Jumat, 22-12-2017 | 07:22:37

Fenomena LGBT Bekasi : Antara Hak Asasi Manusia, Hukum, dan Agama

Nasrulloh (Penyuluh Agama Islam Kecamatan Cikarang Timur Kankemang Kab. Bekasi)

Oleh: Nasrulloh

(Penyuluh Agama Islam Kecamatan Cikarang Timur Kemenag Kab. Bekasi)

 

Pendahuluan

LGBT, akronim dari lesbian, gay, biseksual, dan transeksual, merupakan sebutan bagi kelompok orang yang memiliki perbedaan orientasi dan identitas seksual yang berbeda seperti manusia lain kebanyakan. Carrol (2005) mengatakan bahwa orientasi seksual merupakan ketertarikan seseorang pada jenis kelamin tertentu secara emosional, fisik, seksual, dan cinta (landasanteori.com). Lesbian adalah wanita yang mencintai atau merasakan rangsangan seksual sesama jenisnya; wanita homoseks (Kamus Besar Bahasa Indonesia). Gay adalah istilah yang digunakan secara umum untuk menggambarkan seorang pria yang tertarik secara seksual dengan pria lain dan menunjukan komunitas yang berkembang di antara orang-orang yang memiliki orientasi seksual yang sama. Biseksual dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah 1. Mempunyai sifat kedua jenis kelamin (laki-laki dan perempuan); 2. Tertarik kepada kedua jenis kelamin (baik kepada laki-laki maupun perempuan). Transeksual dalam kamuskesehatan.com adalah seseorang yang percaya bahwa dia secara psikologis mirip dengan lawan jenis dan merasa terjebak dalam jenis kelamin biologisnya. Transeksual mungkin mencari bantuan medis untuk operasi mengubah alat kelamin dan aspek lain dari penampilannya agar sesuai dengan identitas gender yang lebih dirasakan tepat olehnya. Penilaian psikologis untuk mendapatkan identitas gender ini biasanya intens dan lama, selama bertahun-tahun.

Fenomena LGBT di Bekasi dapat ditelusuri di dunia maya maupun nyata. Dalam rilisan okezone.com bahwa komunitas homoseksual dan lesbian di Kabupaten Bekasi beranggotakan sekira 1.000 orang, sementara di Kota Bekasi mencapai 500 orang. lebih dari 100 orang penyuka sesama jenis di Kota dan Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, dinyatakan positif terjangkit virus HIV/AIDS. Dari jumlah tersebut yang positif mengidap HIV/AIDS di Kabupaten Bekasi mencapai 70 orang, sedang di Kota Bekasi ada 50 orang.

Kedudukan LGBT dalam pandangan hak asasi manusia menjadi hal yang menarik dikaji. Aktifitas kelompok-kelompok berujud komunitas, himpunan, kumpulan, dll begitu merebak tumbuh bak jamur di musim hujan. Aktifitas lebih difokuskan pada kampanye persamaan hak asasi manusia di semua lini. Ada asumsi global bahwa LGBT merupakan proyek depopulasi organisasi tertentu untuk mengurangi populasi manusia di dunia. Dari segi hukum keberadaan LGBT tidak ada pengaturan dalam peraturan perundang-undangan. Sedangkan agama (baca: Islam) mengatur bahwa perbuatan LGBT berupa homoseksual (gay dan lesbian) adalah perbuatan yang haram.

Penulis tertarik menulis tema ini karena belakangan ramai berita di media mainstream tentang kasus artis IB dan kasus kopi sianida yang diduga pelaku dan korban penyuka sejenis. Begitu pula ramainya diskusi netizen di twitter membahas LGBT. Tulisan ini mengkaji Fenomena LGBT dengan memfokuskan pada orientasi seksual ditinjau dari kacamata hak asasi manusia, hukum, dan agama. Penelusuran dilakukan terhadap sumber data sekunder dari kepustakaan berupa tulisan ilmiah, ensiklopedia, dan berita tentang LGBT. Tulisan difokuskan pada lokus Bekasi (Kabupaten dan Kota).

