Kamis, 18-10-2018 | 07:09:14

Game "Siap, Tembak, Dor!" Penembak Jitu Pendidikan Bermutu (Memastikan Setiap Murid Yang Berbeda Dapat Belajar Secara Setara)

Soheh Rudianto (Guru MIN 4 Sukabumi)

 

Oleh: Soheh Rudianto (Guru MIN 4 Sukabumi)

A. Tanggung jawab Guru

Saya adalah seorang guru pertama dengan pangkat IIIb, bertugas di MIN 4 Sukabumi, yang hingga kini telah genap delapan tahun mengabdikan diri di madrasah ini, walaupun dalam kurun waktu yang masih terbilang singkat utuk sebuah pengabdian, tetapi liku-liku perjuangan seorang guru, sedikit banyak sudah  mulai dirasakan. Sejak awal saya selalu ditugasksan oleh kepala madrasah sebagai guru kelas di kelas lima. Walaupun sebenarnya pernah satu tahun pelajaran ditugaskan di kelas enam.

Menurut sebagian ahli pendidikan, anak kelas lima itu boleh dibilang anak yang benar-benar sedang mencari jati dirinya, dalam usianya yang rata-rata 11 dan 12 tahun, mereka sudah jauh lebih dewasa jika dibanding dengan anak-anak yang ada di  bawahnya yaitu lelas 1-4, sehingga mereka berharap mendapat pengakuan dan penghormatan dari para juniornya. Namun walaupun begitu, masih setahun lagi berada dipuncaknya yaitu kelas enam. Masih satu tahun lagi untuk menghadapi ujian akhir. Sehingga masa-masa ini dimanfaatkan oleh sebagian besar dari mereka untuk mengekspresikan keinginan dan jati diri yang sebenarnya, boleh dibilang mereka agak nakal, agak bandel dan sebagainya.

Anak-anak seusia itu memang unik, karena mereka diciptakan dengan segala kelucuan dan keluguannya. Segala keinginannya hanya bisa diekspresikan dengan dua cara, menangis manja atau senyum bahagia. Mereka kadang-kadang membuat bangga, tapi kadang-kadang juga bisa membuat putus asa orang-orang di sekelilingnya. Selain itu, mereka juga adalah amanah yang harus diamankan. Tanggung jawab mengurus pendidikan mereka ada di pundak guru dan juga orang tua. bersungguh-sungguhlah mengurusi mereka, karena jangan khawatir! guru yang sungguh-sungguh mengurus  mereka, Allah akan sungguh-sungguh mengurus guru yang telah sungguh-sungguh mengurus mereka.

Guru adalah sosok seorang pembelajar dan suri teladan. Di dalam kelas, guru memiliki otoritas untuk membentuk sikap, kepribadian, pengetahuan, dan keterampilan  peserta didik, sehingga sosok seorang guru haruslah sempurna dihadapan mereka, dari mulai hal-hal yang kecil sampai hal-hal yang besar menjadi perhatian, dari mulai cara berpakaian, cara berbicara, cara bergaul, terutama cara melakukan pembelajaran di dalam kelas, guru harus memiliki integritas, profesionalitas, inovasi, tanggung jawab, dan keteladanan. Dengan kriteria itulah, diharapkan para guru dapat membentuk generasi yang cerdas, trampil, dan berakhlak mulia, untuk membangun nusa, bangsa, dan agama.

Dalam Undang-Undang Guru dan Dosen Nomor 14 Tahun 2005 disebutkan bahwa: guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevalusi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar dan menengah. Sehingga terformulasi tugas guru secara umum adalah Sebagai pengembang kurikulum, mentransfer ilmu pengetahuan, sains dan teknologi, memberikan layanan konseling dan kecakapan hidup, membentuk watak dan kepribadian peserta didik  yang harmonis, dan sebagai mediator antara sekolah dan masyarakat.

