Selasa, 28-08-2018 | 22:10:31

Iktibar Dari Anak Yang Lapar

Iktibar Dari Anak Yang Lapar

Oleh: Soheh Rudianto, M.Pd.

(Guru MIN 4 Sukabumi)

Pagi itu sekira jam istirahat anak sekolah, seperti biasa ku tidak beranjak dari tempat duduk dan masih tetap di ruangan kelas. Mungkin karena males ke kantor atau ke kantin setelah ruangan guru untuk beristirahat tidak ada lagi.

Seperti biasa, kusuruh semua anak-anak untuk beristirahat di luar ruangan kelas. Karena selain untuk menjaga kebersihan ruangan, juga supaya anak-anak bisa kondusif lagi ketika masuk nanti selepas istirahat.

Namun, setelah tiga kali aku menyuruh mereka untuk keluar, masih tetap saja ada satu orang siswa yang masih belum beranjak dari tempat duduknya. Awalnya ku beranggapan itu siswa bandel tidak mau keluar. Lalu siswa itu kuhampiri untuk memastiknnya. ternyata dia adalah IG muridku kelas 5. Lalu dia kupanggil-panggil. IG ... IG... IG... sampai tiga kali ...tapi tetap dia tidak bergeming seolah tidak menghiraukan panggilanku. Lalu benar-benar kuhampiri dan sambil ku tepuk bahunya. Dia kaget seolah baru sadar dari tadi ada yang memanggilnya. Lalu kutanya, kenapa kamu nak? Orang-orang sudah pada berhamburan ke luar, sementara kamu masih di dalam kelas...! Dia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, lalu kenapa? Kutanya lagi untuk meyakinkannya... engga pak, dia menjawab singkat! Kutanya lg, kamu belum makan ya? Atau jangan-jangan kamu sakit? ... sambil gugup dia menjawab, " iya pak, saya belum makan, perut saya sakit, saya jarang sarapan pagi" lalu ku tanya lagi, kamu bawa uang jajan? Dia geleng-gelengkankan kepala sambil menunduk.. engga pak! Jawabannya lirih dan sedih. Memang benar, kalaupun ia bawa uang jajan cuma dua Ribu Rupiah perhari. Mungkin hanya cukup buat beli satu tahu ranjau dan satu papeda... Kuperhatikan dari sudut matanya ada linangan air mata yang memaksa keluar untuk mengekspresikan kesedihannya. Rupanya dia tidak bisa menyembunyikan kesedihannya hingga pecahlah isak tangis yang tertahan....Mungkin selain lapar, dia juga malu oleh teman-temannya karena tadi pagi tidak bisa bayar uang kas kelas... padahal jauh-jauh hari sudah kupastikan bahwa uang kas hanya berlaku bagi mereka yang membawa uang dan ada lebihnya dari uang jajan. Dengan catatan harus jujur tidak boleh berbohong. Tapi mungkin karena pengelola uang kas nya anak-anak semua, jadi mereka salah menafsirkan nasihat gurunya.

Hhmm... Akupun paham dengan keadaannya seperti ini, lalu kupanggilkan temannya untuk membawakan sepotong roti dan segelas air mineral dari kantin, lalu diberikan padanya untuk dimakan. Makanlah ini nak! untuk sekadar mengganjal perut dari lapar. Tapi dugaanku salah, beberapa kali kusodorkan dia tetap saja tidak mau memakannya. Aku pun tak kuasa untuk memaksanya dia makan. Apalagi kalau harus memaksa menyuapinya. Aku makin penasaran,.... makanya sambil dalam keadaan dia menangis terisak-isak, kutanyakan padanya mengapa dia sampai jarang sarapan setiap harinya. Dia menjawab karena lantaran "ibunya kadang sibuk dengan pekerjaannya di kebun, sementara ayahnya sudah lama tidak pulang merantu ke sebrang sana". Kalaupun pulang, penghasilannya tidak menentu... ya begitulah yang namanya usaha, padahal anak yang masih perlu biaya masih tiga orang lagi...sementara ibunya sibuk bantu-bantu cari nafkah suaminya sehingga keadaan anak-anaknya kurang mendapat perhatian yang penuh dari ibunya.. jadi terkadang mereka mengurus dirinya masing-masing.. Akupun merasa sedih, terharu dan kasihan sehingga perasaanku larut dan merasakan apa yang sedang dirasakan oleh anak sekecil dan selugu itu....

