Kamis, 22-11-2018 | 14:11:40

KOMUNIKASI EDUKATIF DALAM LITERASI ALQURAN

KOMUNIKASI EDUKATIF DALAM LITERASI ALQURAN OLEH ASEP SAUPULMILLAH PENGAWAS MADRASAH PADA KANTOR KEMENTERIAN AGAMA KAB. TASIKMALAYA

Oleh: AsepSaepulmillah
Pengawas Madrasah Kankemenag Kab. Tasikmalaya

Dalam pendampingan kesekolah sambil melihat karya siswa terdengar di sudut ruangan seorang guru setengah baya sedang asyik dan serius berkakap-cakap dengan muridnya. Nampaknya mereka larut dalam pembicaraan pribadi yang  sangat penting. Menarik sekali, dari nada dan topic pembicaraannya terkesan antara seorang konselor/psikolog dengan klien-nya, kadang-kadang seperti seorang ustadzah yang sedang menyampaikan pesan-pesan spiritual kepada jamaahnya, atau laksana seorang trainer atau motivator  yang menyemangati audient-nya. Tutur kata yang mudah difahami, jelas, mengena dan berbobot sesuai dengan usia dan tingkat pemahaman murid. Antara keduanya tidak ada jarak, terbuka tapi santun, penuh empati dan sarat dengan pembelajaran.

Penasaran penulis sempat berdiskusi dan sharing pengalaman seputar pendekatan dalam memahami murid, akhirnya dia mengatakan:“kita mesti ikhlas, sabar dan tawakkal,  dari hati kehati dan penuh cinta karena anak lading amal ibadah kita. Kami bangun komunikasi atas dasar keimanan, hikmah dan Cinta.” Sungguh menginspirasi walaupun terkesan sangat filosofis dan normatif.

            Pengalaman di atas sangat kontras dengan banyaknya keluhan yang kerap disampaikan oleh guru tentang murid-muridnya yang tidak mau mendengar dan paham meskipun berkali-kali dinasihati. Sepertinya muridlah yang harus memahami guru, bukan sebaliknya, akibatnya guru  lelah dan tidak sabar karena murid dipaksa harus mengikuti sesuai dengan keinginannya. Sangatlah tidak bijak jika terburu-buru menyalahkan kepada murid, mungkin salah satunya, pola komunikasi pembelajaran yang diterapkan oleh guru kepada murid yang belum tepat. Di sini pentingnya guru memiliki kemampuan berkomunikasi yang efektif dalam pembelajaran.

Secara teori, komunikasi adalah proses penyampaian pesan (message) dari sumber (source) atau pengirim pesan kepada penerima pesan (receiver) melalui suatu media (channel) yang tujuannya agar sipenerima pesan memiliki makna, pemahaman atau respon yang sama (feedback) dengan pemberi pesan. Komunikasi dipengaruhi oleh kondisi lingkungan sekitar atau kondisi internal (noice) dari sipenerima pesan. Jika hubungannya dengan pembelajaran maka guru sebagai sumber. Fakta, informasi, ilmu pengetahuan dan pengalaman sebagai isi pesan. Murid sebagai penerima pesan, dilakukan dengan menggunakan media pembelajaran untuk mendapatkan feedback atau respon dari murid setelah menerima pengetahuan.

Dalam kegiatan pembelajaran fungsi komunikasi sebagai instrumen.Yaitu digunakan untuk menerangkan, mengajar, menginformasikan, mendorong, mengubah sikap dan keyakinan, mengubah perilaku, atau menggerakkan tindakan dan juga untuk menghibur. Paling tidak ada 5 prinsip cara bertutur kata yang efektif dalam pembelajaran. Pertama respect, yaitu sikap menghargai setiap individu yang akan menjadi sasaran pesan yang disampaikan. Kedua, emphaty, yakni kemampuan untuk menempatkan diri kita pada situasi atau kondisi yang dihadapi oleh orang lain. Ketiga, audible, yakni dapat didengar atau dimengerti dengan baik. Keempat, clarity, yaitu kejelasan pesan,  yang disampaikan sehingga tidak menimbulkan multitafsir, dan kelima humble, yaitu sikap rendah hati.

Banyak pola komunikasi sebagai ilmu terapan dari teori komunikasi, social dan psikologi. Melalui tulisan ini penulis tertarik untuk memberikan 9 isyarat Al-Quran tentang pola komunikasi serta implikasinya dalam pembelajaran yang di sarikan dari Kitab Al Wāfīfīsyarh al Arbaīn al Nawawiyat karya Musthafa Dieb al Bagha.

Pertama,  bertutur kata yang baik  (qawlanma’rūfan), Q.s 2:263, 4:8, 33:32. Maksudnya ketika berbicara dengan murid maka bicaralah dengan bahasa yang sesuai dengan tradisi, etika dan norma yang berlaku di masyarakat; berbicaralah dengan tutur kata yang sesuai dengan tingkat kematangan usia dan pemahaman peserta didik, alāqadriuqūlihim, bahkan dengan bahasa yang dapat diterima oleh segenap usia. Sampaikan pesan sesuai kondisi dan lingkungan saat komunikasi itu terjadi supaya pembicaraan itu focus dan terarah.