 

Menyigi Wujud LGBT

Secara teoritis, terdapat beberapa faktor yang menyebabkan seseorang itu cenderung untuk menjadi bagian dari LGBT antaranya adalah: Pertama, keluarga. Pengalaman atau trauma di masa anak-anak misalnya dikasari oleh ibu/ayah hingga si anak beranggapan semua pria/perempuan bersikap kasar, bengis yang memungkinkan si anak merasa benci pada orang itu. Predominan dalam pemilihan identitas yaitu melalui hubungan kekeluargaan yang renggang. Bagi seorang lesbian misalnya, pengalaman atau trauma yang dirasakan oleh para wanita dari saat anak-anak akibat kekerasan yang dilakukan oleh para pria yaitu bapak, kakaknya maupun saudara laki-lakinya. Kekerasan yang dialami dari segi fisik, mental dan seksual itu membuat seorang wanita itu bersikap benci terhadap semua pria (Abu Ameenah Philips, 2003). Kedua, pergaulan dan lingkungan (Masyitah Ibrahim). Ketiga, biologis (Sri Habsari, 2013). Bagi golongan transeksual misalnya, karakter laki-laki dari segi suara, fisik, gerak gerik dan kecenderungan terhadap wanita banyak dipengaruhi oleh hormon testeron. Jika hormon testeron seseorang itu rendah, ia bisa mempengaruhi perilaku laki-laki tersebut mirip kepada perempuan. Di alam medis, pada dasarnya kromosom laki-laki normal adalah XY, sedangkan perempuan normal pula adalah XX. Bagi beberapa orang laki-laki itu memiliki genetik XXY. Dalam kondisi ini, laki-laki tersebut memiliki satu lagi kromosom X sebagai tambahan. Justru, perilakunya agak mirip dengan seorang perempuan (Syed Hassan, h.35). Keempat, faktor moral dan akhlak. Kelima, pengetahuan agama yang lemah (Noor Azilawati Mohd Sabda, h. 16). Selain itu faktor media dan internet juga merupakan faktor penyumbang suburnya LGBT.

Untuk menyigi seorang pria itu adalah seorang gay, biseks atau bukan penulis kutip tulisan Wahab Saputra dalam laman http://www.wahabsaputra.com/2015/10/komunitas-gay.html?showComment=1446621489948#c7443852246899601047. sebagai berikut: Pertama, tatapan. Seorang pria akan menatap pria lain lebih lama dari pria biasa. Biasanya lebih dari 3 detik, dan itu dilakukan berulang-ulang. Tentunya hal ini akan dilakukan terhadap pria yang memang disukainya. Bahkan tatapan ini akan diakhiri dengan senyuman. Bagi sebagian gay mengaku, tatapan mata seorang gay terhadap pria itu sangat dalam dan terasa ‘menusuk’. Kedua, wangi parfum lebih mencolok daripada wanita. Contoh parfum yang menjadi favorit kalangan gay: Hugo, Bvlgari, Polo, CK calvin-klein dan parfum branded lainnya. Bahkan jika tidak mendapatkan parfum branded, yang aspal bahkan diembat pula, yang penting baunya mendekati. Ketiga, cara berpakaian yang lebih dandy, modis, matching dan update. Motif yang dipakai biasanya garis garis lurus dan warnanya adem. Ada juga yang suka tampil dengan warna-warna mencolok dan ngejreng. Bahkan untuk kaos, lebih disukai yang ketat, sehingga memperlihatkan lekuk tubuh lebih jelas. Termasuk kemeja juga dipilih ukuran yang lebih ngepas biar kelihatan bentuk tubuhnya, apalagi jika didapatkan dari hasil fitnes.

