Senin, 29-10-2018 | 09:59:33

Menghadirkan Tulisan Senikmat Gorengan

Oleh : Ali Mukhtar, S.Sos

Oleh : Ali Mukhtar, S.Sos

(Guru Mapel Bahasa Indonesia MA Alma’tuq Sukabumi)

Menulis, bagi penuntut ilmu, seyogyanya merupakan kemampuan dasar yang wajib dimiliki. Setiap pelajar, juga pengajar, rasa-rasanya pernah dan kudu mencicipi aktivitas satu ini. Bisa dikatakan, menulis adalah komponen yang melekat kuat dengan identitas mereka. Maka sudah sah dong bila saya katakan, status penuntut ilmu terasa hambar bahkan pahit jika dalam prosesnya mereka luput dari kegiatan menulis.

Namun, menghasilkan menu tulisan yang sedap dan menggoda mata tidak setiap orang mampu lakukan, oleh seorang akademisi sekalipun. Modal bisa serta biasa menulis saja tidak cukup. Harus tahu ilmunya, juga seninya. Ibarat koki masakan yang perlu mendalami seluk beluk memasak sehingga tahu mana racikan bumbu yang sesuai, bagaimana penyajian yang menarik, hingga segimana sih porsi yang pas. Cukup segitu? Belum. Mereka pun butuh lidah orang orang lain untuk tes rasa.

Berangkat dari hal tersebut, saya mencoba berbagi pengalaman mengenai dunia menulis. Karena dasar tulisan saya adalah pengalaman pribadi, Anda boleh setuju boleh tidak. Namun begitu, mudah-mudahan Anda  semua menikmatinya.

  1. Perhatikan porsi suapan kalimat Anda

Pembaca, ketika melahap tulisan kita, pasti melakukannya sesuap demi sesuap, kalimat demi kalimat. So bagaimana rasanya bila “suapan” kalimat yang kita sorongkan ke mulut mereka terlampau besar? Bisa-bisa mereka muntah alih-alih ditelan. Pun bila suapannya terlampau sedikit, mereka pasti gagal menyesap nikmatnya.

Hidangkan untuk mereka kalimat pendek-seperlunya saja. Kalimat pendek yang tetap utuh maknanya, nikmatnya. Bukan perkara susah kok melakukannya. Anda bisa menggunakan banyak tanda baca seperti titik (.), koma (,), tanda seru (!), dan selainnya untuk memperkecil porsi kalimat.

Sebagai contoh, perhatikan penggalan kalimat berikut:

Umar bin Khottob Radhiyallahu anhu lahir di kota Mekkah dari Bani Adi yang merupakan salah satu rumpun suku Quraisy dengan nama asli Umar bin Khottob bin Nafiel bin Abdil Uzza.

Yakin bisa menelan kalimat di atas sekaligus? Padahal tanpa mengurangi isi dan tanpa menambah jumlah karakter huruf, porsinya bisa dipecah menjadi tiga sampai empat kalimat pendek:

Umar bin Khottob Radhiyallahu anhu lahir di kota Mekkah. Beliau lahir dari Bani Adi,  salah satu rumpun suku Quraisy. Nama aslinya adalah Umar bin Khottob bin Nafiel bin Abdil Uzza.

Jika porsinya pas, tulisan panjang tetap nikmat kok dilahap.

  1. Buang bahan-bahan tidak penting dari tulisanmu

Upaya lain menghasilkan kalimat lezat adalah dengan membuang kata-kata tidak penting alias tidak diperlukan. Faktanya, banyak sekali kata-kata tidak penting berseliweran dalam tulisan di sekitar kita. Maksud kata-kata tidak penting adalah kata-kata yang tanpanya, kalimat yang kita buat tetap bermakna utuh. Bisa dikatakan, adanya bahan-bahan tersebut membuat tulisan kita tidak lagi efektif.

Umumnya, kata-kata tidak penting tersebut berupa konjungsi (kata sambung), seperti yang, untuk, maka, dengan, dan sejenisnya. Atau juga penggunaan dua kata yang memiliki makna yang sama. Penggalan terjemahan Hadits di bawah ini saya jadikan contoh:

Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka hendaklah dia berkata yang baik atau diam. (HR. Bukhari-Muslim)

Coba kita hilangkan kata-kata tidak penting dari penggalan terjemahan Hadits di atas:

Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka hendaklah dia berkata yang baik atau diam. (HR. Bukhari-Muslim)

Maknanya tetap utuh kan? Contoh-contoh lain:

Kami melakukannya demi untuk kebaikan bersama.

Sukabumi dilanda hujan deras. Akibatnya jalanan sangat sepi sekali dari lalu lalang orang.

Semangat saling bantu-membantu mereka mengagumkan dan layak diapresiasi.

Lebih mantap setelah disensor kan?

