Selasa, 25-09-2018 | 12:11:43

Saintifik, Jangan Panik Bila Dikritik

Soheh Rudianto, M.Pd. (Guru MIN 4 Sukabumi)

Oleh:

Soheh Rudianto, M.Pd. (Guru MIN 4 Sukabumi)

Dalam setiap penerapan kebijakan publik oleh pemerintah, pro dan kontra di masyarakat pasti ada, termasuk pada penerapan kebijakan implementasi Kurikulum 2013. Walaupun demikian, Pro dan kontra itu dipandang  lumrah di negara demokrasi seperti Indonesia, mungkin semua motivasinya sama, yaitu lantaran sayang terhadap kemajuan pendidikan di Indonesia. Pada saat pemerintah melaunching implementasi kurikulum 2013, baik yang pro ataupun yang kontra itu sama-sama banyaknya. Bisa jadi hal itu hanya sebagai traiger dari masyarakat, agar para pembuat kebijakan tidak semena-mena dalam menerapkan sebuah kebijakan; atau hanya sekadar bumbu dan pewarna dalam penerapan sebuah kebijakan.

Kurikulum 2013 yang lebih familiar disebut "Kurtilas" pertama kali di implementasikan pada tahun pelajaran 2014/2015 berdasar Peraturan Pemerintah No. 32 Tahun 2013 tentang perubahan atas PP. No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan (SNP) dan Permendikbud No. 81 A tentang implementasi kurikulum 2013.

Di mana dalam implementasinya, Kurtilas itu dilaksanakan secara bertahap, yaitu: Untuk jenjang SD/MI di tahun pertama  diimplementasikan di kelas I dan IV, di tahun kedua kelas I, II, IV dan V dan di tahun ketiga dari muali kelas I-VI sudah melaksanakan Kurtilas secara keseluruhan.

Dalam perjalanannya, ternyata implementasi Kurtilas di sekolah tidak semulus apa yang sudah direncanakan, karena sempat ditangguhkan, seiring dengan kebijakan pemerintahan yang baru, yaitu Pemerintahan Jokowi-JK menggantikan pemerintahan SBY-Budiyono. Melalui Permendikbud No. 160 Tahun 2014 maka implementasi kurtilas di sekolah yang berada di bawah naungan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sejak semester ke dua tahun  itu resmi ditangguhkan.

Walaupun pada akhirnya, implementasi Kurikulum 2013 di sekolah dilanjutkan kembali, seiring dengan terbitnya Surat Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor: 253/KEP.D/KR/2017 Tentang Penetapan Satuan Pendidikan Pelaksana Kurikulum 2013 Tahun 2017 dan Nomor: 254/KEP.D/KR/2017 Tentang Penetapan Kembali Satuan Pendidikan  Pelaksana Kurikulum 2013 Tahun 2016. Surat keputusan ini menjadi dasar dan pijakan bagi satuan pendidikan untuk melaksanakan Kurikulum 2013.

Walaupun ada kebijakan penangguhan Kurtilas dari Kemendikbud, namun madrasah-madrasah yang berada di bawah naungan Kementerian Agama tetap melanjutkan implementasi Kurtilas tersebut, dengan dasar Surat Edaran Dirjen Pendis: SE/DJ.I/PP.00/143/2015 tentang Implementasi Kurikulum 2013, sehingga dengan demikian pada tahun Pelajaran 2016/2017 di madrasah telah menerapkan kurikulum 2013 secara keseluruhan. Kelas I-VI untuk MI, kelas VII-IX untuk MTs., dan kelas X-XII untuk MA.

Kurikulum 2013 diimplementasikan di sekolah/madrasah yaitu menggantikan KTSP 2006 yang sudah lama diberlakukan, yaitu kurang lebih 8 tahun. Yang menurut para pakar pendidikan,  bahwa dalam prinsip-prinsip pengembangan kurikulum itu harus mempetimbangkan berbagai hal, diantaranya untuk meningkatkan Iman,Taqwa, dan Akhlak Mulia, kebutuhan Kompetensi masa depan, tuntutan pembangunan daerah dan nasional, tuntutan dunia kerja, dan tuntutan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni. Sehingga dengan dasar pertimbangan itulah, keberadaan KTSP 2006 harus segera disesuaikan.

Adapun perubahan yang menjadi pembeda dalam Kurtilas dengan kurikulum sebelumnya (KTSP 2006) adalah:  (1). Perubahan pada empat standar pendidikan, yang meliputi: Standar Kompetensi Lulusan (SKL), Standar Isi, Standar Proses dan Standar Penilaian (2). Pendekatan pembelajaran yang digunakan yaitu pendekatan Saintifik(3). Sistem penilaian yang digunakannya, yaitu penilaian Autentik (4). Kegiatan pembelajarannya Tematik Terpadu yang mengintegrasikan beberpa mata pelajaran ke dalam satu tema. Sehingga di dalam Kurikulum 2013  SD/MI ini memiliki ciri khas sebagai berikut: Pembelajarannya Tematik, pendekatannya  Saintifik, Penilaiannya  Autentik serta  mengedepankan kompetensi sikap, daripada  pengetahuan, dan keterampilan.