Kedua, bertutur kata yang mulia (qawlankarīman), Q.s. 17:23. Maksudnya ketika berbicara dengan murid, gunakan tutur kata yang santun, enak didengar dan menyejukkan. Hindari tutur kata yang menyinggung fisik atau perasaan, tidak menghina, tidak merendahkan, juga tidak menggurui.

Ketiga,  bertutur kata yang pantas (qawlanmaysyūran), Q.s. 17:28. Maksudnya, guru hendaknya berbicara dengan kata-kata yang jelas dan mudah difahami oleh muridnya. Bahasanya menyejukkan hati tidak meresahkan atau membuat peserta didik gundah atau tambah masalah. Guru berharap bahwa pesan yang disampaikannya dapat diterima oleh sipenerima pesan dengan baik. Oleh karena itu dalam praktik pembelajaran disamping bahasa verbal atau non verbal guru diharapkan dapat menggunakan media (delivery channel) agar mudah menyampaikan informasi kepada murid.

Keempat, bertutur kata yang mengena dan membekas (qawlanbalīghan), Q.s. 4:63. Dalam hal ini, bahasa yang digunakan guru harus efektif sehingga tepat sasaran dan tujuan, dan efisien artinya tidak berputar-putar, tidak ngeyel atau lebay. Oleh karena itu sebelum menyampaikan guru hendaknya mengetahui dengan jelas tujuan, isi pesan, dan sasaran supaya arah pembicaraannya focus dan mengena.

Kelima, bertutur kata yang lemah lembut (qawlanlayyinan), Q.s. 20:44. Maksudnya, berbicara dengan murid dengan bahasa yang halus sehingga menyerap kerelunghatinya, tidak kasar dan tidak menyinggung. Bertutur kata yang lembut kepada murid dapat membuat dirinya merasa nyaman, dihargai dan sejajar sehingga memudahkan proses komunikasi dalam dua arah. Diharapkan guru dapat menghargai setiap muridnya didiknya, karena mereka butuh pengakuan atau penghargaan. Sikap ini akan membangun kerjasama yang sinergis antara guru dan murid.

Keenam,  bertutur kata yang benar dan berimbang (qawlansyadīdan), Q.S. 4:9, 33:70. Ketika memberi pelajaran atau mendamaikan murid, gunakan bahasa yang berimbang atau adil kepada berbagai pihak, tidak ada keberpihakan kepada salah seorang.  Tidak ada yang merasa dilebihkan atau tersisihkan dalam komunikasi, semuanya mendapat perlakuan yang sama.

   Ketujuh, bertutur kata yang berbobot (qawlan ‘azhīman), Q.S. 17:40.  Gunakan tutur kata yang sarat dengan hikmah dan makna kehidupan ketika menyampaikan pesan kepada murid. Perkataan berbobot itu penuh inspiratif, menyentuh, dan aplikatif dalam kehidupan. Sebaliknya perkataan yang kurang berbobot, garing, akan terlewati tanpa makna. Gunakan  kata yang dapat memotivasi, menyadarkan dan merubah paradigm murid atas suatu permasalahan.

            Kedelapan, bertutur kata yang berisi pesan Ilahiyah (qawlan min rabbi alrahīm), Q.S. 36:57. Hendaknya guru menyampaikan pesan-pesan, keteladanan dan hikmah yang bersumber dari Tuhan. Guru sebaiknya banyak membaca kisah-kisah teladan, kisah-kisah yang durhaka yang disampaikan oleh Allah SWT dalam kitab suci-Nya. Sampaikan berita baik (targhib) bagi orang yang mengikuti jalan Tuhan dan ancaman (tarhib) bagi orang yang  melanggarnya.

            Kesembilan, bertutur kata yang berat (qawlantsaqīlan), Q.S. 73: 5. Maksudnya tutur kata yang mengandung informasi berkewajiban syariah (taklifi), halal-haram, dan berimplikasi hokum pidana atau perdata.  Dalam hal ini setidaknya guru memahami pengetahuan praktis keagamaan dan hokum berlaku di masyarakat walaupun tidak memadai seperti seorang ahli. Di sinilah peran suci guru sebagai penerus para nabi yang bertanggungjawab membimbing dan mengarahkan murid menemukan jalan yang benar.

            Demikian isyarat Al-Quran tentang pola berkomunikasi yang dikaitkan dengan pembelajaran. Diharapkan ini dapat menambah khazanah pengetahuan dan keterampilan praktis bagi guru dalam menyampaikan pembelajaran kepada murid di dalam atau di luar kelas.  Karena inti pembelajaran itu mengomukasikan ide atau pesan maka penerapan pola komunikasi yang tepat dapat mempermudah tercapainya tujuan pendidikan. Sebaliknya pola komunikasi yang tidak tepat tidak hanya dapat menyulitkan tercapainya tujuan pembelajaran, tetapi dapat menimbulkan permasalahan baru. Wallāhu ‘alam.