B. Sasaran Yang Ingin Dicapai

Dengan modal kewenangan yang diberikan oleh pemerintah dan kepercayaan dari masyarakat, serta seluruh orang tua wali murid, tentu hal ini merupakan kesempatan, titian mutiara, jembatan emas bagi saya sebagai seorang guru untuk mengabdikan diri dengan segenap kompetensi dan kemampuan untuk ikut andil dalam mencerdaskan kehidupan anak bangsa, dalam suasana keberagaman dan keunikan siswa masing-masing.

Terlebih di kelas lima yang saya pegang saat ini, dengan jumlah peserta didik sebanyak 34 orang, terdiri dari laki-laki dan perempuan, semuanya memiliki  karakteristik dan latar belakang baik itu ekonomi,  intelektual , dan keluarga yang berbeda-beda. Namun dari semua perbedaan itu, ada dua orang peserta didik saya yang diantaranya memiliki kesenjangan intelektual yang sangat jauh jika dibandingkan dengan yang lainnya, yang belakangan mereka berdua diketehui masuk dalam katagori tunagrahita dan slow learner. Tunagrahita adalah individu yang memiliki intelegensi yang signifikan berada dibawah rata-rata dan disertai dengan ketidakmampuan dalam adaptasi prilaku yang muncul dalam masa perkembangan. klasifikasi tunagrahita berdasarkan pada tingkatan kecerdasan atau IQ.

Pendidikan di kelas lima yang saya pegang, harapannya adalah pendidikan yang dapat menyentuh kebutuhan semua peserta didik dengan segala kelebihan dan kekurangannya, dengan segala keunikan dan kerumitannya, termasuk di dalamnya peserta didik yang masuk dalam katagori peserta didik berkebutuhan khusus (PDBK). semuanya dipastikan mendapatkan layanan pendidikan yang sama dalam satu kelas dan dalam satu ruangan.

C. Persiapan Pembelajaran

Tahapan awal dalam sebelum kegiatan pembelajaran di dalam kelasa adalah Kegiatan identifikasi karakteristik peserta didik. Identifikasi peserta didik sebelum proses pembelajaran merupakan diagnosa untuk memperoleh informasi awal tentang keberadaan peserta didik, baik mengenai latar belakang keluarga, intelektual, ekonomi dan sebagainya. Yang nantinya sangat berguna bagi pendidik untuk menentukan dan membuat rancangan pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik itu sendiri. Oleh karena itu, kegiatan identifikasi perilaku dan karakteristik peserta didik merupakan proses untuk mengetahui jenis dan tingkat intelegensi, perilaku   peserta didik sebelum mengikuti proses pembelajaran.

Diagnosa awal terhadap karakteristik peserta didik juga merupakan salah satu instrumen penentu dalam keberhasilan proses pembelajaran. instrumen ini didefinisikan sebagai aspek-aspek atau kualitas individual peserta didik. Aspek-aspek ini bisa berupa minat, bakat,  sikap, motivasi belajar, gaya belajar, dan tingkat intelegensi yang dimilikinya. Karakteristik peserta didik akan sangat berpengaruh dalam menentukan pengelolaan kelas, menetukan pendekatan,  strategi, metode, teknik, dan model pembelajaran agar sesuai dengan karakteristik individu peserta didik.

Selain itu, konsekuensi logis dari identifikasi peserta didik ini juga, nantinya akan berimbas kepada kebijakan guru dalam memodifikasi perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian hasil belajar. Dengan sasaran utama dalam penentukan batasan antara perilaku yang perlu diajarkan dan perilaku yang tidak harus diajarkan kepada peserta didik kemudian dirumuskan dalam tujuan pembelajaran dan indikator pencapaian kompetensi. Yang berdasarkan informasi-informasi tersebut, guru dapat membuat rancangan pembelajaran sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik peserta didik yang berpariatif. Baik dari perbedaan gender, suku, adat, budaya, tingkat intelektual, dan emosional.

