Rabu, 23-01-2019 | 07:31:29

Mengapa Anakku Berbeda

Utik Kaspani

Oleh : Utik Kaspani

(Guru MTs. Nurul Huda Palabuhanratu)

Menjadi seorang ibu adalah sebuah anugerah yang pasti diinginkan oleh setiap perempuan. Apalagi dikarunia anak yanng sehat tak kurang suatu apapun. Tulisan ini ku buat sebagai dedikasi tinggi buat ayah bunda diluar sana yang mempunyai anak istimewa.

Tak ada satu pun orang tua yang membayangkan akan mempunyai anak yang berbeda dari yang lain. Butuh ruang dan tertentu untuk bisa menerima sebuah anugerah istimewa tersebut.  Seperti halnya ibu-ibu muda lainnya saat itu, menanti sebuah kelahiran tentu menjadi momen yang penuh dengan teka-teki dan penantian yang menyenangkan sekaligus menegangkan. Namun ternyata waktu kelahiran itu tak jua kunjung datang. Bahkan hitungan medis pun usia kehamilan 40 minggu masih juga belum menunjukkan tanda-tanda persalinan.

Tidak ingin menangggung resiko atas keselamatan ibu dan bayi yang tengah dikandung, aku pun melakukan konsultasi pada dokter tempat ku biasa melakukan cek kehamilan. Dokter menyarankan untuk mengeluarkan paksa bayi dengan jalan operasi bedah ceasar. Biaya dan mental pun akhirnya kami siapkan.

Atas saran dari seorang sahabat, yang kebetulan juga beberapa bulan sebelumnya juga melakukan bedah cesar, akhirnya aku  melakukan pindah dokter tempat sahabatku juga melakukan tindakan bedah operasi cesar. Aku pun akhirnya mengunjungi klinik bersalin yang ada di Ibu Kota Kabupaten.

Dari serangkaian konsultasi dengan dokter kandungan senior di klinik bersalin tersebut, diputuskan untuk melakukan tindakan induksi. Dokter tersebut tidak langsung memutuskan tindakan bedah, namun dicoba proses kelahiran normal dengan tindakan induksi terlebih dahulu.

Serangkaian tindakan induksi ku jalani setiap tiga puluh menit sekali selama 4 kali. Dari pukul 09.00 hingga pukul 10.00 wib tindakan induksi dengan empat kali suntikan baru berakhir. Tepat enam jam kemudian, reaksi induksi pun baru bekerja. Dan inikah rasanya yang namanya melahirkan...

Menanti pergantian waktu menjelang persalinan seakan-akan jarum jam enggan untuk bergerak. Menit demi menit pun kunikmati dengan menahan rasa sakit akibat proses induksi yang luar biasa. Hampir satu jam setengah lamanya kumenahan sakit yang tiada henti, hingga lahirlah bayi perempuan mungil itu.

Sedikit berbeda dengan bayi-bayi lain pada umumnya, bayiku tak langsung menangis. Ada sedikit jeda waktu untuk membuat bayi kecilku menangis. Dari beberapa bacaan yang telah kupelajari, aku hanya berharap, semoga tidak terjadi apa-apa dengan bayi mungilku.

Lahir dengan kondisi sehat tanpa kekuragan satu apapun. Dengan berat 3250 gram dan panjang 50 cm, bayiku nampak sama dengan bayi-bayi lain yang ada diruang perawatan bayi.

Yang sedikit membedakan hanyalah, dia tak langsung menangis saat kulahirkan dan banyaknya tanda lahir yang ada di badan mungilnya. Tanda lahir merah dan hitam yang ada di badan kecilnya.

Selang beberapa hari setelah pemullihan di klinik bersalin tersebut, aku pun diperbolehkan pulang.

Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, bayi kecilku tumbuh sehat seperti bayi-bayi yang lain.  Menginjak usia satu tahun belum ada tanda-tanda anakku akan segera berjalan. Teman-teman seusianya mulai banyak yang belajar jalan. Hingga usia anakku 22 bulan, barulah ia berani berjalan. Banyak pengobatan tradisional dan dokter yang kami tempuh untuk mengupayakan anakku cepat berjalan. Namun semua mengatakan memang belum waktu nya.

Sebagai seorang ibu, tentu menjadi pekerjaan rumah tersendiri dan menjadi pemikiran akan hal ini. Tanganku hanya 2, tak mungkin mampu menutup mulut banyak orang yang begitu mudah memvonis atas keterlambatan anakku berjalan.

Anakku memang terlambat berjalan, namun aku yakin dia punya satu keistimewaan lain, yang mungkin anak lain tak memilikinya.

Sedari kecil aku mengajarinya untuk mengenal huruf. Saat itu yang ada dalam benakku adalah, biarlah anakku belum bisa lari melihat dunia saat ini, namun ia akan tetap dapat lari menikamati dunia melalui bacan-bacannya. Sejak saat itu aku rajin mengajarinya mengenal huruf, kata dan kalimat.

