Senin, 12-03-2018 | 14:46:56

MEMBANGUN DESTINASI WISATA RELIGI DALAM GUGUS GEOPARK (Memberdayakan Peran POB sebagai Pusat Wisata Religi dan Teknologi)

Kontributor Inmas Kab. Sukabumi (Iqbal)

Oleh: Moh. Iqbal Taufiqi

Pengadministrasi dan Dokumentasi pada Kemenag Kab. Sukabumi

 

Banyak hal yang dilakukan pemerintah untuk menjadikan Geopark Ciletuh sebagai kawasan terpadu. Misalnya seperti pemberdayaan masyarakat lokal, pengembangan desa binaan, pengembangan geowisata, pengembangan homestay, dan sebagainya. Tidak terkecuali dengan Kementerian Agama Kab. Sukabumi dimana posisi Post Observasi Bulan (POB) menjadi lintasan utama menuju destinasi internasional tersebut.

Sejak disyahkannya Geopark Cileutuh tahun 2017 yang lalu sebagai destinasi dunia oleh UNESCO. Wisata alam Sukabumi ini sangat menarik perhatian dunia. Sebuah tujuan wisata berupa Geopark atau atau taman dunia yang mencakup kawasan konservasi, edukasi, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat, yang oleh Wakil Gubernur Jawa Barat, Deddy Mizwar, menyebutnya sebagai “emperan syurga”.

Disamping itu, Destinasi Wisata Geopark Cileutuh memiliki keunikan yang tidak dimiliki oleh obyek wisata lain di dunia. Selain berdampak kepada income daerah bahkan negara (sejenis PNBP) yang bertambah, juga akan terjadi peningkatan ekonomi masyarakat sekitar destinasi wisata dengan tetap ketat menerapkan prinsip-prinsip ramah lingkungan.

Kita tentunya masih ingat pernyataan Menteri Pariwisata Arief Yahya beberapa waktu yang lalu bahwa environmental sustainability menjadi isu internasional. Kata dia, “semua negara berusaha menjaga dan meningkatkan kualitasnya untuk memenangkan persaingan bisnis pariwisata global. Sebab, produk pariwisata suatu negara yang tidak menerapkan prinsip-prinsip ramah lingkungan, maka akan ditinggalkan wisatawan”.

Banyak fenomena menarik dalam dunia pariwisata di masyarakat karena menyangkut manusia, masyarakat, kelompok organisasi, kebudayaan, agama dan sebagainya, yang merupakan objek kajian sosiologi. Namun demikian kajian sosiologi belum begitu lama dilakukan terhadap pariwisata, meskipun pariwisata sudah mempunyai sejarah yang sangat panjang. Hal ini terkait dengan kenyataan bahwa pariwisata pada awalnya lebih dipandang sebagai kegiatan ekonomi, dan tujuan utama pengembangan pariwisata adalah untuk mendapatkan keuntungan ekonomi, baik bagi masyarakat maupun daerah (negara), bahkan boleh dikatakan sedikit melupakan norma luhur agama.

Kenapa begitu? Sebagaimana halnya dengan pembangunan secara umum, ada beberapa hal yang menyebabkan aspek-aspek sosial-budaya dan agama kurang mendapat perhatian. Dengan mengikuti teori modernisasi klasik, pembangunan di dunia ketiga umunya memberikan penekanan pada aspek ekonomi. Paradigma dan program-program yang memfokuskan perhatian pada aspek ekonomi seringkali bertentangan dengan program-program dengan penekanan aspek sosial dan agama. Dalam konflik kepentingan ini, aspek sosial-agama lebih sering dikalahkan. Masih dalam kaitan dengan fokus ekonomi, salah satu tujuan setiap program pembangunan adalah untuk mengejar produktivitas, dan dalam usaha ini manusia (tenaga kerja) dipandang sebagai 'faktor produksi' yang mekanis, maka berbagai aspek sosial-agama kurang mendapatkan perhatian.

Faktor lain yang memarginalisasi aspek sosial-budaya adalah karena performance indicator (kinerja atau keberhasilan) umumnya diukur secara statistika atau kuantitatif. Sementara itu sebagian besar dari isu sosial-budaya bersifat kualitatif, sehingga tidak termasuk dalam indikator keberhasilan 'pembangunan'. Dengan demikian, pelaksanaan pembangunan tidak memberikan perhatian serius terhadap aspek sosial-agama ini. Apalagi aspek sosial-agama memang sangat sulit diukur.

Berkembangnya kembali kajian ekologi manusia dan agama (human ecology and religy) yang sangat menghargai pengetahuan masyarakat lokal (ethnoscience) dan norma agama (faith rule) juga sangat mendorong perencana dan pelaksana pembangunan untuk melihat aspek-aspek sosial-agama secara lebih serius.

Kementerian Agama harus hadir di dalamnya! Kementerian agama harus mampu menjaga, melestarikan, dan meningkatkan pengetahuan dan pengamalan agama sesuai kearifan lokal agamis yang dianut masyarakat. Agamalah yang menjadi kekuatan vital sebagai tembok kokoh pencegah dampak negatif dari berkembangnya dunia pariwisata baik yang berkelas nasional sampai berkelas internasional.

Hal ini yang kemudian ditakutkan ketika Destinasi Wisata Geopark Internasional Cileutuh mulai beraksi. Budaya global dengan difasilitasi wisata menjadi ajang pertemuan berbagai budaya dan agama yang tidak selalu membawa “kenikmatan” perilaku dan norma masyarakat sekitar Kab. Sukabumi. Miris rasanya, ketika sasaran pembangunan Wisata Geopark hanya sekedar mensejahterakan fisik (ekonomi/pendapatan) masyarakat, tetapi nilai-nilai agama (Kab. Sukabumi) yang religius tergerus olehnya.

Di Palabuhanratu, tepatnya di Cibeas, kita punya POB (Post Observasi Bulan) sebagai lintasan utama menuju Geopark.  POB merupakan simbol keimanan masyarakat Kab. Sukabumi dengan Tuhannya, POB merupakan simbol kepatuhan masyarakat terhadap ajaran-Nya. Dengan kata lain, pemberdayaan POB sebagai destinasi plus (plus religi dan teknologi) menjadi peluang besar untuk meredam kemusyrikan lahir dan batin masyarat Islam di Kab. Sukabumi. Yakinlah, Kita Pasti Bisa!