Kamis, 25-10-2018 | 09:08:19

Santri Melawan Narasi Hoax

Oleh H. Ade Irawan ( Kepala TU MAN 2 Bogor)

Hari Santri dan Makna Untuk Negeri

Alhamdulillah, jelang peringatan hari santri Jagat dunia maya sudah mulai diramaikan dengan ucapan dan gambar-gambar mengenai peringatan hari santri yang jatuh pada 22 Oktober. Banyak orang yang mulai merancang dan membuat desain kata dan logo plus slogan hari santri tahun 2018 ini, bahkan tak segan-segan mereka mulai mengapload di media social mereka. Kondisi ini tentu sangat menyenangkan, setidaknya eforia peringatan hari santri menjadi symbol akan kondisi Indonesia sesungguhnya. Tak bisa dipungkiri memang, sejarah panjang pendidikan pesantren di Indonesia mengalami jalan panjang bahkan bisa dikatakan berliku, namun seiring berjalannya waktu eksistensi dan esensi pendidikan pesantren menunjukan jati dirinya sehingga tetap kokoh dan bertahan hingga kini. Maka, hari santri memiliki makna yang special pada tahun ini, bila sebelumnya memiliki slogan atau tema wajah pesantren, wajah Indonesia.

Tahun 2018 ini, slogan Hari santri Nasional cukup menarik yaitu bertema Bersama santri damailah negeri, tema ini tentu menjadi sebuah harapan besar bagi bangsa Indonesia. Dimana kini, hiruk pikuk pada masyarakat diwarnai berbagai kondisi, kondisi-kondisi ini ikut mewarnai berbagai pergaulan hidup sesama anak bangsa mulai dari kondisi politik, ekonomi, social dan budaya, bahkan komunikasi informasi menjadi hal yang dominan yang ikut membungkus keadaan masyarakat hari ini. Tak jarang hari ini, banyak diantara sesame masyarakat berkonflik hanya karena perbedaan pilihan, atau perbedaan politik, tak hanya itu dengan kemudahan teknologi informasi (media social, red) dengan mudahnya saling memberikan informasi yang kebenarannya belum bisa dipercaya sehingga banyak yang terprovokasi akan berita bohong (hoax) tersebut, belum lagi begitu cepatnya kejahatan dunia maya merajela sebut saja prostitusi onlie, judi online dan kejahatan cybercrime lainnya.

Tentu ini menjadi tantangan besar bagi siapapun, namun dalam peringatan hari santri menjadi momentuk kembali untuk melihat Indonesia seutuhnya, dimana segala kondisi yang telah diuraikan diatas menjadi perhatian para santri, untuk tetap menggelorakan makan sesugguhnya dari Bersama santri damailah negeri, artinya santri menjadi agent ofe change atas proses terjaganya keuntuhan NKRI dalam balutan peci, sarung dan koko. Karena sejatinya, santri adalah mereka yang akan tetap menjaga ibu pertiwinya atau tanah kelahirannya tetap damai menjadi Indonesia yang baldatun warabur ghofur, karena hanya dengan kedamaianlah masyarakat akan sejahtera, adil dan makmur.

 

Santri dan Era e-Commerce

Bersama Santri Damailah Negeri menjadi tema besar Hari Santri 2018, tantangan yang dihadapi para santri adalah perkembangan teknologi yang begitu massif, bagaimana tidak hampir setiap jiwa di Indonesia sudah memiliki smartphone. Kondisi ini, menjadi persoalan tersendiri seperti dua mata pisau, apabila salah dalam menggunakannya tentu akan menjadi bencana. Ya, era e-commerce telah masuk disemua lini, dikalangan masyarakat biasa, menengah, atas bahkan di rakyat jelata, semua telah bergantung kepada komunikasi informasi, tak terkecuali dunia pendidikan. Hampir semua anak usia sekolah sudah sangat paham dengan penggunaan smartphone dan menggunakan media social.