Pendekatan saintifik adalah pendekatan pembelajararan yang menggunakan lima langkah kegiatan pembelajaran, yang dikenal dengan 5M, yang dimulai dari proses Mengamati, Menanya, Menalar, Mengasosiasi dan Mengomunikasikan hasil kegiatan pembelajaran.

Rupa-rupanya, dengan mengusung Jargon  "Saintifik, Tematik dan Autentik" ini, Kurtilas sengaja di desain bak ksatria penyelamat pendidikan di Indonesia dari keterpurukan, yang konon katanya kualitas pendidikan Indonesia saat ini sudah jauh tertinggal jika dibanding dengan negara-negara tetangga anggota ASEAN, seperti Singapura dan Brunei Darussalam, bahkan tertinggal dari  Malaysia dan Thailand. Saat ini Indonesia berada di posisi 108 di dunia dengan skor 0,603. Hanya sebanyak 44% penduduk menuntaskan pendidikan menengah. Sementara 11% murid gagal menuntaskan pendidikan alias Drop out dari sekolah, seperti yang dilansir news.okezone.com, 25 Nopember 2017.

Alih-alih Kurtilas untuk memperbaiki kualitas pendidikan yang selama ini dipandang mengalami penurunan, tetapi dalam praktik penerapannya di sekolah/madrasah ternyata tidak sedikit mengalami kendala, baik kendala teknis ataupun kendala nonteknis. Bahkan yang paling miris adanya satire yang berkembang dikalangan para pendidik itu sendiri, bahwa penerapan Kurtilas hanya sebatas uji coba atau eksperimen saja bagi mereka para pembuat teori pendidikan. Pernyataan para guru ini tentu bukan sebatas isapan jempol, tapi dengan alasan yang cukup teoritis dan logis, yaitu dengan adanya bongkar pasang aturan dan kebijakan Kurikulum 2013. Itu sudah cukup menunjukkan adanya keraguan dan kerancuan Pihak terkait dalam penerapan Kurtilas ini.

Selain itu, dalam praktiknya pembelajaran Tematik Terpadu ternyata lebih menyulitkan guru-guru dalam membuat  administrasi pembelajaran, seperti dalam membuat jaring-jaring tema dan RPP. Karena selalu ada saja materi-materi pembelajaran yang sebenarnya tidak nyambung ke dalam tema, lalu dipaksakan supaya nyambung, akibtnya menyulitkan dalam pembuatan RPP juga dalam proses pembelajarannya.

Dari paparan singkat di atas, saya akan mencoba mengemukakan ide dan gagasan yang tentu berdasarkan pengalaman dan best practices yang dialami selama beberapa tahun melakukan proses pembelajaran di dalam kelas. Baik itu ketika saya melakukan proses pembelajaran dengan kurikulum KBK, KTSP 2006, ataupun ketika melakukan proses pembelajaran dengan kurikulum 2013 yang baru. Sehingga diperoleh kesimpulan sebagai berikut:

  1. Dari segi substansi materi Kurikulum 2013 sudah sangat sesuai dengan reasoning yang diharapkan dalam implementasi kurikulum saat ini, terutama dengan keputusan menempatkan ranah sikap di atas ranah pengetahuan dan keterampilan.
  2. Dari segi pendekatan pembelajaran yang digunakan, yaitu pendekatn saintifik juga sudah sangat baik, karena dalam proses pembelajarannya, peserta didik diajak untuk mengalami sendiri, yang tentu hasil pembelajaranpun  akan lebih tertanam pada diri dan hati mereka.
  3. Tematik terpadu dirasa lebih menyulitkan guru-guru dalam meramu dan merancang proses pembelajaran di kelas. Karena guru-guru akan lebih disibukan mengurusi administrasi pembelajaran, ketimbang  proses pembelajaran yang lebih utama.
  4. Tematik terpadu sebaiknya di kembalikan lagi ke pembelajaran dengan pendekatan mata pelajaran seperti pada KTSP 2006 dengan ramuan "KTSP Saintifik", karena toh, pada akhirnya, penilaiannya pun dikembalikan kepada penilaian mata pelajaran; atau bila perlu, kita meniru negara-negara maju yang konon katanya lebih menyederhanakan jumlah mata pelajaran.

Semoga artikel ini bermanpaat dalam mencapai tujuan pendidikan nasional yaitu "mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab."