Selasa, 20-12-2016 | 09:57:00

WBK = Keluar dari Comfort Zone

Oleh:
Agus Susanto, S.Ag.
Penghulu pada KUA Kecamatan Cingambul Kab. Majalengka
email: agussusantopenghulu@gmail.com

Selepas Zona Integritas, kita memasuki Wilayah Bebas Korupsi (WBK). Berbagai upaya dilakukan dengan berbagai cara supaya birokrasi kita terbebas dari tindakan perilaku korupsi, termasuk kedalam tindak pidana korupsi adalah gratifikasi dan pungutan liar (pungli). Citra Kantor Urusan Agama (KUA) yang semula buram karena dianggap sarat gratifikasi dan pungli, kini menapaki kehidupan baru yang lebih cerah dan transparan, meski masih ada beberapa kasus yang membelenggunya. Masyarakat sudah faham betul bagaimana KUA sekarang ini beroperasi diatas regulasi yang telah ditetapkan, bersih dari berbagai pungutan diluar ketentuan aturan. Maka dengan mewujudkan KUA sebagai wilayah yang bebas dari korupsi, sesungguhnya kita telah meninggalkan comfort zone yang selama ini melekat, dianggap identik menyertai perjalanan hidup KUA.

Comfort Zone adalah sebuah kondisi yang dianggap nyaman dan tak seorangpun ingin keluar dari ruang tersebut. Hidup yang sarat gratifikasi dan pungli dipandang sebagai zona nyaman (comfort zone) berdasarkan beberapa hal yang menjadi indikasinya, yakni; 1) gratifikasi atau pungutan diketahui oleh mayoritas masyarakat sebagai hal yang biasa dilakukan; 2) sudah terbiasa dilakukan sebagai sebuah rutinitas; 3) telah dapat ditoleransi; 4) telah dapat diterima oleh sebagian besar orang, dan; 5) dirasakan layak menurut orang yang melakukan.

Oleh karena itu, semestinya kita keluar dari comfort zone sebab ia membawa banyak dampak. Diantaranya, comfort zone membuat hidup jadi terbatas. Sebagian besar permainan dilakukan didalam zona nyaman. Seperti ikan di dalam akuarium, ikan hanya dapat berputar-putar sebatas tempat yang tersedia. Comfort zone juga membuat orang kehilangan minat. Orang jadi takut akan perubahan, takut masalah, dan enggan menghadapi tantangan. Selain itu, perjuangan didalam zona nyaman tidak terlalu diperhatikan. Orang yang ada didalam zona nyaman sering santai, tak ada kompetisi atau persaingan. Dan terakhir, comfort zone membuat kita bernyali kecil sebab tidak ada jaminan atau kepastian bahwa kita dapat sukses ketika kita keluar dari zona nyaman.
Maka, sekali lagi, dengan mewujudkan KUA sebagai Wilayah Bebas Korupsi, maka kita sesungguhnya telah meninggalkan comfort zone dengan segala dampak yang ditimbulkannya.