Kamis, 14-06-2018 | 23:33:43

Apa Kabar Para Muallaf, Maafkan Saya Juga..

Apa Kabar Para Muallaf, Maafkan Saya Juga..

Oleh : Henda Pribadi

(Penyuluh Agama Islam Fungsional Kemenag Kab. Sukabumi)

Menjadi menarik ketika kita bicara soal hidayah, namun taufik selalu menjadi kausal agar hidayah itu menjadi hal biasa dalam proses spiritualitas perseorangan.

Lebih kurang 10 orang saya menuntun kesaksian atau sayaahadat perpindahan agama seseorang. Sebelum menuntun kesaksian itu saya memberi ruang untuk memikirkan ulang apa yang bersangkutan benar-benar mau masuk ISLAM dengan penuh kesadaran spiritual? Saya sekedar ingin menekankan saja bahwa perpindahan dan sayaahadat itu bukan alat mainan.

Pemikiran itu didasari pada sebuah temuan bahwa maaf mereka yang masuk itu hampir tidak memiliki kemampuan mumpuni untuk memahami ajaran agama sebelumnya yang mereka anut, praktis hampir bisa dipastikan mereka tidak terlalu soleh di agama asalnya. Latar belakang agama mereka pun variatif, ada Kristen, Hindu, Konghucu dan Budha. Beberapa saya tanya tentang Tao, Sanghyang dan uraian Injil yang saya ketahui. Mengejutkan karena rata-rata mereka tidak memahami.

Terlepas dari latar belakang mereka, secara seremonial sayaahadat dilakukan dengan penuh khidmat dan  suara yang harus dituntun berulang.

Saya hanya ingin menyampaikan bahwa hidayah urusan Allah, dan ketika anda sudah bersayaahadah maka anda punya kewajiban mendalami ilmu agama anda yang baru (Islam) waktu itu saya ingin meyakinkan bahwa anda termasuk orang yang beruntung. Karena anda seolah anak yang baru lahir, anda masih bersih. Dan pada posisi muallaf inilah anda menjadi mukallaf.

Keberlangsungan mengisi ilmu agama mereka saya hanya menitip kepada para kyai dan ustadz tempat mereka tinggal. Kejadian ini sudah lama, saya belum ketemu mereka kecuali beberapa orang saja, tampak ada perubahan misalanya ada yang sudah pake jilbab sederhana.

Pada dasarnya tidak ada muallaf yang diistilahkan kepada seseorang secara permanen. Mengapa? Karena setelah mereka benar-benar masuk Islam secara keseluruhan, maka mereka sudah menjadi bagian dari ummat Islam. Ketika dia sudah aktif di majelis-majelis taklim dan bahkan sudah memeluk Islam dalam kurun waktu tahunan, maka dia tidak lagi disebut sebagai muallaf. Pertanyaannya kemudian, sampai sejauhmana seseorang muallaf tersebut lepas dari predikat muallafnya itu?

Namun demikian, ada juga muallaf yang bingung, setelah masuk Islam bergabung ke majelis taklim mana? Adakah majelis taklim yang mau menerima muallaf? Ketika Lebaran mereka mau ke mana, karena diusir keluarganya. Ibaratnya, berbagai persoalan yang dihadapi muallaf, sampai hari ini mungkin belum dapat dijawab seluruhnya. Konsentrasi kita terhadap masalah muallaf ini belum begitu “full”. Kita masih terus bereuporia dengan penambahan jumlah pengikut baru di agama ini, tetapi sedikit saja, menjaga keberlangsungan akidah muallaf itu.

Hari ini mungkin kita umat Islam bergembira ketika ada seseorang atau sekelompok orang yang menyatakan diri “masuk Islam”, tanpa memperhatikan dan menyusun rencana pembinaan terhadapnya, terhadap para muallaf tersebut. Ingatlah, bahwa para muallaf penting memperoleh pembinaan seperti halnya Rasulullah yang mendakwahkan Islam kepada shahabat-shababat beliau yang muallaf. Sesudah muallaf memahami tentang Islam, diharapkan, mereka turut berjuang untuk berdakwah.

Pembinaan memiliki tempat yang penting. Jujur saja, banyak muallaf yang kembali ke agamanya yang dulu karena kurangnya pembinaan. Contohnya, ada suami yang ketika menikah ingin istrinya masuk Islam, tapi dia tidak shalat dan puasa. Atau, istrinya sudah masuk Islam, tapi tidak dibimbing bagaimana menjadi seorang muslimah. Sehingga, lama kelamaan, istrinya kembali murtad. Bahkan bisa jadi ketika seseorag yang sudah muallaf kembali ke agama asalnya karena merasa hidupnya semakin “keblangsak” tanpa mendapat sokongan dari yang mengislamkannya.

Banyak kegiatan yang bisa kita gelar. Mulai dari mereka yang baru tertarik Islam, berdiskusi, konsultasi, hingga yang mantap mengucapkan syahadat. Setelah masuk Islam baru kemudian dilakukan pembinaan. Pembinaan berkaitan dengan akidah, fikih, mengaji Al-Quran, serta membangun komunitas baru sesama muallaf. Biasanya, saudara-saudara muallaf aktif mengikuti kegiatan ketika Ramadhan tiba.

Kalau ditanya, ada atau tidak resiko yang dihadapi dalam membina muallaf? Jawaban saya singkat saja: banyak!. Namun jika semuanya ini diorganisir, direncanakan secara baik dan sistematis saya yakin fitnah, teror, hingga pencemaran nama baik, dapat kita atasi. Apalagi kalau apa yang yang dilakukan ini semata-mata hanya karena Allah SWT. Pada akhirnya terbuka mana yang benar dan salah.

Ada satu hal miris. Tidak sedikit muallaf yang diusir keluarganya, hancur usahanya. Maka ke depan, Umat Islam terkonsentrasi melaksanakan pembangunan di bidang pendidikan dan pondok pesantren, maka perlu kesempurnaan pembangunan bidang tersebut misalnya melalui pendirian pondok pesantren muallaf serta membangun lembaga zakat yang bisa menaungi saudara-saudara muallaf. Semoga ada jalan dan Insya Allah ada jalan dari Allah.

Mohon maaf para muallaf kita masih belum bisa terus bersama, tetapi kita tetap berusaha, semoga hari-hari anda penuh berkah... Salam