Senin, 17-12-2018 | 09:51:54

Teknik Soften dalam Pengajaran di Kelas

Urip Mulya (Pengawas Madrasah)

Oleh : Urip Mulya

Pengawas Bina Madrasah Kemenag Kab. Sukabumi

Banyak cara yang bisa dilakukan para guru untuk menciptakan suasana belajar yang menyenangkan. Apalagi pada madrasah-madrasah dibawah naungan Kementerian Agama Kabupaten Sukabumi yan telah berkomitmen menuju Madrasah Ramah Anak (MRA). Memberikan mutu layanan pendidikan yang terbaik adalah bukti ikhtiar nyata yang selalu diupayakan.

Mengajar bukanlah hanya sekedar proses transformasi ilmu, namun ada hal essensi lain yang bisa kita berikan pada peserta didik. Memberikan pengalaman belajar yang menyenangkan dan dapat meninggalkan kesan yang baik perlu kiranya untuk diperhatikan. Pada sebagian guru, mengajar masih dirasa sebagai perkara  yang gampang-gampang sulit.

Sekedar berbagi pengalaman dalam menjalankan darma bakti sebagai seorang guru, ada beberapa hal yang ingin penulis bagikan. Tulisan yang penulis kutip dari salah satu artikel ini juga sebagai bahan refleksi bagi diri penulis sendiri untuk selalu berproses ke arah yang lebih baik.

Banyak teknik yang dapat dilakukan para guru untuk dapat melaksanakan proses pembelajaran yang menyenangkan, mungkin salah satunya adalah dengan teknik SOFTEN. Apa itu teknik SOFTEN?.. Teknik SOFTEN hanyalah salah satu alternatif teknik yang dapat kita terapkan di kelas.

Teknik SOFTEN yang penulis maksud adalah (Smile, Open Gesture, Forward lean, Touch, Eye contact, Nod). Teknik SOFTEN biasanya digunakan oleh orang-orang yang bergelut di dunia bisnis, khususnya dalam melakukan negosiasi. Menurut para psikologi seseorang berbicara menggunakan teknik ini dapat membuat lawan bicara akan merasa nyaman dan merasa dihargai.

Bagaimana kita bisa mengadopsinya untuk kepentingan mengajar?

  1. Smile (Senyum)

Memberikan senyuman yang kadang terkesan sepele, acap kali juga terasa sulit untuk dilakukan. Apalagi sebagai manusia biasa, guru yang pada hakikatnya juga manusia biasa juga, hidupnya tak luput dari banyak permasalahan yang melanda.

Memberikan senyuman walau hanya tiga detik, dapat menularkan aura dan semangat positif bagi peserta didik. Mungkin tidak mudah, tapi tak ada salahnya untuk memulai mencoba. Bukankah, senyuman juga bagian dari ibadah?

  1. Open Gesture (Terbuka)

Open Gesture ini kadang dapat diartikan sebagai keterbukaan pada materi yang akan/sedang dibicarakan. Kita menerima kritikan dan masukan dari siswa untuk memperbaiki diri kita dalam proses pembelajaran. Ada pula yang menyatakan Open gesture sebagai sikap guru dengan ekspresi yang terbuka, tidak kaku hingga dapat menciptakan suasana belajar yang menyenangkan.

  1. Forward lean (membungkuk ke arah depan)

Membungkukikan badan dan mendekatkan diri ke arah siswa yang mengajaukan sebuah pertanyaan adalah sebuah sikap yang dapat menggambarkan bentuk penerimaan dan sigap melayani. Sebuah sikap yang juga mencerminkan kesigapan untuk  mendengar apa yang mereka tanyakan. Sikap seperti ini juga memberikan kesan pada peserta didik, bahwa guru selalu siap untuk memberikan jawaban dan pengetahuan yang dibutuhkannya.

  1. Touch (Sentuh)

Memberikan sentuhan pada kepala atau bahu peserta didik, juga merupakan sebuah ungkapan lain dalam memberikan sebuah penguatan. Sentuhan dan usapkan kepala atau bahunya seraya mengatakan: "Wah... pintar kamu". Selain itu hal ini juga merupakan sebuah penguatan psikologis tersendiri bagi mereka. Menjadikan mereka pribadi-pribadi yang bernilai bagi orang lain.

  1. Eye contact (Tatap Mata)

Memberikan pandangan ataupun tatapan dengan rasa kasih sayang yang tulus. Menatap mata siswa yang dimaksud, juga dapat memberika kesan bahwa siswa tersebut penting dan berharga di mata guru. Dengan menatap sorot matanya, guru dapat membaca apa yang ada di dalam hatinya. Cukup dengan 3 detik, memberikan perhatian khusus pada satu siswa baru mengalihkan pandangan pada siswa lain atau objek lain seperti papan tulis atau gambar yang sedang kita jelaskan.

Hal ini juga sekaligus mengajarkan peserta didik tentang adab berbicara pada orang lain. Apalagi di jaman sekarang, banyak kebiasaan berbicara yang mulai mengabaiakan orang lain karena phubbing (kebiasaan berbicara dengan lawan bicara dengan tidak memperhatikan lawan bicara, namun lebih asyik memperhatikan gawai).

  1. Nod (Mengangguk)

Anggukan kadang terkesan hal remeh lain pada saat kita sedang membangun komunikasi dengan pihak lain, termasuk siswa. Mencoba mendengarkan, dan mengangguk sebagai pertanda kita mencoba memahami dan menyetujui apa yang sedang lawan bicara kita katakan. Peserta didik tentu akan merasa dihargai jika kita memberikan anggukan saat dia mengutarakan pendapatnya.

Demikianlah sedikit bahan renungan bagi rekan-rekan sekalian, dan sekali lagi sebagai bahan refleksi bagi diri penulis sendiri. Semoga tulisan singkat ini bisa memberikan manfaat bagi rekan-rekan sesama pendidik dan pengajar.