Jumat, 04-01-2019 | 07:59:25

Rendahnya Minat Kompetisi di Kalangan PTK

Imas Sa’adiyah, M.Ag. (Kepala MA Muslimin Jaya – Cisaat)

Oleh:

Imas Sa’adiyah, M.Ag.

Kepala MA Muslimin Jaya – Cisaat

Madrasah Award yang dipelopori oleh Seksi Madrasah Kabupaten Sukabumi sebagai ajang paling bergengsi di kalangan Pendidik dan Tenaga Kependidikan di kabupaten. Sejak tahun 2017 Kasi Mapenda mengadakan kegiatan ini untuk menjaring pendidik dan tenaga kependidikan memiliki kemampuan lebih di samping tugas utamanya sebagai pengajar atau tenaga kependidikan di madrasahnya masing-masing.

Banyak cabang yang dilombakan, di antaranya RA/Madrasah Unggul dan Sehat, Pendidik dan Tenaga Kependidikan Berprestasi, Best Practice dan Karya Inovatif Pembelajaran (Vidio Pembelajaran, karya inovatif pembelajaran, PTK/PTS, Menulis Pengalaman Mengajar (Real short story), Iklan layanan RA/Madrasah, dan Desain kreatif membatik), dan senam islami ceria.

Dari setiap cabang yang dilombakan pesertanya tidak terlalu banyak. Hanya real short story memiliki peserta terbanyak yaitu 29 orang peserta. Jika diakumulasikan tiap jenjang se-kabupaten Sukabumi, mulai dari RA, MI, MTs., dan MA lebih dari 1000 lembaga, yang tiap lembaganya lebih dari 10 orang, bukan jumlah yang sedikit. Pada tahun 2018 ini peserta yang mengikuti madrasah award cukup bisa dihitung jari. Ini artinya minat mereka belum tinggi. Apa penyebab rendahnya para PTK berkompetisi dalam madrasah award ini?

Sosialisasi yang dilakukan oleh panitia cukup efektif baik melalui grup whatshapp yang ada di madrasah pada jenjang masing-masing yaitu melalui PD-IGRA, KKMI, KKMTS,  dan KKMA, maupun melalui media lainnya.  informasi yang gencar dilakukan panitia cukup bagus. Lagi-lagi bukan persoalan sosialisasi.

Kesadaran guru dan tenaga pendidik dalam mengikuti kompetisi masih rendah. Hal ini bisa karena belum terbiasa dengan kegiatan seperti itu atau mungkin karena rendahnya minat mereka dalam kegiatan literasi (karena Madrasah Award ini banyak berhubungan dengan kegiatan literasi). Budaya literasi dimaksudkan untuk melakukan kebiasaan berpikir yang diikuti proses membaca menulis, yang pada akhirnya apa yang dilakukan dalam proses kegiatan tersebut menciptakan karya.

Secara sederhana dapat diidentifikasi lemahnya budaya literasi di kalangan pendidik:

  • Buku-buku yang bisa menarik minat baca cukup sulit untuk diakses
  • Kondisi perpustakaan yang kadangkala kurang memadai
  • Minimnya buku bacaan yang tersedia
  • Kemampuan guru di dalam menerapkan pembelajaran yang berbasis literasi masih rendah

Sesungguhnya kegiatan literasi harus menjadi kegiatan utama dan rutin bagi kalangan pendidik dan tenaga kependidikan. Ini menjadi PR kita bersama bagaimana menjadikan literasi sebagai nilai-nilai budaya yang perlu ditanamkan di kalangan PTK. Sehingga hal ini akan berpengaruh secara signifikan terhadap anak didiknya.

Untuk meningkatkan budaya literasi ini, maka harus ada formulasi yang tepat. Pihak yang berkompeten dalam hal ini harus gencar membuat kebijakan dan rumusan baru, sehingga mereka (PTK) tidak merasa dipaksa  dan sadar dengan sendirinya. Ketika literasi menjadi budaya baik di kalangan PTK, maka minat untuk kompetisi pun akan meningkat.

Untuk menumbuhkan budaya membaca di kalangan PTK, kita bisa meniru negara Vietnam. Negara ini pernah mengalami konflik perang saudara berkepanjangan, dan saat ini sudah lebih dulu menyadari pentingnya mereformasi dunia pendidikannya melalui membaca. Melalui metode gerakan masyarakat mengumpulkan donasi dan buku, serta menyebarkan melalui pendirian perpustakaan di seluruh pelosok negara tersebut. Ternyata hasilnya cukup mencengangkan, Vietnam memiliki kemajuan yang pesat di Asia Tenggara. Semoga kita dapat menirunya. Aamiin.