Perlu diketahui, data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) menunjukkan bahwa pengguna internet di Indonesia sudah mencapai 132,7 juta. Meningkatnya perkembangan pengguna internet di Indonesia memiliki dampak positif antara lain semakin meningkatnya pertumbuhan e-commerce di Indonesia. Namun, di saat yang sama, pertumbuhan pengguna yang massif ini membuka ruang lebih luas untuk meningkatnya radikalisme digital, jejaring teroris online, berita palsu, ujaran kebencian dan cyberbullying. Hal itu terlihat dengan begitu banyaknya informasi hoaks. Berita-berita hoax yang menyesatkan beredar lewat berbagai jalur digital, termasuk situs media online, blog, website, media sosial, email, dan aplikasi pesan instan. Menurut The Jakarta Post, sejak 2008 lalu sebanyak 144 orang telah diproses hukum karena akibat Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE), terutama terkait berita palsu dan ujaran kebencian di media sosial. (https://nasional.kompas.com/read/2017/11/07/08020091/cara-cerdas-mencegah-penyebaran-hoax-di-media-sosial.)

Dari data diatas menunjukan betapa cepatnya teknologi informasi ini merasuk dan masuk ketengah-tengah masyarakat termasuk generasi muda Indonesia, atau generasi mileneal dan santri pun masuk didalamnya, lalu bagaimana seyogyanya seorang santri melihat sisi ruang ini, tertuang dalam QS Al Hujurat (6) “Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu.”

Dan dipertegas oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya :

“Berhati-hatilah kalian dari tindakan berprasangka buruk, karena prasangka buruk adalah sedusta-dusta ucapan. Janganlah kalian saling mencari berita kejelekan orang lain, saling memata-matai, saling mendengki, saling membelakangi, dan saling membenci. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara”. [H.R. Al-Bukhari hadits no. 6064 dan Muslim hadits no. 2563]

Dengan dua ayat dan hadist tersebut, maka jelas pegangan kaum santri dimana dalam setiap menerima informasi yang belum tentu kebenarannya di berbagai media untuk tidak grasa-grusu, langsung share ke berbagai media yang ada. Karena Imam Ali pernah berpesan, “Andai orang yang tidak tahu itu diam maka akan lunturlah perpecahan”

Membumikan Intelektualitas Santri

Kondisi masyarakat yang cukup beragam dan mengalami perkembangan yang sangat pesat dari berbagai dimensi tentu dibutuhkan anggota masyarakat yang memiliki pola pikir yang baik, cerdas, ulet, jernih, suka bermusyawarah, suka tabayun, dan Santri sebagai agent of moral force (kekuatan moral). Dengan cap baik yang sudah tersemat itu, maka layaklah Santri menjadi kebangaan Indonesia kini, dimana sebagai agen masyarakat yang bisa menjaga kedamaian NKRI dari berbagai tantangan dan paham-paham raddikalisme yang akan merusak keutuhan bangsa.

Namun, kaum santri hingga saat ini masih dikesankan sebagai sosok yang lugu, dan kurang bergaul sehingga mudah diajak untuk melakukan tindakan yang negative, sehingga tak jarang banyak yang terjebak dalam pemahaman yang dangkal. Padahal, sejak awal bagi para santri yang merasakan pernah mondok, hampir setiap waktu di lingkungan pesantren diajarkan berbagai kedislpinan, taat aturan, dan nilai-nilai kebaikan lainnya. Maka, dengan peringatan hari santri nasional ini, jadi momentum yang pas untuk kembali mengangkat wajah santri Indonesia yang sesungguhnya, dimana santri Indonesia memiliki segudang nilai-nilai kebaikan yang telah diterpa dan diterima selama mondok. Dan selama santri memegang nilai-nilai islam yang rahmatan lil alamin, tentu keberagaman Indonesia akan tetap terjaga hanya dengan cara terus membumikan intelektualitas dan untuk tidak mudah percaya dengan informasi yang belum tentu kebenarannya (hoax), caranya yaitu dengan berhati-hati dengan judulatau informasi  provokatif, Cermati alamat situs, Periksa fakta, Cek keaslian foto dan Ikut serta grup diskusi anti-hoax.

Akhirnya, hari santri hanyalah moment bagaimana kembali mengenang perjuangan dunia pendidikan khususnya pesantren dalam mengisi kemajuan pendidikan Indonesia. Dengan kondisi bangsa yang saat ini, maka sejatinya, santri akan tetap berdiri sebagai agent of moral force, karena apapun yang dilakukan setiap manusia tentu akan dilihat oleh Allah SWT. Sebagaimana  Allah SWT telah berfirman dalam surat Al-Isra’ ayat 36 : ”Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggung-jawabannya”. (*)