Rabu, 17-01-2018 | 08:14:29

Melepas Kepergianmu Dalam Menempuh Cita

H. Wahyudin Pengawas PAI Kab. Bekasi

Oleh : H. Wahyudin

(Pengawas  PAI Kab. Bekasi)

 

Sepintas judul di atas sedikit "baper" tetapi itulah kondisi psikologis sesungguhnya. Setiap setengah tahun berakhir, selalu banyak cerita indah. Mendampingi putra-putri mondok di pesantren melahirkan gejolak di hati. Sahabat saya bilang, ih tegaan dia mah. Anak sekecil itu harus berpisah dari orang tua. Saat teringat statemen ini, terkadang hati ini bergetar. Ia juga yah, kok tega amat hati ini. Sejuta gejolak jiwa pasti dirasakan.

 

Subhanallah. Inilah kondisi orang tua yang setiap setengah tahunan harus melepas santri menuju pondok. Bagi saya proses ini sangat menantang. Mengapa menantang? Karena kondisi inilah yang harus dimanaje. Saya sering teringat dengan pesan Alm. (Babah/ Ayah) M. Syawaludin, mendidik anak harus serius. Karena mereka hidup bukan pada zaman kita. Prioritaskan ilmu agama, kuatkan iman dan aqidah anak-anak. Andai kita menanam padi, maka rumput pun biasanya akan tumbuh sendiri. Tetapi apabila kita menanam rumput, tidak mungkin padi akan tumbuh. Pelajarilah biografi orang sukses. Semuanya mengutamakan ilmu agama.

 

Pesan bernilai petuah tersebut selalu mengingatkan saya, bahwa ilmu agama harus menjadi perhatian spesial. Karena semua aspek kehidupan secara totalitas, wajib dilandasi dengan nilai agama. Inilah yang membuat kita bahagia di dunia dan di akhirat kelak. Bahkan ketenangan esensial terletak pada pengamalan keagamaan. Agama menjadi komando dalam kehidupan. Sangat indah bukan?

 

Teringat dengan analisis Komarudin Hidayat bahwa agama mengantarkan kita kepada koridor kebenaran nilai ilahiah. Target goalnya tetap mencapai ridho Allah SWT. Perjalanan umat manusia pasti diakhiri dengan kedekatan spiritualitas kepada Tuhan yang menggerakkan dan Pemilik kehidupan. Apabila mau jujur, sebenarnya setiap manusia pasti membutuhkan agama. Karena nilai keagamaan selalu bersemayam dalam fitrah manusia. Sedangkan fitrah manusia, cenderung kepada kebenaran hakiki.

 

Melepas putra-putri untuk menuntut ilmu memang banyak tantangan. Terutama berpisah dalam keseharian. Sering saya ber-tapakkur, ternyata mencari ilmu itu merupakan jihad. Saat anak hidup di pondok, harus melepas segala kebahagiaan yang ada di rumah. Bermain bersama sahabat sepermainan. Setiap saat tidak memegang gadget, menahan tidak membuka internet secara bebas dan mengendalikan kebahagiaan lainnya. Di pesantren, setiap anak berkutat dengan hafalan, ibadah tepat waktu, shalat ditegakkan secara disiplin dan aktivitas edukatif lainnya.

 

Dalam sebuah momentum, saya sharing dengan sahabat yang pernah pesantren. Di tahun pertama, berdasarkan pengalamannya, seakan orang tuanya membuang dirinya di pondok, mengisolir dirinya dan stigma negatif lainnya. Tetapi saat timbul kesadaran, ternyata hidup di pesantren sangat nikmat, semua aktivitas berbalut ibadah baik ibadah mahdhah maupun ghair mahdhah. Mahdhah berkaitan dengan ibadah khusus seperti shalat dan puasa. Sedangkan ghair mahdhah berkaitan dengan ibadah sosial. Klimaksnya menjadikan diri santri insan tangguh fisik dan mental.

 

Suatu harapan bagi para orang tua santri, dengan disiplin tingkat tinggi akan lahir generasi berkualitas iman, ilmu dan amal. Tentunya kita berharap, ke depan melahirkan generasi "qurratu 'ayun" sebagai penyejuk hati. Bayangkan, setiap saat melihat keturunan kita selalu membahagiakan. Mengapa membahagiakan?Karena kita melihat mereka rajin shalat, giat beribadah, mendawamkan membaca Alquran dan balutan perangai dengan akhlakul karimah. Bisa jadi, saat anak mengenyam pendidikan di pesantren bersusah payah bahkan berdarah-darah karena kompleksitas problem dilalui. Mereka mungkin sering menangis dalam kesendirian, karena jauh dari orang tua. Terkadang ada kekurangan kebutuhan tertentu. Hal inilah menjadi tantangan kehidupan.

 

Seorang bijak pernah berujar: lebih baik hari ini kita melihat anak menangis karena sulitnya menghapal ayat Alquran, mengaji Nahu Sharaf dan keilmuan lainnya. Tenimbang nanti kita semua menangis melihat anak tidak shalat, tidak mampu membaca Alquran dan memiliki perangai buruk. Semoga saja dengan mengutamakan pendidikan, generasi hari ini siap menyambut era emas 2045 hingga era berikutnya. Karenanya kita harus ikhlas melepas kepergian putra-putra dalam menempuh cita.

 

Wallahu 'Alam