Rabu, 06-02-2019 | 08:23:53

Taman Toga Nurul Huda

Utik Kaspani

Indonesia kaya akan warisan budaya luhur yang perlu kita lestarikan. Salah satunya adalah kekayaan akan tanaman obat keluarga (toga). Perlunya membudayakan gaya hidup sehat untuk masyarakat luas terutama berkaiatan dengan tanaman obat perlu kiranya menjadi perhatian khusus. Faktanya, belum banyak yang memahami akan keberadaan tanaman obat keluarga yang ada disekitar kita. Terutama generasi muda, karena bisa jadi kurangnya pengetahuan.

Bangsa Indonesia pada dasarnya telah memiliki pengetahuan dan telah lama pula memakai toga sebagai obat-obatan tradisional. Kecenderungan yang ada dewasa ini, banyak yang telah meninggalkan pengobatan tradisional toga dengan berbagai macam alasan. Sungguh sangat disayangkan ketika pengetahuan dan kearifan lokal ini mulai banyak ditinggalkan.

Bahkan badan dunia kesehatan World Health Organization (WHO) telah menerbitkan kebijakan WHO Traditional Medicine Strategy 2014-2023 yang menekankan pada pengembangan dan penelitian tanaman obat sebagai salah satu alternatif pengobatan.

Menggerakkan kembali manfaat toga juga berdampak pada isu go green yang juga berarti upaya untuk menghijaukan bumi. Menumbuhkan kesadaran akan guna dan manfaat toga bagi kawula muda memang bukanlah perkara sepele yang bisa selesai dalam hitungan jam.

Tanaman obat keluarga (TOGA) adalah semua tanaman yang ada di lingkungan pemukiman kita (halaman rumah, halaman kantor, madrasah), dan yang sewaktu-waktu dapat dimanfaatkan untuk obat terutama untuk kesehatan keluarga. Selain itu, tanaman obat keluarga merupakan pemanfaatan lingkungan pemukiman kita dalam bentuk pertamanan dengan materi pokok tanaman yang berkhasiat obat (Wahju Suprapto 29).

Selaras dengan pengertian di atas, menurut Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia tanaman obat keluarga merupakan kegiatan budidaya tanaman obat di halaman rumah atau pekarangan, sebagai antisipasi pencegahan maupun mengobati secara mandiri menggunakan tanaman obat yang ada (Suci Paresti 64).

Pada umumnya toga ditanam para ibu dengan pengetahuan yang diperoleh secara turun temurun khususnya dari ibu mereka. Banyak juga masyarakat yang tidak menanam tetapi hanya menggunakan tanaman obat yang didapat dari tetangganya. Namun ada pula yang menanam dengan inisiatif sendiri setelah mendapat informasi akan manfaat dan khasiat toga.

Tujuan menanam toga antara lain adalah untuk menyiapkan tanaman yang digunakan sebagai bumbu masak dan obat, untuk pengobatan sendiri maupun untuk keperluan sakit mendadak, misalnya kalau sakit terjadi pada malam hari, sebagai pertolongan pertama sebelum berobat ke dokter. Penggunaan tanaman obat ini tidak perlu mengeluarkan biaya, mengingat tanaman tersebut tersedia di pekarangan rumah. Upaya ini sangat dibutuhkan oleh masyarakat saat mereka tidak mempunyai biaya. Disamping itu sebagian masyarakat di desa tidak mau berobat  ke dokter. Tanaman obat juga dapat dijual kepada masyarakat, sehingga dapat untuk menambah penghasilan.

Perkembangan dunia farmasi dan kedokteran yang menghasilkan berbagai macam obat-obatan kimia secara berangsur telah menggeser keberadaan khasiat toga di masayarakat. Dengan berangsur hilangnya keberadaan khasiat toga di masyarakat, maka berangsur pula hilangnya pengetahuan tentang obat-obatan tradisional yang dimiliki dari nenek moyang bangsa Indonesia.

Keberadaan obat-obatan modern memang lebih cepat dirasakan khasiatnya dibandingkan dengan obat-obat herbal. Hilangnya pengetahuan penduduk asli tentang pengelolaan sumber daya alam (baca:tanaman obat) akan menyebabkan hilangnya kearifan lokal/tradisional dan juga berarti awal kehancuran dari bangsa. Hilangnya pengetahuan tersebut akan menyebabkan hilangnya acuan dalam pengelolaan sumber daya alam yang khas bersifat etnis (Aliadi, 2002).