Keempat, tata rambut yang lebih klimis dan trendi. Selain penampilan baju dan wajah, tatanan rambutnya tak kalah penting. Biasanya pria gay lebih klimis dibanding pria heteroseksual. Umumnya mereka suka memakai produk Gatsby dan HR Suwarno gel yang membuat lebih look weet dan fresh. Kelima, cara bicara yang lebih sopan. Umumnya tata bahasa yang dipakai lebih ditata. Bahkan pada kebanyakan gay, cara mereka bicara lebih kental huruf 's' nya, dan kebanyakan suaranya cempreng. Hal ini akan sangat nampak pada gay yang tingkat femininnya lebih tinggi. Makanya kalo kencan buta via telpon, umumnya dapat dikenali dari suara cempreng dan agak lembut, maka langsung bisa terdeteksi apakah pria itu gay atau bukan. Keenam, gestur dan sikap. Pria gay umumnya lebih menjaga sikap seperti cara berdiri, cara duduk hingga cara berjalan. Ketika duduk, dapat dengan mudah dikenali bagaimana pria gay menaruh tangan dan memposisikan atau menyilangkan kaki. Demikian juga saat jarinya memegang rokok, memegang HP, memegang dompet hingga cara mengambil gelas minuman. Ada perbedaan yang cukup mencolok dibandingkan pria heteroseksual.

 

Fenomena LGBT Bekasi

Setelah mengetahui ciri-ciri umum di atas, penulis deskripsikan perkembangan LGBT Bekasi saat ini. Sigi data dilakukan dengan mengais data-data di media internet berupa berita online, blog, dan media sosial. Dari penyigian laman gayaplusplus.wordpress.com, didapat spot nongkrong kaum LGBT sebagai berikut.

  1. Kompleks gor Bekasi Kota. Disini ada beberapa titik tempat-tempat nongkrong gay bekasi yang bisa dijumpai, diantaranya:
  2. Komplek kolam renang gor, di sini didominasi oleh gay yang telah menjelmakan dirinya sebagai wanita atau yang sering disebut waria.
  3. wisata kuliner gor, adalah tempat nongkrong gay bekasi yang mempunyai live music
  4. Kampus, adalah sebutan tempat nongkrong gay bekasi yang berada di sepanjang jalan utama/pintu utama kompleks gor. Di sini setiap malam banyak gay yang nongkrong dan ada juga sebagian yang melacurkan diri/ngucing. Banyak brondong yang suka datang kesini begitu juga gadun-gadun. Segala macam gay ada di sini mulai dari yang alay (melambay), yang cool, yang maskulin, yang dandan (waria) bahkan ada sebagian artis yang suka kesini.
  5. Taman, adalah lokasi di sebelah kampus ada sebuah taman yang cukup luas di sini juga tempat nongkrong gay yang tak jarang berakhir dengan permainan dibalik pepohonan. Terselubung memang, sekali lihat tak ada perbedaan dengan taman-taman kebanyakan tapi jika kita perhatikan dengan teliti ada 1 atau 2 orang yang suka nongkrong di rindangnya kegelapan taman dan itulah gay yang dimaksud.
  6. Di sepanjang jalan depan gor/Pemkot, banyak berjejer pria-pria yang bisa dibawa ke hotel dengan tarif yang bervarisi mulai dari yang gratisan, 25 ribuan, ‘cepekan’. Dapat dijumpai brondong-brondong elit bekasi yang mempunyai tampang yang oke, putih, dan freindly tarif yang bisa mereka patok mulai dari Rp. 200-500 ribu. Ada juga pengendara sepeda motor atau mobil yang suka saling menyapa antar pengendara.
  7. Mall-mall Bekasi
  8. Mega Bekasi Hypermall (Giant). Di sini banyak gay yang bisa dijumpai mulai dari toilet lantai dasar sampai dengan lantai 5, J.Co (banyak kalangan elitte gay), pintu utama masuk di sini banyak PLU yng suka hilir mudik, tangga peristirahatan (depan Borobudur Depststore), 21 bioskop area, NAV karaoke;
  9. Mall Metropolitan (MM) dapat ditemukan di foodcourt, J.Co.;
  10. Bekasi Cyber Park (BCP) dapat ditemukan di foodcourt area (yang ada live music);
  11. Kota Harapan Indah

Setelah menyasar spot kelompok LGBT Bekasi, selanjutnya penulis deskripsikan komunikasi sesama LGBT dalam dunia maya. Para kaum LGBT, khususnya transeksual, memanfaatkan facebook sebagai media komunikasi. Namun belakangan banyak yang menjadi korban karena akun facebook-nya ditutup oleh pihak facebook gara-gara menggunakan nama palsu. Cara ini oleh kalangan LGBT memang dianggap relatif aman untuk menghindari cyber bullying di facebook. Para pengguna ini kemudian beralih ke jejaring sosial baru yang tidak menerapkan kebijakan tersebut dan mereka memilih Ello. Apalagi Ello terkesan eksklusif dengan sistem invite-only agar bisa menjadi pengguna jejaring sosial asal Amerika Serikat tersebut.

Jauh sebelum Ello yang kini konon banyak diburu para gay, Grindr (http://grindr.com/) sudah terlebih dahulu mencuri perhatian. Aplikasi mobile besutan Joel Simkhai ini meraih popularitas sejak peluncurannya 25 Mei 2009 dan telah diunduh jutaan kali di 192 negara. Grindr juga menjadi aplikasi mobile gay pertama yang tersedia di iTunes App Store pada tahun tersebut. Grindr sendiri kini menjadi aplikasi terbesar dan paling populer di kalangan gay serta meraih beberapa prestasi dalam ajang teknologi internasional (http://en.wikipedia.org/wiki/Grindr). Grindr menempati peringkat ke-54 untuk aplikasi mobile gratis kategori sosial yang paling banyak di-download oleh orang Indonesia di Google Play Store menurut peringkat yang disusun App Annie (http://www.appannie.com) per Sabtu 1 November 2014. Sementara Grindr menempati peringkat ke-47 pengguna iPhone di Indonesia (Enricko Lukman).

Dengan Grindr, para gay akan dapat terhubung dengan calon pasangan barunya yang berada di sekitar lokasi. Bahkan, aplikasi tersebut dapat menentukan berapa jarak antara pengguna Grindr. Seperti yang diceritakan Angga, yang sudah men-download aplikasi tersebut sejak satu tahun lalu. “Kita nongkrong di mall, nanti kita buka aplikasi Grindr nanti ketauan tuh kalau ada yang sekitar kita gay juga. Soalnya gay pasti punya aplikasi ini, tinggal cocokin foto yang ada di profil mirip ‘nggak’. Kalau mirip kita samperin kenalan, atau chat aja langsung,” ucapnya. Yang mengejutkan, penghuni aplikasi khusus komunitas gay tersebut, kebanyakan anak-anak muda dengan rentan usia 17 sampai 30 tahun. Meski ada juga yang sudah berumur di atas kepala empat (gobekasi.pojoksatu.id/bekasi/).

Beragam pose mereka tampilkan di foto profil yang dipajang guna menarik perhatian sesama pria. “Harus menariklah foto profil sama aja kaya media sosial lainya. Kan biar gampang menarik perhatian,” ucap Angga. Angga melanjutkan, aplikasi tersebut sangat menguntungkan komunitas gay di Kota Bekasi. Pasalnya, komunitas gay dapat mencari pasangan dengan mudah dan instan. Tidak hanya dari Kota Bekasi, aplikasi dengan logo kuning ini juga terintegrasi dengan media sosial lainya seperti twitter, facebook, dan instagram, bahkan juga dapat berkomunikasi dengan komunitas gay di luar negeri. “Kalau ini saya aktifkan untuk Bekasi aja, tapi kalau mau kenal dengan gay bule juga bisa, tinggal cari aja,” ujarnya kepada Radar Bekasi (dalam gobekasi.pojoksatu.id/bekasi/). Biasanya, menurut Angga, komunitas gay punya pasangan tetap, tetapi tidak menutup kemungkinan mencari lelaki lain untuk orientasi seks. Dalam sehari gay bisa dua sampai tiga kali berganti pasangan. “Kalau pasangan kayak pacar tetap ada. Tapi kan kita bisa cari buat senang-senang aja. Gay itu mempunyai kehidupan yang tidak bisa diikat, kami bebas mau ke mana saja,” ujarnya. Dalam pantauan Radar Bekasi, aplikasi Grindr telah di-download lima juta pengunduh. Untuk anggota di Bekasi yang tergabung dalam aplikasi khusus gay tersebut berjumlah 800 anggota yang tersebar di Bekasi dan sekitarnya (gobekasi.pojoksatu.id/bekasi/).

Berdasarkan hasil penelusuran Gobekasi, ada sekitar 40 grup gay dengan status closed dan open group. Beberapa di antaranya, Gay Cikarang Utara, Gay Cikarang New, Gay CIikrang, Gay Cikarang-Karawang Online 2, Gay Cikarang Selatan (GCS), dan sebagainya. Group yang paling aktif yakni ‘Sentra Gay Cikarang’. Aktivitas terakhir akun ini pada 14 Maret 2015 dan memiliki member sebanyak 1.144 orang. Admin akun ini kerap memberitahukan posisinya saat berada di suatu tempat. Lalu, para member merespons dan dibalas lagi oleh sang admin. Tak hanya itu, beberapa member akun ‘Sentra Gay Cikarang’ juga saling bertukar PIN Blackberry dan nomor telepon. “disini ada gadun ya ga.. add dunk… atau invet pin 7db37xxx tlp 08991897xxx mks ya,” tulis salah satu akun memberitahukan nomor kontaknya. “Cari BF (Boy Friend-Sebutan pasangan Gay) TOP single Yng Umurnya 25 Kebwh No Gemuk Ya Sry Namaku Perjaka Umur 17thn Tinggal Di Cibitung Aku BOT Single minat Inbox Ya Kalo Gx add,” tulis akun Perjaka (samaran).

 

 

 

Risiko Penyakit Menular Seksual (PMS)

Praktik LGBT, khususnya gay, berakibat penularan penyakit menular seksual (PMS). Penyakit seks HIV/AIDS menular, bila salah satu pasangan telah mengidap HIV/AIDS, melakukan hubungan seksual. Gay melakukan seks sejenis antar laki-laki dengan cara anal seks maupun oral. Lesbian melakukan seks sejenis antar perempuan dengan cara oral (vaginal sex). Penulis lansir situs ‘lgbtindonesia.com’ terkait oral seks pada (maaf) zakar (fellatio) yang dilakukan gay. Ada dua risiko yang muncul, yakni risiko teoritis, dan risiko terdokumentasi.

Risiko teoritis, ketika melakukan oral seks pada zakar akan terstimulasi sehingga mengeluarkan cairan pre-ejakulasi atau disebut pre-cum. Bagi mereka yang sudah terinfeksi HIV, cairan pre-cum ini juga membawa virus-virus HIV. HIV bisa menulari mereka yang secara aktif menjilati zakar (pasangan insertif). Ketika dalam melakukan oral seks ternyata di bagian mulut dan gusi peng-oral terdapat luka, pendarahan atau goresan maka hal ini bisa menjadi cara untuk terinfeksi HIV. Hal ini juga terjadi untuk oral seks pada (maaf) farji yang diterima dari cairan farji (vaginal fluid). Kedua, risiko terdokumentasikan. Walaupun memang terbukti bahwa risiko penularan HIV melalui oral seks adalah lebih kecil dibandingkan dengan anal seks ataupun vaginal seks tetapi virus HIV telah terbukti bisa menulari seseorang dengan melakukan oral seks pada zakar, bahkan ketika pasangannya tidak ejakulasi sekalipun (hanya mengeluarkan pre-cum).