  1. Gunakan racikan tanda baca sesuai kebutuhan

Makanan yang lezat, dimulai dari racikan bumbu yang tepat. Begitu pun dengan tulisan kita. Jika tidak tepat dalam menggunakan “bumbu”, sehebat apa pun ide tulisannya, jadi gagal dinikmati. Bumbu yang saya maksud di sini ialah tanda baca.

Mayoritas kesalahan dasar yang saya amati dalam kasus ini adalah penggunaan tanda baca titik (.) dengan koma (,). Meski hal ini mendasar sekali, toh masih sering saya temukan kesalahan tersebut. Mungkin Anda pun sering menemukannya.

Beberapa kalimat berikut menjadi contoh:

Tradisi kenabian memiliki tiga tipologi yang harus dipisahkan, menurut Yassir Auda. Pembagian tersebut tidak sejalan dengan pendapat ulama terdahulu.

Kalimat di atas akan sangat berbeda arti ketika kita salah menempatkan tanda baca titik (.) dan koma (,). Coba kita ubah menjadi:

Tradisi kenabian memiliki tiga tipologi yang harus dipisahkan. Menurut Yassir Auda, pembagian tersebut tidak sejalan dengan pendapat ulama terdahulu.

Nah, fatal sekali kan akibat penggunaan tanda baca yang tidak tepat?

  1. Saat mengolah bahan, libatkan emosi penikmat tulisan Anda

Penikmat tulisan Anda adalah orang lain. Yang menilai tulisan Anda juga orang lain. Oleh karena itu, baiknya seorang penulis memasukkan emosi pembaca tulisannya dalam proses menulis. Tujuannya agar terbangun interaksi antara penulis dengan pembaca. Interaksi ini dibutuhkan dalam memuluskan proses internalisasi konsep yang penulis tawarkan kepada pembaca.

Ada beberapa langkah praktis yang bisa dilakukan seorang penulis dalam melibatkan emosi pembacanya.

Pertama, selipkan dialog interaktif dengan pembaca. Dialog ini bisa berbentuk ajakan untuk setuju dengan konsep yang penulis berikan, ajakan untuk merenung bersama, tersenyum, tertawa atau bahkan menangis bersama. Kalimat bergaris bawah di bawah ini bisa jadi contoh:

Menulis berarti mengaktifkan seluruh indera dalam diri manusia. Dengan menulis, Anda tengah mengkonsentrasikan seluruh komponen tubuh Anda dalam satu aktivitas. Anda yang rajin menulis pasti setuju kan?

Kedua, panggil langsung pembaca tulisan Anda. Baik dengan panggilan Anda, kamu, kalian, guys, dan selainnya, tergantung untuk siapa tulisan yang Anda buat. Dengan cara begitu pembaca merasa sedang ngobrol dan bertatap muka langsung dengan penulis.

Ketiga, dekatkan contoh, istilah, masalah, judul hingga tema tulisanmu dengan aktivitas keseharian calon pembaca. Dengan mendekatkan hal-hal tersebut kepada keseharian mereka, emosi pembaca akan lebih bermain di tulisan Anda. Mereka akan ikut merasakan apa yang Anda tulis, mereka bahkan bisa ikut tergerak mengikuti arahan Anda melalui tulisan tersebut.

Nomor dua dan tiga tidak perlu contoh lah ya. Saya yakin sudah bisa dipahami dengan baik.

Nah, selain tiga langkah di atas, Anda pun pasti sudah memiliki jurus-jurus tersendiri dalam memikat emosi penikmat setia tulisan Anda. Tiga langkah di atas hanya yang sifatnya umum dan bisa dipraktikkan siapa saja.

  1. Sebelum dihidangkan, ajak orang lain mencicipi tulisanmu

Apa yang kita anggap lezat, belum tentu nikmat bagi orang lain. Begitulah selera manusia. Karenanya agar tulisan kita “kemakan” orang lain, sebelum dihidangkan, alangkah baiknya kita meminta orang lain untuk tes rasa. Tidak perlu ke semua orang, cukup dua atau tiga orang untuk sekedar tahu pendapat mereka. Jika mereka sepakat dengan isi dan cara kita menyajikan tulisan tersebut, itu berarti tulisan kita sudah siap publish. Sebaliknya saat lebih banyak nyinyiran yang bersuara, itu artinya kita harus me-review dan mengolah lagi tulisan kita.

Namun tips terakhir ini saya rasa tidak diperlukan saat tulisan Anda sudah terkenal seantero dunia pembaca. Karena bisa jadi malah menghambat produktivitas Anda dalam menulis. Namun, sebagai penulis, tentu saja kita tetap harus open mind dengan semua yang masuk ke dalam telinga kita, baik ulasan positif maupun negatif. Karena sejatinya, penulis itu adalah kritikus lingkungan sekitarnya. Lha masak iya kritikus tapi anti kritik. Kan enggak nyambung.