Rabu, 23-08-2017 | 12:24:32

Dahsyatnya Literasi Mampu Mengubah Dunia

Oleh: Wahyudin (Pengawas PAI Kemenag Kab. Bekasi)

Literasi memang dahsyat. Mengapa? Karena dengan literasi semua masalah bisa terungkap. Diawali dengan membaca, mengamati, merefleksi bahkan partisipasi aktif dalam ranah sosial akan mampu mencari solusi. Juga literasi informasi yang sekarang menggurita. Sangat sulit dibendung. Perdetik kehidupan kita pasti diselimuti informasi. Kita tidak bisa ke luar dari zona informasi. Bahkan ada yang mengatakan, orang yang bisa menaklukkan dunia yaitu yang mampu menguasai informasi. Sangat dahsyat bukan?

Seperti diuraikan dalam Hands-Out Bahan Pelatihan Kurikulum 2013 (Kemendikbud: 2017: h. 44) diungkapkan bahwa " literasi berarti kemampuan untuk memahami, mempergunakan, dan menciptakan berbagai bentuk informasi untuk perkembangan diri dan sosial dalam rangka pembangunan dan kehidupan yang lebih baik. Literasi mengacu pada kemampuan membaca, menulis dan mempergunakan berbagai media sebagai sumber belajar secara kritis. Literasi yang dibutuhkan di abad 21 diantaranya adalah kemampuan komunikasi, berbahasa, keterampilan mempergunakan dan mengolah informasi. Ini semua membutuhkan kemampuan berpikir kritis dan kreatif". Sangat urgen eksistensi literasi dalam hidup ini.

Siapa pun kita, guru kah, ulama kah, pejabat sekalipun atau profesi apa pun dengan membaca dan berliterasi terasa akan indah. Yah pasti indah. Semua masalah bisa terungkap. Disamping menambah wawasan, juga akan mampu mencari solusi dengan alternatif yang lebih representatif dan integratif. Bukankah Allah SWT memberikan stressing untuk "iqro" setiap saat? Substansi khazanah keilmuan seseorang bisa dibedakan melalui membaca. Saat seseorang mengurai suatu masalah, bisa kita tangkap apakah seseorang suka membaca atau tidak?

Dalam konteks kondisi ke Indonesiaan, berdasarkan hasil riset sederhana di saat berkumpul seribu orang ternyata hanya seorang saja yang giat membaca. Apakah Anda kategori seorang itu? Itulah harapan kita. Falsafah iqro yang disinyalir Al Qur'an belum kita implementasikan. Anehnya yang mempraktikkan iqro (QS.Al-Alaq: 1-5) ternyata orang barat sana, yang notabene tidak mempedomani kitab suci Al Quran. Tentu sangat ironis bukan?

Saat saya sharing dengan guru dan wali murid di beberapa sekolah dalam acara Seminar Pendidikan dan Parenting, di sela-sela presentasi, saya cek kepada yang hadir dengan sebuah pertanyaan sederhana, membaca buku apa minggu ini? Subhanallah, ternyata jawabannya luar biasa. Ada yang membaca tentang tema psikologi, manajemen strategik, kiat mendidik anak, wawasan kebahasaan, novel yang menginspirasi, referensi mengajar dan tema lainnya. Tentunya diawali membaca dan mengkaji Al-Qur'an tiada henti.

Ternyata insan pendidikan, sudah memiliki motivasi tinggi untuk meningkatkan kualitas diri. Ini semua modal utama untuk melanjutkan peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM). Dengan membaca akan full otak kita dengan wawasan. Bahkan akan mengkristal dalam bentuk penguatan karakter.

Di sisi lain, dengan membaca, akan selalu siap berbeda pandangan. Berbeda pendapat dan menghargai orang lain. Bukankah kita semua ada sisi persamaan dan perbedaan? Inilah indahnya perbedaan.

Setelah giat membaca, selanjutnya hasil bacaan diikat dengan tulisan bermakna. Karena sehebat apa pun seseorang, apabila tidak mempunyai karya tulis sulit sekali untuk berekspresi. Ide-ide brilian yang ditulis akan mampu menginspirasi orang lain. Bahkan dengan karya tulis, maka pemikiran dan ide akan bermanfaat untuk orang sekitar bahkan dunia. Pemikiran RA Kartini tentang habis gelap terbitlah terang bisa kita nikmati manfaatnya hingga detik ini karena beliau melahirkan karya besar. Klimaksnya kita pun mampu menangkap hikmah dari goresan penanya.

Madzahibul Arbaah bisa mendunia, karena dibakukan sebagai buah karya terbesar sepanjang sejarah. Sejalan hal tersebut, dikatakan seorang bijak, andaikan Anda bukan berasal dari keturunan Raja, Presiden dan seabrek jabatan tinggi lainnya, maka menulislah. Dengan menulis, Anda akan dikenal dunia. Bahkan karya besar Anda akan dicatat dengan tinta emas meskipun Anda telah tiada. Itulah selayang pandang tentang Dahsyatnya Literasi bisa jadi mampu Mengubah Dunia. Sangat spektakuler bukan?

Tetapi ingat, menulis jangan bertujuan pada profit semata. Mengapa? Karena apabila orientasinya hanya materi ansich, bisa jadi apabila tidak sesuai harapan pasti akan kecewa. Klimaksnya pasti akan berhenti menulis. Menulislah untuk berbagi ilmu, dan sharing pengalaman insya Allah akan dicatat sebagai amal jariyah yang akan mengalir manfaatnya hingga ke alam trasendental. Bisa jadi termasuk wilayah dakwal bil qolam.
Ayo berliterasi, jangan tunggu hari esok meski dengan menorehkan beberapa titik (.....) pasti bermakna dan akan mengubah dunia.

Wallahu 'Alam
Bekasi, 06 Agustus 2017