Sambil Ku usap kepalanya yang basah oleh peluh dingin,  lalu kunasihatkan padanya bebepapa kalimat yang mungkin bisa menguatkan hatinya... kamu harus sabar, harus kuat dan harus tetap semangat! Yang merasakan penderitaan seperti ini tidaklah sendiri, banyak orang lain di luar sana yang juga kondisinya sangat memprihatinkan, bahkan kondisinya lebih parah dari ini, tapi mereka tetap sabar, tetap bertahan, tetap kuat hingga akhirnya bisa menjadi orang yang sukses. Dia mengangguk-angguk seolah  dia paham dan merespon apa yang kukatakan dan kusampaikan....

Hhmm... sambil memberikan nasihat itu, ternyata diam-diam akupun merasa sedih, terharu dan baper, seraya ingatanku menjelajah ke alam bawah sadar di tahun 1989 an di mana waktu itu aku sedang duduk di bangku SMP kls satu. Bahkan kala itu kondisinya lebih parah, jangankan uang jajan, uang untuk membayar SPP dan UDT tiap bulanpun banyak yang menunggak. Selain itu, jumlah sekolah lanjutanpun masih jarang, sehingga jaraknya pun sangat jauh, bisa mencapai 20 km pulang pergi berjalan kaki setiap hari...

Makanya tidak heran di pedesaan kala itu, yang bisa sekolah sampai lulus ujian hanya kurang lebih 60 persen dari jumlah seluruh siswa yang tercatat di buku pendaftaran awal masuk  sekolah..

Keesokan harinya, kuajak anak-anak kelas lima untuk menjenguk dia ke rumhnnya sekaligus memastikan kodisi ekonomi dan keluarganya. Ternyata memang benar demikian adanya sangat memprihatinkan, seperti yang dituturkan beberapa tetangga sekaligus teman dekatnya...

Ku perhatikan kondisi rumahnya pun relatif kecil dan sudah tua; Dinding-dinding rumahnya sudah lapuk dan dipenuhi lumut-lumut yang tidak terurus. Begitupun langit-langit atap rumhnya pun sudah menghitam, dan bolong-bokong karena seringnya ketiban air hujan dari atap rumahnya yang sering bocor. Tak cukup sampai di situ, ternyata halaman rumahnya yang sempit juga sudah ditumbuhi rumput-rumput liar yang mungkin sudah lama tidak dibersihkan; bahkan selintas tampak seperti rumah kosong yang sudah lama ditinggalkan penghuninya...

Pantaslah kuperhatikan setiap hari anak ini sering gugup, kurang percaya diri dan kurang konsentrasi, seolah ada beban berat yang tak terpecahkan di pundaknya. ternyata mungkin itulah sebagian besar penyebabnya; Prasarat untuk perkembangan tubuh dan kecerdasan otak berupa makanan yang bergizi, cukup dan seimbang belum terpenuhi; Belum lagi kondisi fsikis yang kurang tenang dan nyaman...

 

Cerita ini mungkin hanya satu sisi dari perjalann mereka anak-anak Indonesia harapan bangsa, sementara di luar sana masih banyak lagi IG, IG yang lain yang perlu mendapat perhatian...

Ya Allah.... alhamdulillah, segala puji bagi Engkau. Di hari ini Engkau telah berikan sebuah pelajaran yang sangat berharga dari anak kecil yang lugu dan lapar ini... akhirnya Ku bisa bersyukur dan bertafakur dari apa yang telah Engkau karuniakan... bertafakur bagaimana cara mendidik dan mengajar yang semestinya bagi setiap anak yang Engkau amanahkan...ternyata semua yang Engkau ciptakan tidaklah sia-sia, tetapi pasti selalu ada hikmahnya... semoga kami semua bisa meyikapi dan mensyukurinya. Aamiin YRA. (diambil dari Kisah nyata)