Pengetahuan tentang tanaman obat herbal dan tanaman obat keluarga agar terselamatkan dan menjadi aset sosial budaya bangsa yang membanggakan. Oleh karena itu, pengetahuan tentang tanaman obat keluarga ini perlu terus dikembangankan.

Merubah pola yang sudah terlanjur mendarah daging dan berlangsung lama, bukanlah perkara mudah, semudah membalikkan telapak tangan. Tidak mudah memang, namun bukan berarti tidak bisa. Butuh waku dan kesabaran dalam merubah pola pikir dan kebiasaaan yang terlajur mengakar.

Kampanye kembali ke alam “back to nature” atau “go green” yang sering kita dengar dewasa ini telah merambah segala elemen kehidupan manusia. Gerakan kembali ke alam ini mencakup banyak hal antara lain telah mermbah bahan pangan organik serta obat-obatan yang semakin sering kita dengar gaungnya dengan label herbal.

Mengantisipasi akan kekhawatiran yang kita rasakan, perlu kiranya memberikan edukasi dan contoh nyata pada para peserta didik selaku generasi muda yang akan terus kita harapkan selaku garda terdepan dalam mempertahankan salah satu  budaya warisan tanah leluhur kita kelak. Edukasi dan pengenalan langsung terhadap keberadaan toga dan khasiatnya dapat langsung kita contohkan dalam kehidupan nyata sehari-hari.

Salah satu upaya yang dapat kita tempuh untuk menjawab tantangan tersebut dengan menciptakan taman toga di lingkungan madrasah. Keberadaan taman toga yang ada di lingkungan madrasah sebagai bukti nyata laboratorium alam yang dapat kita gunakan langsung sebagai sarana pengenalan toga dan sekaligus sebagai sarana laboratorium langsung yang dapat kita manfaatkan sehari-hari dalam implementasi nyatanya. Ketergantungan penggunaan obat-obatan kimia dewasa ini di kalangan muda khususnya para pelajar sudah mencapai titik yang cukup memprihatinkan.

Dengan ketersediaan obat-obatan kimia yang beredar luas dimasyarakat, baik yang dengan seharusnya menggunakan resep dokter maupun tidak, menjadi alasan utama untuk mulai meninggalakn manfaat toga. Khasiat obat kimia yang relatif cepat dapat dirasakan dan alasan kepraktisan lainnya semakin memperkuat alasan untuk beralih ke pengobatan kimia.

Kemudahan dalam memperoleh obat-obatan kimia yang beredar luas di masyarakat dan relatif dengan harga yang cukup terjangkau sayangnya tak diimbangi dengan perilaku bijak dalam mengkonsumsi obat-obatan kimia. Dan pengaruh iklan obat di berbagai media cetak maupun elektronik yang begitu gencar dan menarik semakin menarik minat dan perhatian masyarakat luas, tidak terkecuali para remaja peserta didik. Sedikit-sedikit minum obat... Perlu terus ditekankan dalam sikap bijak dalam penggunaan obat-obatan kimia yang beredar luas di masyarakat. Keberadaan taman toga yang ada di lingkungan madrasah adalah salah satu upaya yang dapat kita lakukan untuk mengenalkan toga pada warga madrasah, khususnya buat para peserta didik.

Kampanye kembali mengenal dan memanfaatkan toga yang ada di sekitar kita juga harus didukung oleh semua warga madrasah. Upaya untuk kembali mengenalkan toga dan sejuta manfaatnya ini juga dapat dilakukan dengan mulai mengurangi persediaan obat-obatan kimia yang biasanya ada di kotak obat P3K yang berada di ruang UKS.

Mengubah pola pemikiran dan kebiasaan yang tentunya sudah mengakar tentu mengalami hambatan dan tantangan tersendiri, serta membutuhkan waktu yang bisa jadi terbilang tidak sebentar. Tidak perlu berkecil hati, kalau pun apa yang kita ajarkan pada para peserta didik hari ini belum terlihat hasilnya, semoga kelak apa yang kita mimpikan bersama dapat terwujud.