Jumat, 23-03-2018 | 14:35:09

*Membumikan Karakter Tanggung Jawab Siapa *

Wahyudin,M.Pd.I pengawas PAI Kemenag Kab. Bekasi

Oleh Wahyudin,MPd.I

(Pengawas PAI Kemenag Kabupaten Bekasi)

 

Sebenarnya siapa yang berkewajiban membumikan karakter ?  Sebuah pertanyaan ringan tapi membutuhkan jawaban intens dan mendalam. Mengapa? Karena setiap orang pasti membutuhkan karakter dan ingin memiliki karakter yang baik. Bahkan Rasulullah SAW diutus untuk menyempurnakan karakter atau akhlaq.

Saat hidup dalam tatanan keluarga, yang pertama dan utama ditumbuhkan adalah karakter. Bagaimana  upaya orang tua memberi teladan kepda anak-anaknya. Saat berbicara dengan bahasa yang santun, saat bersikap harus memeragakan nilai-nilai karakter. Pembiasaan ini akan mengkristal pada dari anak hingga dewasa nanti.Jadi, karakter itu harus diawali dari kehidupan keluarga. Menurut Abu’Ala dalam Abdul Majid (2011:7) mengungkapkan bahwa “akan tumbuh dan berkembang seorang anak sebagimana perlakuan dan pembiasaan orang tuanya terhadapnya. Anak tidak mungkin menjadi hina dengan tiba-tiba, tapi orang dekatnya lah yang akan menjadikan hina dan tercela”.

Selanjutnya, saat anak berada di sekolah tetap yang diperjuangkan adalah karakter. Karena pendidikan itu bukan hanya _transfer of knowledge_ tetapi yang jauh lebih penting internalisasi nilai-nilai karakter seperti penanaman kejujuran, sikap sabar, bersikap adil, membangun kebersamaan dan karakter lain. Menurut  Ari Ginanjar Agustian, nilai karakter itu sebuah “anggukan universal” artinya siapa pun orangnya pasti ingin meiliki karakter yang baik sekaligus mempu membumikannya. Itulah fitrah manusia. Setiap manusia, pasti cenderung berbuat baik.

Betapa NKRI memiliki pengalaman sangat berharga. Pernah terjadi krisis multidimensional. Bukan berarti orang Indonesia tidak pintar, juga bukan berarti tidak ada yang sukses.Tetapi saat kehidupan tidak mengutamakan karakter maka terjadilah perlakuan yang tidak humanis. Sikap individualistik terjadi dimana-mana. Saling gasak, gesek dan gosok. Menggunting dalam lipatan. Akhirnya untuk menggapai cita-cita dengan menghalalkan segala cara. Maka terjadilah ketimpangan yang mengarah kepada destrukftif. Naudzubillah.

Dengan melihat kondisi seperti ini,pemerintah sangat memperhatikan program pendidikan karakter anak sejak TK hingga perguruan tinggi. Sejenak kita tengok budaya orang Jepang, Saat anak berangkat sekolah, mereka selalu mengucap : “Aku juara,Aku juara, Aku juara. Betapa optimisnya anak Jepang, sehingga mereka memiliki cita-cita mulia saat mengawali belajar, belum lagi, budaya literasi sangat luar biasa. Membaca menjadi hobi mereka. Bagaimana dengan anak Indonesia? Tentunya kita sebagai guru dan orang tua harus membentuk karakter anak agar membudayakan membaca. Tradisi ilmiah harus ditanamkan sejak dini. Sangat menarik saat saya “mudif” (berkunjung) di pesantren Darussalam Subang, tempat putra saya “nyantri” dengan kalimat : “banyak orang memiliki ijazah, tetapi sedikit yang ilmiah”. Sebuah tamparan keras bagi saya, artinya meraih ijazah memang berat. Membutuhkan waktu,tenaga,pikiran dan biaya mahal. Jenjang SD,SLTP,SLTA,S1,S2 hingga S3 bisa dituntaskan. Lebih sulit lagi membangun tradisi ilmiah. Setelah lulus sekolah apakah tetap mau belajar? Apakah setelah wisuda, masih memiliki motivasi untuk berliterasi?  Membaca tak henti, terus berkarya dan menulis keilmuan hingga nafas terakhir. Karakter inilah harus terus dibumikan. Sehingga NKRI memiliki wibawa di mata dunia, dengan kompetensi dan khazanah keilmuannya.

Sangat relevan yang tertuang dalam UU RI No.20 tahun 2003 Sisdiknas Bab 2 Pasal 3 bahwa pendidikan nasional berfungsi, mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Merujuk UU Sisdiknas di atas jelaslah. Semua aspek kehidupan substansinya dalam kerangka pembangunan karakter agamis, peduli dengan lingkungan, berjiwa inovatif, kreatif,dibingkai relijius targetnya menuju insan berkualitas.Berkualitas iman,ilmu dan amal.

Semoga saja dengan pembangunan karakter tak henti, generasi mendatang siap berkompetisi dengan masyarakat dunia. Tentunya dengan memiliki karakter tangguh. Mampu mengabdi sesuai kapasitas. Siap menyongsong Era Emas tahun 2045. Jelaslah, penumbuhan dan membumikan karakter itu kewajiban kita semua bukan?

Wallahu’Alam

 

*Penulis, mengabdi sebagi Sekretaris Kelompok Kerja Pengawas PAI Kemenag Kabupaten Bekasi.