Selanjutnya risiko oral seks pada anal (anilingus) –Rimming. Risiko teoritis bila melakukan oral seks pada bagian anal juga membawa risiko terhadap penularan HIV pada mereka yang menjilat (maaf) anus (pasangan insertif). Hal ini terjadi jika di bagian anus terdapat paparan darah yang terinfeksi HIV. Paparan darah ini bisa ada karena tinja yang berdarah, atau adanya luka di daerah dubur atau anus. Pasangan orang yang di-oral (pasangan reseptif) juga berisiko dalam hal ditulari HIV, hal ini jika pasangan insertif mereka ternyata terinfeksi HIV. Jika terdapat luka pada bagian mulut atau gusi dan menyebabkan adanya paparan darah, dan paparan darah yang bercampur dengan air liur tersebut mengalami kontak langsung dengan lapisan anus atau dubur, terlebih jika terdapat luka pada anus atau dubur tersebut. Risiko terdokumentasikan artinya sampai saat ini setidaknya ada satu kasus penularan HIV yang sudah resmi diterbitkan sebagai studi ilmiah berkatian dengan oral seks pada anal (analingus) ini. Jadi ternyata walaupun memang resiko melakukan oral seks terhadap penularan HIV (lgbtindonesia.com).

LSM Mitra Sehati menyebut korban positif HIV/AIDS di Kota Bekasi sejak tahun 2008 mencapai 1060 kasus, dan di tahun 2009 mencapai 1.144 jiwa. Hingga tahun 2010 ini jumlah penderita positif HIV/AIDS mencapai 1179 jiwa. Hingga empat tahun kemudian, jumlah itu tembus 2.500 penderitanya di Kota Bekasi. Menurut Rijal, dominasi penderita HIV/AIDS itu kebanyakan dari kalangan homoseksual. Biasanya, penularan itu terjadi saat terjadinya seksualitas antara pasangan tersebut. “Mereka kebanyakan dari homoseksual, akibat seks sesama jenis,”. Untuk kalangan lesbian, jumlahnya masih kecil apabila dibanding dengan penderita homoseksual. Alasannya, kalangan lesbian ini tidak terlalu besar jumlahnya ketimbang kalangan homoseksual. Akan tetapi, apabila lesbian itu ada yang memakai narkorba sudah tentu penularannya itu bisa cepat terjadi. Mereka yang mengidap penyakit mematikan itu, kata Rijal, berasal dari kalangan remaja yakni berkisar usia 18 tahun sampai ada juga yang dewasa sekitar usia 34 tahun. Penularan ini diakuinya terjadi sejak mereka duduk di bangku kelas 3 SMP. Rijal menjelaskan, penularan ini memang paling besar terjadi di wilayah Kabupaten Bekasi. Untuk wilayah Kota Bekasi masih kecil. Itu terlihat dari banyaknya jumlah komunitas homoseksual yang ada di kedua wilayah tersebut. “Jumlah komunitas homoseksual di Kabupaten Bekasi paling besar,”. (Arrahmah.Com, 26 Agustus 2014 09:09).

