dedaunan sebagai bahan makanan dan lalapan, jenis-jenis tumbuhan obat dan berbagai keperluan lainnya yang bersifat konsumtif untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.

Pengetahuan tentang tanaman obat sudah dikenal oleh masyarakat sejak dahulu dan menjadi sumber obat tradisional sejak lama. Namun pengetahuan itu hanya banyak dimiliki oleh para generasi tua.  Selain karena kurangnya minat generasi muda, minimnya para orang tua untuk mengenalkan jenis jenis tanaman obat kepada generasi muda menjadi salah satu sebab kurang populernya tanaman obat bagi generasi muda. 

Jahe sebagai salah satu tanaman yang banyak tumbuh pada kebun-kebun masyarakat di Buniwangi merupakan potensi yang harus diperkenalkan sebagai salah satu jenis tanaman yang berkhasiat untuk kesehatan.  Mengolah jahe menjadi produk minuman instan menjadi salah satu alternatif keterampilan yang harus diperkenalkan kepada siswa dalam rangka menciptakan produk minuman praktis, instan dan memiliki manfaat untuk kesehatan disamping jenis minuman berkhasiat obat yang sudah ada, seperti bandrek.

Tanah Sunda merupakan salah satu tanah nusantara yang kaya dengan  keberagaman akan kuliner khas daerahnya. Salah satu yang sudah sering kita dengar dan mungkin juga sudah sering kita konsumsi, yaitu bandrek. Bandrek adalah salah satu jenis minuman tradisional dari tatar Sunda yang dikonsumsi untuk meningkatkan kehangatan tubuh. Minuman ini biasanya dihidangkan pada saat cuaca yang dingin, seperti dikala hujan ataupun malam hari (wikipedia.org.). Minuman berbahan dasar jahe inilah yang menginspirasi penulis untuk menularkan sedikit ilmu yang penulis miliki tentang keterampilan mengolah jahe untuk dijadikan serbuk minuman instan jahe sebagai alternatif pilihan selain bandrek..

Jahe yang kita ketahui sebagai bumbu masak, ketersediannya cukup banyak dan mudah tumbuh pada kondisi tanah di Desa Buniwangi. Rasanya sangat disayangkan apabila hanya dimanfaatkan sebatas bumbu dapur saja. Selalin itu, nilai jual tanaman jahe akan lebih tinggi apabila diolah dalam bentuk lain, seperti serbuk jahe instan tersebut.

Pembelajaran life skill mata pelajaran IPA Terpadu melalui pengolahan jahe menjadi produk minuman instan jahe ini bertujuan; pertama; membangun inisiasi, motivasi, improvisasi penulis sebagai pengampu bidang pembelajaran IPA Terpadu untuk menciptakan inovasi dan kreasi yang atraktif dan produktif dalam pembelajaran mata pelajaran IPA Terpadu.

Kedua; kondisi dan letak geografis Desa Buniwangi yang cocok untuk budidaya tanaman jahe, dapat menghasilkan ketersediaan tanaman jahe sebagai bahan baku pembuatan minuman instan jahe yang bernilai ekonomi, dan tidak sekedar hanya dimanfaatkan untuk bumbu masak dan pemanfaatan lain yang terbatas.

Ketiga; memberikan bekal pengetahuan dan keterampilan yang bermanfaat untuk para peserta didik dikemudian hari, seandainya mungkin mereka tidak lagi melanjutkan ke jenjang sekolah yang lebih tinggi.

Keempat;  membangun jiwa wirausaha (entrepreneur) di kalangan para peserta didik sehingga diharapkan akan muncul wiraswastawan didesa yang nantinya akan mampu menciptakan lapangan kerja di desa.

Melalui pembelajaran life skill pembelajaran IPA Terpadu pengolahan jahe menjadi minuman instan jahe ini ada beberapa harapan yang ingin dicapai.

Pertama,  memberikan pengetahuan kepada siswa agar siswa mengetahui jenis tumbuhan maupun tanaman obat bermanfaat yang ada di sekitarnya.  Dengan demikian akan mendorong siswa untuk melakukan budidaya pada kebun-kebun yang dimiliki orang tuanya maupun melestarikan jenis tanaman ini yang ada di kawasan hutan.  

Kedua, siswa mengetahui cara mengolah tanaman jahe menjadi produk minuman instan praktis yang memiliki manfaat dalam menjaga kesehatan.

Ketiga, memberikan pengetahuan dan keterampilan kepada siswa agar memahami manfaat jahe sebagai sumber obat herbal di sekitarnya yang memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi salah satu peluang usaha.

Keempat, membangun jiwa kewirausahaan (entrepreneurship) kepada siswa agar tumbuh jiwa wirausaha sebagai bekal dalam kehidupan sehari-hari bila suatu saat sudah lulus dan tidak bersekolah lagi.

Semoga dengan sedikit keterampilan mengolah jahe menjadi serbuk minuman herbal instan ini, mampu membekali pengetahuan dan keterampilan bagi para peserta didik di kemudian hari. Masih sangat diperlukan keterampilan-keterampilan sejenis lainnya yang memang sangat mereka perlukan untuk mendukung kecapakan hidupnya kelak.