Senin, 05-03-2018 | 14:45:51

*Relevansi PK Online Dengan Guru Profesional*

H. Wahyudin Pengawas PAI Kab. Bekasi

Oleh : Wahyudin, M.Pd.I

(Pengawas PAI Kemenag Kab. Bekasi)

 

Pemetaan Kompetensi (PK) Online di kalangan guru Pendidikan Agama Islam se-Indonesia sedang menjadi perbincangan aktual. Mengapa? Karena setiap GPAI wajib mengikuti PK Online. Di samping pendataan ulang, juga untuk mengukur standar profesionalitas guru kaitan dengan kompetensi yang disyaratkan pemerintah. Itulah substansi PK Online dalam upaya Pemetaan Kompetensi (PK).

Merujuk pada regulasi, bahwa setiap guru PAI harus memiliki kompetensi : pedagogik,  kepribadian, sosial, profesional dan dua kompetensi khusus guru PAI yaitu spiritual dan leadership. Kompetensi ini dibreakdown kepada indikator yang sebelumnya tertera di Evaluasi Diri guru PAI.

Sangat menarik program PK online ini, karena pasca PK Online setiap guru mampu mengevaluasi kompetensi secara individu. Kompetensi mana yang ada nilai plus, dan bagian mana yang masih bernilai minus. Dengan kondisi ini, pemerintah lebih mudah mengadakan pemetaan kompetensi bagi setiap guru. Inilah tolok ukur sebagai bahan pelatihan ke depan. Puncaknya dapat dikategorikan sebagai guru profesional. Selanjutnya, apakah ada relevansinya antara PK Online dengan profesionalisme? Menurut hemat penulis, jelas ada. Karena dengan PK Online, setiap guru mau tidak mau harus bercengkrama dengan IT. Zaman now ini, setiap guru harus familier dengan IT dan Sangat ironis, apabila ada guru yang gagap teknologi.

Berdasarkan pengalaman penulis saat mendampingi guru, masih banyak guru belum terbiasa membuka internet. Sehingga agak lemot saat membuka link PK Online. Ke depan guru harus sesering mungkin mengakses data maupun belajar dengan internet, seperti E-Learning, E-Book, membuka aplikasi dan sebagainya.

Di sisi lain, saat harus menjawab pertanyaan banyak guru kurang tenang sehingga hasilnya belum memuaskan. Perolehan poinnya masih jauh dari nilai 600. Bagi guru, tentunya sangat bermanfaat sebagai evaluasi secara berkelanjutan. Minimal ada beberapa catatan substantif berikut ini :

Pertama, seberapa kompeten dalam hal mengoperasikan komputer yang berbasis ICT. Dimana sudah zamannya harus terus mengakses internet. Ini sebagai bukti dari pembelajaran literasi ICT. Dalam buku Hands-Out Bahan Pelatihan (Kemendikbud : 2017: 1) diungkapkan bahwa literasi lebih dari sekadar membaca dan menulis, namun mencakup keterampilan berpikir menggunakan sumber-sumber pengetahuan dalam bentuk cetak, visual, digital, dan auditori. Di abad 21 ini, kemampuan ini disebut sebagai literasi informasi.

Kedua, setiap guru harus terus belajar mendalami materi  kependidikan seperti model-model pembelajaran yang berjumlah ratusan sehingga  proses belajar mengajar berlangsung kondusif. Secara teoritis dan praktis harus terus ditingkatkan.

Ketiga, setiap guru harus meningkatkan literasi. Baik membaca sebagai sumber peningkatan kualitas secara berkelanjutan, juga secara bertahap harus berupaya membangun tradisi ilmiah dengan membuat karya tulis ilmiah. Banyak guru yang sudah enggan untuk menulis, dengan alasan tidak memiliki waktu dan belum terbudaya tradisi menulis. Sejatinya, setiap guru sudah mulai menginventarisir karya tulisnya baik berupa artikel, jurnal, esay maupun biografi dan pengalaman belajar mengajar. Tentunya mampu menginspirasi orang lain. Karena guru itu pasti kaya akan pengalaman.

Semoga saja, dengan program PK Online ini, semua guru benar-benar mampu mengevaluasi diri terhadap kompetensi apa yang menjadi kelebihannya, dan kompetensi mana yang menjadi sumber kekurangannya. Dengan upaya ini, guru terus belajar tak henti sehingga pendidikan ke depan kualitasnya meningkat secara signifikan. Bilakah hal ini dilakukan? Tentunya mulai detik ini.

Wallahu 'Alam.