 

Perspektif Hak Asasi Manusia

Dalam konferensi ICPD (International Conference on Population and Development) di Mesir tahun 1994, membuat keputusan bahwa Perserikatan Bangsa-Bangsa (baca: PBB) menetapkan bahwa yang dimaksud keluarga adalah hubungan antara pria dan wanita dalam suatu pernikahan maupun ikatan antara pria dengan pria (pasangan homoseks) dan wanita dengan wanita (pasangan lesbian). Putusan konferensi meminta kepada seluruh negara anggota PBB agar meratifikasi hasil putusan konferensi tersebut. Sejak itu ada gerakan meratifikasi hasil keputusan tersebut di berbagai negara dengan melegalkan perkawinan sejenis antara lain Belanda (1996), Belgia (2003), Spanyol (2005), Kanada (2005), Afrika Selatan (2006), Swedia (2008), Portugal (2010), Islandia (2010), Argentina (2010), Meksiko (2009) (suaraislamonline.com).

Pada tahun 1982, kelompok hak asasi gay didirikan di Indonesia. Lambda Indonesia dan organisasi sejenis lainnya bermunculan pada akhir tahun 1980-an dan 1990-an. Kini, asosiasi LGBT utama di Indonesia adalah Gaya Nusantara, Arus Pelangi, Ardhanary Institute, GWL INA. Pergerakan gay dan lesbian di Indonesia adalah salah satu yang tertua dan terbesar di Asia Tenggara. Kegiatan Lambda Indonesia termasuk mengorganisir pertemuan sosial, peningkatan kesadaran dan menciptakan buletin, tetapi kelompok ini dibubarkan pada tahun 1990-an. Gaya Nusantara adalah sebuah kelompok hak asasi gay yang berfokus pada isu-isu homoseksual seperti AIDS. Kelompok lain adalah Yayasan Srikandi Sejati, yang didirikan pada tahun 1998, fokus utama mereka adalah masalah kesehatan yang berkaitan dengan orang-orang transgender dan pekerjaan mereka termasuk memberikan konseling HIV/AIDS dan kondom gratis untuk transeksual pekerja seks di sebuah klinik kesehatan gratis. Sekarang ada lebih dari tiga puluh kelompok LGBT di Indonesia. Yogyakarta, Indonesia, merupakan tempat diadakannya pertemuan puncak hak LGBT pada tahun 2006 yang menghasilkan ‘Prinsip-Prinsip Yogyakarta’.

 

Perspektif Hukum

Hukum positif di Indonesia tidak mengkriminalisasikan homoseksualitas. Hukum pidana nasional tidak melarang hubungan seksual pribadi dan hubungan homoseksual non-komersial antara orang dewasa yang saling bersetuju. Hal ini berarti, Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) tidak menganggap perbuatan homoseksual sebagai suatu tindakan kriminal, selama tidak melanggar hukum-hukum lain yang lebih spesifik, yakni mengenai perlindungan anak, kesusilaan, pornografi, pelacuran, dan kejahatan pemerkosaan. Perbuatan homoseksual tidak dianggap sebagai tindakan kriminal, selama hanya dilakukan oleh orang dewasa (tidak melibatkan anak-anak atau remaja di bawah umur), secara pribadi (rahasia/tertutup, tidak dilakukan di tempat terbuka/umum, bukan pornografi yang direkam dan disebarluaskan), non-komersial (bukan pelacuran), dan atas dasar suka sama suka (bukan pemaksaan atau pemerkosaan).

Pasca putusan MK, LGBT tidak dapat dimasukan Pasal 284 soal perzinaan, 385 (pemerkosaan), 292 (pencabulan). Pengajuan uji materi dimohonkan oleh Aliansi Cinta Keluarga (AILA). Dalam uji materi, penggugat meminta LGBT dimasukan dalam delik pidana dan merupakan bagian dari kejahatan Mahkamah Konstitusi RI menolak permohonan memperluas pasal perzinaan di KUHP. Putusan MK dihasilkan lewat dissenting opinion dengan komposisi 5:4. (BBC, 14 Desember 2017).

