Kamis, 21-06-2018 | 12:14:37

Piala Dunia Berubah Menjadi Agama Baru

Piala Dunia Berubah Menjadi Agama Baru

Oleh : Henda Pribadi

(Penyuluh Agama Islam Fungsional Kemenag Kab. Sukabumi)

Piala dunia sepak bola telah berlangsung beberapa hari. Kini belahan dunia Eropa timur yang menjadi tempat perhelatan permainan yang paling diminati manusia di planet bumi ini. Tercatat 32 negara yang masuk putaran final. Piala Dunia yang merupakan turnamen sepak bola antara negara terbaik di dunia. Sejak pertama digelar di tahun 1930, Piala Dunia FIFA menghasilkan banyak pertandingan terbaik, terutama pada laga pertandingan final Piala Dunia-nya. 

Berbagai suku, agama, ideologi negara menyatu di perhelatan ini. Bahkan di negara-negara yang tidak beruntung menjadi peserta sebenarnya jauh-jauh hari telah menyiapkan Chanel TV agar bisa mengikuti bagian-bagin penting pertandingan. Bahkan hampir tiap negara mengutus tim liputan meski tidak berhasil mengirim pemain.

Disisi lain, banyak negara yang menawarkan diri menjadi tuan rumah dalam pesta bola yang satu ini. Entah mengapa perhelatan akbar sepakbola 4 tahunan, piala dunia, memang memiliki daya magnet yang kuat. Disetiap ajang pelaksanaannya semua negara turuk hiruk pikuk dengan ajang ini walaupun bukan peserta aktif karena Timnasnya tidak lolos kualifikasi atau bahkan tidak mengirimkan Timnasnya sama sekali. Bahkan sebelum waktu pelaksanaan piala dunia itu sendiri setiap negara berlomba-lomba untuk menjadi tuan rumah walauoun kondisi perekonomian negara tersebut tergolong negara miskin seperti Afrika Selatan sekarang ini atau tim sepak bola negara tersebut memiliki kemampuan yang pas-pasan. Seperti Indonesia.

Semua negara ingin perhelatan World Cup diselenggarakan di negaranya. Hal ini juga termasuk Indonesia yang sudah lama menawarkan diri kepada FIFA untuk menjadi tuan rumah walaupun kemampuan Timnas  sangat pas-pasan. Jangankan berlaga di World Cup, di Asean Games atau di Sea Games pun tidak menunjukan taringnya, tapi sekali lagi Indonesia tetap ngotot untuk menjadi tuan rumah.

Ternyata dibalik itu semua, ada hal lain yang lebih menguntungkan ketika menjadi tuan rumah. Alasan utama sehingga tiap negara berlomba-lomba menawarkan diri menjadi ruan rumah adalah peluang kerja, wisatawan, perolehan devisa, kontribusi terhadap perekonomian, pajak penghasilan, pertumbuha ekonomi dan masih banyak lagi keuntungan yang bisa diperoleh Negara penyelenggara. Dengan kata lain menjadi tuan rumah piala dunia merupakan kesempatan berinvestasi dan mempromosikan negara di kancah Internasional.

Dana yang telah dikucurkan untuk proyek-proyek yang berhubungan dengan piala dunia seperti stadion dan infrastuktur, trasportasi, telekomunuikasi, infrastruktur pelabuhan, pariwisata dan kebudayaan, keamanan, dana operasional penyelenggara, keimigrasian, dll, ternyata melahirkan peluang kerja baru yang cukup besar,  jumlah penonton yang sangat besar,  wisatawan asing yang akan berkunjung. Yang semuanya berkontribusi terhadap perekonomian negara yang menjadi tuan rumah tersebut.  Bahkan pajak penghasilan berimbas naik,  perolehan devisa dan keuntungan investasi serta pertumbuhan ekonomi merangkak naik serta manfaat-manfat lain seperti kesempatan mempromosikan diri dan manfaat sosial lainnya.

Jika melihat potensi tersebut ternyata piala dunia membawa keuntungan yang luar biasa bagi tuan rumah. Sehingga wajar saja kalau Indonesia juga ingin menyusul jadi tuan rumah piala dunia.

 

Berbagai pilihan warga terhadap tim-tim unggulan mulai bergulir, bahkan bisa jadi setiap pertandingan bisa dijadikan ajang perjudian. Mereka akan rela begadang atau bangun malam hanya sekedar untuk melihat pertandingan. Ajakan agama yang diyakini kerap menjadi nomor sekian dibanding pentingnya melihat bola, urusan rumah tangga, perkantoran dan lainnya juga bisa berada pada posisi kesekian. Sampai-sampai, saat umat Islam sedang bertakbir, bertahlil dan bertahmid pada Hari Raya ‘Idul Fitri, kick off pembukaan Piala Dunia mampu mengubah arah duduk umat, dari tempat ibadah ke Channel TV. Subhanallah…

Dalam suasana negara yang memanas akibat konflik, pemberontakan, bahkan perang saudara, bisa berhenti sesaat selama piala dunia berlangsung. Para petinggi negara yang sedang berperang, tentara yang pegang senjata seraya dihipnotis untuk secara otomatis seolah gencatan senjata. Misalnya pada peristiwa piala asia ketika Iran dan Irak berperang. Kedua negara sepakat menghentikan peperangan hanya sekedar melihat final negaranya.

Konflik antar negara biasanya tidak mudah diselesaikan dengan diplomasi. Namun akan terhenti otomatis karena bola. Akankah konflik dan pertemuan pimpinan dua negara (Amerika dan Korut) akan berlangsung aman dan melahirkan kesepakatan? Apakah sepak bola mampu menjadi solusi dan daya magic yang membuat dunia bisa bersatu???

Ketika ditanya kepada sejumlah orang tentang kerelaan mereka begadang hanya untuk sekedar menyaksikan pertandingan piala dunia? Banyak yang menjawab bahwa penyebab dan motivasinya adalah karena hobi.

Sebenarnya kata hobi itu sendiri lebih dekat kepada makna kegiatan yang tujuannya adalah relaksasi (untuk santai). Dengan kata lain dapat disimpulkan bahwa tujuan dari hobi adalah memenuhi keinginan dan mendapatkan kesenangan.

Setiap orang memiliki hobi, baik yang mereka sadari maupun tidak, dan hobi ini menembus batas-batas kemampuan seseorang, memiliki nilai magic tersendiri. Karena hobi yang mahal menjadi murah, yang berat menjadi ringan, yang susah menjadi mudah, begitu besar kekuatannya.  

Sebenarnya hobi justru bisa jadi dorongan untuk seseorang berpenghasilan lebih. Untuk memenuhi hobinya maka dia bekerja lebih keras, dan lebih kreatif dalam menambah penghasilannya. Hobi yang tepat dapat menaikan taraf kebahagiaan seseorang dan juga sarana pengembangan diri yang baik. Coba pikirkan!

Sepak bola dalam banyak kasus berubah menjadi agama baru!!! Salam…