D. Tantangan Yang Dihadapi

Mengajar di kelas yang memiliki peserta didik dengan latar belakang dan karakteristik yang berbeda-beda, adalah sebuah tantangan dan sekaligus kebanggan. Disebut tantangan karena pada satu sisi, dengan keterbatasan kemampuan dan kompetensi serta latar belakang pendidikan yang pernah saya tempuh, bidang kesarjanaan yang kurang begitu mendalam dalam bidang psikologi dan perkembangan anak, sehingga ketika dihadapkan pada pembelajaran yang nyata dan sesungguhnya di dalam kelas, terutama situsi kelas yang berpariasi, yang paling dirasakan adalah bagaimana kesulitan memahami karakteistik dan psikologi pesesrta didik, sehingga saya harus lebih banyak membaca, dan belajar. Di sisi lain tantangan dan kesulitan muncul dari peserta didik itu sendiri.

Tantangan dari sisi peserta didik inilah merupakan tantangan yang sangat  berat yang dirasakan  bagi seorang guru, yang nota bene guru ada pendidik profesiolan, yang sebenarnya kemampuannya juga terbatas, apalagi guru kelas, yang hanya tahu sedikit tentang banyak, artinya banyak mata pelajaran yang dipelajari tetepi tidak mendalam; berbeda dengan seorang yang benar-benar ahli, seperti guru mata pelajaran, mereka akan tahu banyak tentang sedikit, artinya orang yang hanya menggeluti satu bidang ilmu, tentu akan lebih mendalam keilmuannya sehingga antara guru dan siswa juga harus sama-sama belajar dan mengambil pelajaran. 

Sebagimana telah dikemukakan di awal, bahwa di kelas lima yang saya pegang saat ini, dari jumlah 34 orang siswa, yang terdiri dari laki-laki dan perempuan, semuanya memiliki  karakteristik dan latar belakang baik itu ekonomi,  intelektual , dan keluarga yang berbeda-beda. Namun dari semua perbedaan itu, ada dua orang peserta didik yang diantaranya memiliki kesenjangan intelektual yang sangat jauh jika dibandingkan dengan yang lainnya, yang belakangan mereka berdua diketehui masuk dalam katagori tunagrahita dan slow learner.

Tantangan  ini adalah sebuah ujuan profesionalitas  yang harus dijawab dengan langkah kerja yang nyata, diselesaikan dengan baik dan penuh tanggung jawab. Sehingga pada akhirnya semua peserta didik dapat merasakan pembelajaran yang sama, di kelas yang sama, tanpa tehalang oleh predikat perbedaan yang mereka sandang. Baik perbedaan sosial, budaya, agama, tingkat kecerdasan, dan perbedaan-perbedaan yang lainnya.

Bahkan pada akhirnya tantangan dan hambatan, yang berupa perbedaan kondisi keberagaman dan karakteristik  peserta didik tersebut, bagi saya sebagai seorang guru yang bukan latar belakang pendidikan psikologi dan belum banyak pengalaman, akan  dijadikan sebuah pelajaran dan pengalaman yang sangat berharga, untuk menempa  diri dari cara bersikap, berfikir, dan bertindak agar menjadi guru yang lebih dewasa dan bijaksana dalam membuat sebuat perencanaan dan mengambil sebuah keputusan.

E. Strategi Yang Dilakukan

Berawal dari ide yang didapatkan dari anak-anak pramuka, dimana anak-anak pramuka mempunyai prinsip belajar sambil bermain, artinya dalam setiap pembelajaaran selalu disisipkan unsur-unsur permainan, sehingga mereka tidak menemukan titik-titik kejenuhan dalam proses pembelajarannya. Dari mereka saya melihat sebuah permainan edukatif yang sangat menarik, yang sangat cocok diterapkan di dalam ruangan kelas untuk materi pembelajaran konsep yang disebut game “siap, tembak, dor!”

