Rabu, 07-11-2018 | 06:20:52

IMPLEMENTASI NILAI-NILAI SANTRI BAGI GURU DALAM PENDIDIKAN KARAKTER (Refleksi Peringatan Hari Santri Nasional 2018)

IMPLEMENTASI NILAI-NILAI SANTRI BAGI GURU DALAM PENDIDIKAN KARAKTER oleh Ujang Kusnadi (Guru MTs Puteran Tsm)

Suasana pemandangan yang berbeda terlihat di sekolah-sekolah dan lembaga-lembaga pendidikan sejak tanggal 17 Oktober 2018, hampir seluruh siswa dan bapak guru mengenakan sarung dan peci. Begitu juga para siswi dan Ibu Guru mengenakan busana muslimah. Pemandangan ini  merupakan hal yang sangat berbeda bagi sekolah yang bukan berbasis pesantren. Karena busana sarung dan peci sangat identik dengan pendidikan yang berbasis pesantren. Pengenaan busana ini dilaksanakan dalam rangka menyambut peringatan hari santri tanggal 22 oktober 2018.

Istilah “santri” identik dengan pesantren, karena pesantren merupakan tempat berkumpulnya para santri”.  Meskipun istilah santri berkaitan dengan pendidikan agama Islam, namun kata “santri” bukanlah berasal dari bahasa Arab. Tidak tahu mengapa yang mendirikan pesantren itu adalah orang-orang-orang ahli bahasa Arab, tetapi  istilah “santri” dan “pesantren” muncul bukan berasal dari bahasa Arab. Sehingga berbagai penafsiran pun muncul untuk menjelaskan asal-usul istilah “santri”. Ada yang berpendapat berasal dari bahasa sansekerta “sastri” yang berarti melek huruf. Ada yang berpendapat dari bahasa India “shastri” yang berarti ahli kitab dan masih banyak pendapat para ahli lainnya.

Terlepas dari perbedaan definisi santri di atas, tulisan ini  lebih fokus pada pemaparan nilai-nilai santri itu sendiri yang relevan dengan definisi “santri” dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah 1) Orang yang mendalami agama Islam, 2) Orang yang beribadah sungguh-sungguh (orang shaleh). Istilah “santri dalam tulisan ini adalah sebagai sebuah bentuk karakter yang menggambarkan karakter pendidikan yang baik dan ideal.

Pengenaan simbol santri di setiap lembaga lintas pondok pesantren seyogyanya tidak hanya untuk mengakui dan menghargai eksistensi santri melainkan jauh dari itu tertanamnya jiwa-jiwa santri di setiap lembaga lintas pondok pesantren. Karena Jiwa-jiwa santri itu adalah nilai karakter yang bisa diterapkan oleh setiap orang dalam kehidupan sehari-hari. Begitu juga kita yang diamanahi tugas sebagai pendidik untuk mendidik anak-anak bangsa harus mampu memiliki jiwa-jiwa santri, karena tidak mungkin melahirkan anak-anak bangsa yang memiliki jiwa santri kalau gurunya sendiri tidak menjiwainya.

Secara umum karaktter santri yang dapat diimplementasikan oleh pendidik dalam proses pendidikan adalah  : semangat dalam belajar, tawadhu, dan berakhlakul karimah. Adapun dalam prakteknya guru yang berjiwa santri itu adalah sebagai berikut :

  1. Menjadi Guru Pembelajar

Guru bukanlah orang yang tahu segalanya, guru juga manusia yang tidak lepas dari segala kekurangan, karena itu jadilah guru yang berjiwa santri. Guru yang berjiwa santri akan memberikan tauladan kepada murid-muridnya dengan menjadi guru pembelajar yang senantiasa berusaha keras mengupdate dan meningkatkan pengetahuannya sebagaimana santri yang selalu berusaha keras dalam belajar pengetahuan agamanya. Apalagi guru zaman now harus lebih dulu mampu mengakses pengetahuan melalui teknologi sebelum murid-muridnya

  1. Menjadi Guru yang rendah hati

Guru yang rendah hati bukanlah yang merendahkan dirinya di depan murid-murid. Maksud guru yang rendah hati di sini adalah guru yang selalu menghargai murid-muridnya. Dalam pendidikan, hal ini kita kenal dengan istilah pedagogik.yang mencakup pemahaman guru terhadap peserta didik untuk mengaktualisasikan potensi yang dimilikinya. Guru juga mestinya mengerti bahwa guru bukanlah sebuah kebenaran tunggal di kelas. Guru tidak boleh merasa bahwa apa yang disampaikannya adalah mutlak apalagi harus dipaksakan kepada peserta didik. Sekalipun yang disampaikan sesuai menurut teori di buku. Guru juga bisa keliru, apalagi peserta didik.

Jika yang diajarkan hanya sesuai dengan buku, maka apa bedanya dengan copy kemudian paste? Anak-anak sekarang juga tinggal browsing saja di internet. Itu berarti, pendidik yang dibutuhkan hari ini harus lebih dari itu.

Jika kita hanya mengandalkan kemampuan yang sama seperti dulu kita diberi pendidikan, untuk memberi proses belajar kepada para peserta didik, maka bisa ditebak, peserta didik kita tidak berkembang secara maksimal sesuai dengan zamannya. Kita bisa jadi egois dengan menyamakan yang terjadi di masa lalu sehingga harus juga kita jadikan patokan mendidik anak-anak di masa ini. Kalau begitu, bukankah kita sudah membatasi kemerdekaan setiap peserta didik untuk belajar, untuk berkembang menjadi lebih dari diri kita sebagai peserta didik di masa lalu. Sedangkan kita tahu bahwa seharusnya kita mendidik anak kita sesuai dengan zamannya.

Oleh karena itu pendidik atau guru hari ini, nampaknya perlu berendah hati. Merasa bahwa peserta didik adalah kawan utama dalam proses pembelajaran. Kawan yang akan membantu tercapainya tujuan belajar. Dengan rendah hati, kita sebagai guru bukan hanya memberikan pengetahuan, melainkan lebih tinggi dari itu, yaitu kebijaksanaan. Hal itulah yang tidak terdapat di google dalam situs apapun.

 

  1. Menjadi Guru yang Berakhlakul Karimah

Keteladanan Pendidik merupakan senjata utama yang berpengaruh pada kepribadian peserta didik.  Pendidik yang senantiasa memberi contoh yang baik seperti kedisiplinan dari mulai hal kedisiplinan kehadiran di sekolah. Untuk mendisiplinkan siswa agar datang dan pulang tepat waktu, guru harus menjadi tauladan dengan datang sebelum peserta didik tiba, dan pulang setelah peserta didik tidak ada”. Selain itu dalam hal berpakaian, tutur kata dan sebagainya harus menjadi tauladan bagi pesertadidik.

 

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa kita sebagai pendidik harus menjadi orang terdepan dalam menerapkan jiwa-jiwa santri dalam kehidupan baik di lingkungan sekolah maupun di rumah. Jadilah pendidik yang “Ingarso Sung Tulodo” yaitu di depan memberi tauladan. Wallahu A’lam

 

Selamat Hari Santri, “Jadilah Guru yang Berjiwa Santri”

Kontributor: Ujang Kusnadi Guru MTs Puteran Pagerageung Tsm