 

Perspektif Agama

LGBT, saat ini, dapat dipersamakan dengan perilaku kaum Luth yang disebutkan dalam al-Qur’an berdasarkan perkiraan terjadi sekitar 1.800 SM. Berdasarkan pada penelitian arkeologis dan geologis, peneliti Jerman, Werner Keller, mencatat bahwa Kota Sodom dan Gomorah benar-benar berada di Lembah Siddim yang merupakan daerah terjauh dan terendah dari Danau Luth, dan bahwa pernah terdapat situs yang besar dan dihuni di daerah itu. Danau Laut Mati menjadi saksi bahwa kejahatan lesbi dan gay yang sudah tidak bisa dicegah oleh Nabi Luth a.s. dikubur oleh Allah Swt. dengan azabnya yang dahsyat. Tentunya ini harus menjadi perhatian manusia sejak al-Qur’an diturunkan 15 abad yang lalu hingga hari kiamat agar mengambil pelajaran bahwa manusia yang berdosa (kriminal) itu tidak akan sanggup menghadapi azab Allah. Swt. (QS. As-Syu’ara 173-175). Sudah sepantasnya perilaku sodomi yang kini terkenal dengan Gay-Lesbi dilarang keras. Bahkan nabi Muhammad saw. bersabda: “Siapa saja yang kalian temukan melakukan perbuatan umat Nabi Luth, bunuhlah mereka baik yang mensodomi maupun yang disodomi!” (HR. Ibnu Majah). Penerapan hukum Islam tentang homoseks ini akan menyelematkan umat manusia dari dosa dan penyakit duniawi yang ditimbulkannya, bahkan menyelematkan manusia dari azab Allah Swt. Dalam firman-Nya: “Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya. (QS. Al-Anfal 25). (suaraislamonline.com).

 

Penutup

            Merujuk pada uruaian penulis di atas, dapatlah diambil konklusi sebagai berikut. Pertama, LGBT di Bekasi tumbuh subur. Kondisi ini disebabkan adanya gerakan kelompok LGBT yang masif yang berlindung di bawah payung hak asasi manusia. Aktifis-aktifis tertentu mendukung gerakan persamaan hak asasi manusia termasuk kebebasan untuk mendapatkan seks. Selain itu, media internet menyebabkan kemudahan komunikasi sesama kaum LGBT. Tak kalah pentingnya adalah sikaf permisif masyarakat terhadap perilaku seks kaum LGBT. Kedua, perspektif hak asasi manusia, kelompok LGBT merasa memiliki hak yang sama dalam semua aktifitas, termasuk orientasi seks sejenis adalah hak privat manusia yang dilindungi. Ketiga, Hukum positif Indonesia tidak memasukan perilaku seksual sejenis kelompok LGBT sebagai tindakan kriminal. Hukum hanya melarang tindakan seksual dengan adanya unsur dilakukan dengan anak di bawah umur, melanggar kesusilaan, pornografi, pelacuran, dan kejahatan pemerkosaan. Keempat, Agama Islam mengharamkan perilaku seksual sejenis kelompok LGBT. Perilaku ini sama halnya seperti perilaku kaum Nabi Luth a.s. Perilaku seks sejenis berisiko tertularnya penyakit menular seksual (PMS-misal HIV) yang dapat membahayakan jiwa, sementara salah satu tujuan syari’at adalah terjaganya jiwa (hifz al-nasi).

            Sudah selayaknya stakeholders dapat bergerak cepat untuk menanggulangi fenomena LGBT di Bekasi (Kabupaten dan Kota). Data jumlah yang dipaparkan di atas hanyalah sebagian kecil yang nampak. Ibarat gunung es kecil di permukaan, besar di bawah. Upaya-upaya yang dapat dilakukan adalah melakukan pembinaan intensif untuk penyadaran bahaya perilaku seks sejenis. Menyediakan anggaran khusus untuk menangggulangi penyakit menular seksual (PMS) yang disebabkan LGBT. Mudah-mudahan langkah serius stakeholders dapat mencegah bahaya yang lebih besar. Mencegah kemafsadatan diutamakan! (dar’u al-mafaasid muqaddamun).