Game permainan  “siap, tembak, dor !” tersebut sudah cukup lama saya   terapkan dalam proses pembelajaran di dalam kelas, ternyata hasilnya sangat luar biasa, dapat dengan cepat menghafal teori-teori dan konsep; game ini selain permainan, tapi juga melatih kedisiplinan, konsentrasi, terbiasa mengatur siasat dan strategi, dan kebersamaan atau kekompakan antara peserta didik regular dengan anak yang berkebutukan khusus (PDBK). Adapun langkah-langkah permainannya adalah sebagai beriku:

  1. Tujuan Permainan:
  • Melatih kedisiplinan
  • Melatih konsentrasi
  • Melatih kekompakan
  • Mengatur strategi
  1. Pelaksanaan:
  • Peserta dibagi menjadi beberapa kelompok sesuai dengan jumlah siswa/ peserta didik yang masing-masing kelompok beranggotakan 4 orang. Setiap kelompok mempunyai nama yang berbeda disesuaikan dengan materi yang akan sedang dipelajari, Misalnya: setiap kelompok dinamai dengan nama Negara-negara ASEAN, nama-nama provinsi atau bandara yang ada di Indonesia.
  • Masing masing kelompok membentuk barisan leter U atau lingkaran agar masing-masing kelompok bisa saling berhadapan antara yang satu dengan yang lainnya.
  • Peserta dari kelompok “Singapur” yang berada disebelah kiri memberikan komando, dan berkata, “siap!” dilanjutkan peserta disampngnya dengan berkata “Tembak!” kemudian dua orang anggota yang paling kanan lagi berkata, “Dor!” sambil mengarahkan tangan, menyerupai orang yang sedang menembak dan menyebutkan nama group yang menjadi sasaran tembaknya, misalnya “Vietnam“  Kemudian group  Vietnam merespon tembakan dengan  melakukan hal yang sama kemudian menunjuk kelompok yang lain yang menjadi sasaran tembaknya.
  • Untuk lebih lucu dan serunya bisa ditambahkan aturan, apabila peserta paling kanan, setelah berkata “Dor!” maka harus pindah ke sebelah paling kiri.

Permainan ini selain untuk seru-seruan, menentukan pemenang, permainan ini bertujuan melatih kedisiplinan, kesigapan dalam kelompok,  konsetrasi, dan kekompakan, juga yang terpenting guru harus memastikan seluruh peserta didik harus terlibat di dalamnya, termasuk peserta didik yang memiliki kebutuhan khusus (PDBK) sebagai upaya menyukseskan pendidikan inklusi di sekolah regular.

Oleh karena itu, dalam kondisi apapun, dalam situasi apaun, didiklah mereka pada sesuai dengan zamannya, ajari mereka sesuai dengan masanya dan bimbing mereka sesuai dengan potensinya, pahami dunianya, ketahui keinginannya, dan bijak dalam menyikapinya, dan janganlah mengeluh,  karena dengan mengeluh kita sudah mengalah terhadap tanggungjawab kita selaku pendidik.

F. Kesimpulan

Berdasarkan paparan singkat pengalaman kegiatan pembelajaran yang pernah dilakukan di kelas V   MIN 4 Sukabumi, maka dapat saya simpulkan sebagai berikut:

  • Identifikasi karakteristik peserta didik adalah bagian terpenting yang harus dilakukan guru sebelum memulai proses pembelajaran, sebab dengan identifikasi karakteristik peserta didik, guru dapat membuat perencanaan, penerapan strategi, metode, dan model-model pembelajaran yang  sesuai dengan potensi yang dimiliki dan dibutuhkan oleh peserta didik, baik peserta didik yang biasa ataupun yang PDBK.
  • Melatih itu tidak boleh latah, mengajar mesti bersabar, sebab pendidikan bukan hasil dadakan, tapi harus penuh dengan perhitungan dan matang dalam perencanaan.