Dari apa yang aku ajarkan sedari ia bayi, sepertinya meninggalkan jejak ketika ia mulai memasuki bangku sekolah. Diusianya memasuki 4 tahun, aku memasukkanya ke bangku taman kanak-kanak. Tiga bulan pertama ia masuk dibangku taman kanak-kanak, gadis kecilku itu telah pandai membaca. Rangkaian kata menjadi kalimat bukan hal aneh lagi dimatanya.

Maka tak heran, ketika teman-temannya baru mengenal abjad, gadis kecilku sudah mulai membaca salah satu majalah anak-anak yang cukup ternama di negeri ini.

Lagi-lagi aku menganggap orang begitu mudah dalam memvonis sesuatu. Diusianya yang berangsur besar, kondisi badannya tak lagi sebesar saat ia balita. Badannya yang kecil tinggi, sempat divonis kurang gizi oleh petugas kesehatan yang berkunjung ke rumah. Perdebatan yang lumayan sengit pun sempat aku lakukan sebagai bagian protesku atas vonis yang diberikan. Tidak ada rangkaian tes yang dilakkukan,namun dengan begitu mudahnya mencap gadis kecilku sebagai anak yang kurang gizi. Lagi-lagi sempat aku merasa betapa dunia tak berpihak padaku.

Apakah parameter sehat hanya dilihat dari porsi tubuhnya yang besar saja? (baca: gemuk). Sedangkan anakku sangat sehat. Geraknya tetap lincah, celotehnya ramai, matanya tidak pucat, hanya karena ia tak mampu berlari dan melakukan gerak motorik kasar lainnnya selincah teman-teman kecilnya yang lain.

Bahkan kemampuan membacanya jauh diatas anak-anak lain sebayanya. Hal-hal yang sempat kulontarkan tak cukup mampu menghapus stiker anak kurang gizi yang akhirnya dilekatkan di jendela rumah kami. Dan satu hal, sampai hari ini kemampuan motorik kasarnya tidak sebaik teman-temannya yang lain. Serta telapak kakinya yang selalu tak pernah hangat seperti umumnya yang lain.

Kini gadis kecilku itu telah beranjak dewasa. Sekarang ia telah duduk dibangku kelas XI di sebuah aliyah di kota kami. Sekarang kemampuannya dalam berliterasi baru sebatas keinginannnya yang kuat dalam membaca. Buah dari apa yang aku tanamkan sejak kecil mulai terlihat hasilnya.

Walau kemampuan literasinya baru sebatas membaca dan memahami isi bacaan, namun ini sudah merupakan sebuah karunia yang perlu aku syukuri selalu. Kegemaran membacanya sekarang terpatri dalam koleksi novel-novel bacaannya yang sudah mulai menggunung.

Setiap bulan, saat ini sebisa mungkin aku baru bisa memfasilitasi membeli dua hingga tiga novel. Novel dengan ketebalan rata-rata 200 halaman telah menjadi sahabat setianya mengisi waktu. Semoga kedepan, ia akan mampu menambah kemampuannya dalam berliterasi dengan kemampuan menulis. Biarlah saat ini ia masih dalam taraf belajar membaca dan membaca untuk belajar. Semoga kelak apa-apa yang pernah dibacanya akan menjadi amnunisinya dalam menulis.

Setiap anak pasti akan membawa ceritanya masing-masing. Sempat aku juga bertanya-tanya, mengapa anakku berbeda dari yang lain..

Menyadarinya saja bukanlah jalan keluar setelah kita mampu untuk menerima kenyataan yang ada. Kenyataan bahwa anakku berbeda dari yang lain. Justru kemampuan kita untuk bangkit mencari peluang untuk mengisi kekosongan yang ada adalah hal terbesar yang harus segera kita lakukan berikutnya.

Setiap anak adalah anugerah, setap anak akan membawa ceritanya masing-masing. Dan semua anak adalah karunia hebat yang Tuhan berikan buat kita orang tuanya. Tak ada mahluk Tuhan yang gagal. Justru ketidak tahuan kitalah yang sering mengkerdilkan beragam mahluk ciptaan NYA.

Cerita sekelumit tentang gadis kecilku tentu bukanlah apa-apa dibandingkan perjuangan ayah bunda hebat lain yang ada diluar sana. Bergabung dalam komunitas dengan persamaan cerita yang sama adalah salah satu solusi yang dapat kita peroleh untuk dapat menguatkan peran yang tengah kita jalani.

Dan tentu nya ada sedikit harapan yang kalau boleh terucapkan. Untuk ayah bunda yang tak pernah berada dalam posisi kami, janganlah terlalu mudah dalam menjudge sesuatu yang belum tentu tau secara detail bagaimana perjuangan kami. Kami pun tak mungkin mengkoarkan apa yang memang telah menjadi tugas dan tanggung jawab kami.

Namun, sekali lagi itu hanyalah harapan dari sedikit orang tua yang kebetulan punya anak yang istimewa. Semoga dengan sedikit coretan ini, dapat lebih menyadarkan kita untuk lebih dapat menjaga hati dari orang tua hebat seperti mereka.