Rabu, 09-01-2019 | 07:50:46

Membangun Kebersamaan dalam Bingkai Literasi

H. Wahyudin Saat menjadi Narasumber Pengembangan Mutu Guru

Saya dan Anda tentunya mengharapkan dalam menjalani hidup selalu ada pada bingkai kebersamaan. Baik dalam skala kehidupan keluarga, kegiatan di kantor, aktivitas di masyarakat maupun dalam kehidupan bernegara. Terutama  kebersamaan dalam konteks kerukunan antar umat beragama. Bukankah kebersamaan itu merupakan fitrah? Kita sepakat, setiap orang pasti ingin hidup bersama kendati realitasnya diliputi  pelbagai perbedaan. Hal ini butuh perjuangan maksimal untuk meraihnya.

 

Dalam konteks Islam sudah tertanam sikap persaudaraan atau ukhuwah. Quraish Shihab (1996: 486) mengartikan ukhuwah yaitu "setiap persamaan dan keserasian dengan pihak lain, baik persamaan keturunan, dari segi ibu, bapak atau keduanya. Secara majazi kata ukhuwah mencakup persamaan salah satu unsur seperti suku, agama, profesi, dan perasaan. Hal ini sesuai dengan ayat Alquran "Sesungguhnya orang-orang mu'min adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat Rahmat".(QS. Al Hujurat [49]: 10). Substansi ayat ini memberi pesan kepada kita agar selalu membangun kebersamaan dengan diikat persaudaraan. Bahkan buah manis dari kebersamaan akan diberikan rahmat oleh Allah SWT.

 

Uraian tersebut sejalan dengan tema Hari Amal Bhakti Kementerian Agama ke-73 tahun 2019 yaitu "Jaga Kebersamaan Umat". Tema ini sangat relevan dengan kondisi heterogenitas kehidupan dalam wilayah NKRI. Di mana perbedaan itu suatu keniscayaan. Bukankah kita dilahirkan dalam kondisi banyak perbedaan? Berbeda karakteristik, gender, dan visi serta misi dalam mencapai tujuan. Sangat indah bukan?

 

Diperkuat Ary Ginanjar Agustian (2001: 11) menjelaskan bahwa pada diri manusia terdapat fitrah iman di dalam jiwa manusia. Bahkan sebelum bumi dan manusia diciptakan telah berjanji dihadapan Allah SWT. (Pesan QS. Al 'Araf ayat 172).  Kebenaran yang ditanamkan pada jiwa setiap manusia disebut kebenaran universal yang menurut Ary Ginanjar "sebuah anggukan universal". Artinya setiap orang pasti meng-iya-kan bahwa kebersamaan, keadilan, kedamaian, kesejahteraan dan nilai kebenaran lainnya pasti diharapkan setiap orang.

 

Dalam konteks kekinian nilai kebersamaan yang merupakan icon kebenaran itu bisa diraih dengan formulasi berikut :

 

Pertama, sadarilah bahwa setiap orang pasti menginginkan kebersamaan. Dengan kebersamaan segala problematika kehidupan bisa dicarikan solusi. Tidak ada masalah yang tidak bisa diselesaikan. Sebagaimana pribahasa klasik mengungkapkan "Berat sama dipikul ringan sama dijinjing". Terlebih akhir-akhir ini banyak musibah menimpa masyarakat NKRI. Telah terjadiTsunami di Selat Sunda Banten dan Lampung, tanah longsor di Sukabumi dan musibah lainnya. Suatu peluang emas membangun kebersamaan dengan membantu sesuai kapasitas yang dimiliki.

 

Kedua, hidupkan kesadaran berliterasi, karena bisa membangkitkan kebersamaan. Sebagaimana kita maklum, dengan terjadinya lompatan akselerasi teknologi arus informasi tidak bisa dibendung. Perdetik segala berita dan informasi menjadi santapan keseharian. Di berbagai informasi, terutama melalui media sosial terkadang sulit membedakan antara informasi yang benar dengan yang salah. Mana informasi valid mana yang in-valid. Mengapa hal ini terjadi? Karena umumnya informasi yang berkembang tidak jelas penulisnya. Sehingga isi dari tulisan tersebut tidak ada yang bertanggung jawab. Puncaknya bisa mengakibatkan perselisihan bahkan destruktif.

 

Dengan menggaungkan literasi maka akan terjadi dialektika. Sehingga saat membahas segala problematika kehidupan selalu dengan ilmu. Terlebih ilmu sosial yang membutuhkan jawaban bervariasi. Meminjam istilah Nurcholis Madjid (2013: 38) bahwa kemajemukan dalam hidup manusia tidak perlu digusarkan, dan hendaknya dipakai sebagai pangkal tolak berlomba-lomba menuju berbagai kebaikan. Bahkan dengan literasi bisa mengasah ketajaman pisau analisis dengan mengeksplor kemampuan membaca, menyimak menulis dan mengapresiasi karya sastra. Sehingga

H. Wahyudin Saat menjadi Narasumber Pengembangan Mutu Guru

menurut Hernowo Hasim (2016) mampu mengurai kata dengan mengikat makna. Momentum ini harus ditangkap jangan sampai lepas. Sebagaimana dinyatakan Much. Khoiri (2016:54) mengutip pendapat Napoleon Bonaparte menyatakan, "Ability is nothing without opportunity."Kemampuan tiada artinya jika tanpa kesempatan. Dengan melatih literasi akan terbangun kebersamaan memukau karena semua orang selalu mengaji ilmu tiada henti. Sifat ilmu kian digali semakin mendalam.

 

Semoga saja momentum HAB Kemenag ke-73 tahun 2019 ini sebagai starting point dalam rangka membangun kebersamaan di tengah banyak perbedaan. Carilah persamaan dalam kerangka menuai sikap egalitarian. Klimaksnya NKRI akan kuat dalam bingkai kebersamaan. Wallahu Alam.

 

Kontributor : H. Wahyudin (Pengawas PAI Kemenag Kab. Bekasi)