Rabu, 17-01-2018 | 08:14:14

Dalam Bingkai Kebersamaan Menebar Kedamaian (Refleksi HAB ke-72)

H.Wahyudin (Pengawas PAI Kab. Bekasi)

Oleh : Wahyudin

(Pengawas PAI Kab. Bekasi)

 

Hari Amal Bakti Kementerian Agama RI selalu menghipnotis perhatian. Terutama bagi pegawai Kemenag yang setahun sekali memperingatinya. Untuk tahun 2017 ini memasuki HAB ke 72. Berdasarkan informasi _update_ yang saya dapat, tema tahun ini "tebarkan kedamaian". Tema ini menjadi aktual apabila kita bahas dengan secara intens. Sekaligus sebagai langkah evaluatif untuk bergerak memperjuangkan kedamaian.

 

Kita memahami bahwa kedamaian adalah keinginan bersama. Setiap manusia, pasti mengharapkan kedamaian dalam hidup. Baik dalam kehidupan keluarga, masyarakat maupun bernegara bahkan dunia.

 

Damai menurut KBBI artinya tenang, tentram dan rukun. Tentram berkaitan erat dengan manajemen hati. Al-Qur'an membahasakan dengan "tatmainnul qulub" menenangkan hati. Hati yang tetang berarti hati yang damai. Lebih lanjut, damai substansinya berkaitan dengan kondisi seluruh jiwa raga seseorang yang _follow up_ nya selalu dalam bingkai kerukunan.

M.Quraish Shihab (2008: 70) dalam bukunya Lentera Al-Qura'n mengungkapkan bahwa perdamaian adalah dambaan Islam. Ini bermula dari kedamaian jiwa setiap pribadi yang kemudian meningkat hingga pada kedamaian kepada seluruh makhluk. Allah SWT mengisyaratkan: "Jika mereka condong pada perdamaian, maka condong pulalah kepada-Nya dan berserah dirilah kepada Allah. Dan jika mereka bermaksud menipumu, maka cukuplah Allah sebagai pelindungmu."(QS. Al-Anfal [8] : 61-62). Sangatlah jelas, saat kita mendekat kepada Allah maka kehidupan kita dilingkupi kedamaian. Bahkan dirinya merasa dikontrol oleh Allah SWT dalam kondisi apa pun.

 

Untuk merajut kedamaian tentunya kita harus berikhtiar meraihnya. Minimal dengan upaya beberapa hal berikut:

 

Pertama, memahami visi dan misi sesuai tugas yang diamanahkan. Sebagai gerakan nafas yang mampu membuka potensi diri, tetap berangkat dari visi dan misi. Misi manusia, sebagai makhluk Allah adalah untuk beribadah. Hal ini diupayakan agar semua aktivitas memiliki motivasi yang jelas dan terdapat standar keberhasilan nyata. Sebagai pegawai Kementerian Agama tentunya selalu mengadakan evaluasi program secara berkesinambungan, sehingga dari waktu ke waktu ada perubahan siginifikan.

 

Kedua, hidup di zaman _now_ kita harus terus belajar. Dengan berprinsip belajar sepanjang hayat, kehidupan akan damai. Semua masalah dijadikan proses pembelajaran berharga. Klimaksnya, sekompleks apa pun masalah kita akan ada solusi terbaik. Jangan merasa kita paling hebat. Karena di atas langit ada langit.  Contoh lah ilmu padi, kian berisi semakin merunduk. Indah bukan? Kedamaian diraih dengan belajar dan belajar. Dengan ilmu yang mumpuni, kedamaian akan mudah diraih.

 

Ketiga, kedamaian akan kita raih pada saat mampu membangun _link_ dengan siapa pun. Yang penting, mampu menguatkan komitmen dalam upaya peningkatan kualitas diri dan komunitas. Organisasi profesi menjadi wadah penempaan diri untuk memperkokoh pengembangan diri dalam pengembangan potensi. Saat memasuki organisasi, kita semua banyak belajar dari kehidupan. Selalu sharing pengalaman, berbagi ilmu tak henti sehingga setiap waktu terbangun jejaring yang akan menguatkan potensi diri. Maka damailah hidup di saat mampu membangun komunikasi, sehingga kebersamaan terjalin dengan maksimal.

 

Uraian ini sebagai tahadduts binni'mah, bahwa pada esensinya kita semua membutuhkan kedamaian. Kedamaian individu, keluarga, masyarakat hingga dalam kehidupan bernegara. Kedamaian menyentuh fitrah manusia. Semua manusia merindukan kedamaian bukan?

 

Wallahu 'Alam