Misi Masjid Jogokariyan: Mengembalikan Fungsi Masjid Seperti Di Zaman Rasulullah SAW

Selasa, 16-07-2019 | 13:30:25

Jogokariyan (INMAS Kota Tasikmalaya)

Hari Selasa 16 Juli 2019 kami rombongan FKUB Kota Tasikmalaya bertandang ke Masjid Jogokariyan, sebagai upaya untuk belajar manajemen atau idarah masjid. Masjid ini terletak di Jalan Jogokariyan Nomor 36, RT 40 RW 11 Kampung Jogokariyan Kelurahan Mantrijeron Kota Yogyakarta.

Kami tiba di lokasi masjid jam 11.15 WIB. Selesai shalat dzuhur berjamaah, kami diterima oleh salah seorang pengurus Takmir Masjid, Bapak Gita Wili Ariandi di ruang aula lantai 2. Berdasarkan penjelasan beliau, masjid ini pernah meraih Juara 1 Idarah atau manajemen masjid tingkat Nasional. Masjid ini berada di bawah Yayasan Masjid Jogokariyan, terdiri dari 30 biro atau divisi dengan jumlah pengurus atau Takmir sebanyak 130 orang. Komplek masjid ini terdiri dari tiga lantai dengan berbagai fasilitas, seperti satu bangunan utama ruangan masjid, 30 kamar mandi, 5 tempat wudhu, 3 ruang penginapan, 1 ruang serbaguna, 1 ruang sekretariat, 1 ruang klinik, dan lain-lain. Lantai 1 ruang utama masjid digunakan untuk kegiatan salat dan tablig/pengajian, area wudu, klinik, dan sekretariat. Lantai dua sampai tiga digunakan sebagai tempat bersuci mandi, tempat pertemuan/rapat, pembinaan anak-anak, remaja, pemuda-pemudi serta penginapan bagi musafir yang berkunjung.

Masjid ini dulu awalnya sebuah mushola kecil di tengah kampung. Lalu tahun 1966 direnovasi menjadi masjid dan tahun 1967 mulai dipakai Jumatan. Sudah lima ketua DKM sejak berdiri sampai sekarang. Kini ketua DKMnya dipegang oleh Ustadz Agus.

Keberadaan masjid ini sungguh berperan terhadap perubahan sosial masyarakat di sekitarnya. Tahun 1999 baru 40 orang yang disantuni beras. Namun kini sudah hampir 400 orang disantuni beras. Dulu dua pekan sekali diadakan santunan beras. Seiring dengan perkembangan kepedulian pengurus masjid terhadap kaum duafa, maka LAZ Indonesia melirik masjid ini dan memberikan support berupa ATM beras. Kini masyarakat yang dianggap tidak mampu, mempunyai kartu beras. Dengan kartu tersebut masyarakat bisa datang kapan saja ke ATM beras yang ada di komplek masjid itu untuk mengambil beras dengan syarat membawa kartu beras.

Masyarakat sekitar yang membutuhkan modal untuk usaha dan yang terlilit hutang, dibantu oleh Takmir masjid melalui Baitul Mal Masjid Jogokariyan. Denyut nadi bisnis dan penghasilan masyarakat di sekitar masjid semakin hari semakin bertambah makmur. Ada  empat RW di sekitar masjid dan Para Ketua RW dijadikan Ketua Biro Penghubung program masjid dengan kebutuhan masyarakat.

Sudah banyak rumah masyarakat yang dibedah atau direnovasi oleh Takmir masjid. Dana masjid diperoleh dari para donatur dan infak dari jamaah. Yang agak unik adalah di komplek masjid tersedia beberapa kotak amal/infak dengan tulisan setiap kotak berbeda. Ada tulisan kotak infak Sego Subuh, kotak infak Parkir, Kotak Infak Jumat, dan lain-lain. Setiap Salat Jumat terkumpul infak kurang lebih 16 juta.

Kepedulian lain terhadap masyarakat adalah adanya klinik kesehatan di komplek masjid. Klinik dibuka tiga hari dalam sepekan. Masyarakat yang tergolong tidak mampu diberi kartu sehat oleh biro klinik masjid ini. Dengan membawa kartu sehat ketika diperiksa atau berobat, tidak usah mengeluarkan biaya alias gratis.

Keunikan lain adalah saldo masjid ini diumumkan tiap pekan berjumlah nol rupiah. Artinya bukan berarti uang itu di bendahara tidak ada sama sekali. Yang dimaksud nol rupiah adalah uang yang ada dan masuk dari infak jamaah sudah jelas peruntukkannya, meskipun uang itu disimpan atau ditabung di kas masjid. Misal, kini sudah ada uang sekitar 300 juta yang akan diperuntukkan bagi pembuatan lift yang memerlukan dana 600 juta. Lalu uang 2 juta akan diperuntukkan bagi pengecetan masjid misalnya. Uang itu kini tersimpan sebagai persiapan bagi pelaksanaan atau eksekusi program masjid. Dengan demikian setiap uang harus jelas peruntukkannya, tidak boleh sama sekali tidak ada dan tidak jelas untuk apa uang ini.

Kegiatan tablig atau pengajian umum dilaksanakan 6 kali dalam sepekan. Ada majlis Dhuha setiap Hari Kamis, ada kajian tafsir setiap malam Rabu, ada kajian Sirah Nabawiyah setiap Malam Selasa, dan seterusnya.

Yang tak kalah unik adalah terdapat pengajian berdasarkan usia. Ada pengajian khusus orangtua, pemuda, remaja, anak-anak, ibu-ibu muda, dan para alumninya. Petugas yang membina pengajian anak anak adalah remaja masjid. Petugas yang membina pengajian remaja adalah pemuda masjid. Petugas yang membina pengajian pemuda adalah Takmir masjid yang berusia tua. Bagi para pemuda dan pemudi yang menjelang atau berusia nikah diadakan kajian atau pembinaan pranikah.

Setiap tahun ada semacam acara refreshing spiritual atau tadabbur alam bagi 130 pengurus/takmir. Tadabbur alam terakhir di akhir tahun 2018 diadakan kawasan Gunung Merapi.

Pernah suatu saat ada seorang warga masyarakat yang tempat tinggalnya tidak terlalu jauh dari masjid, ingin menjual rumah seharga 7 milyar kepada salah satu pengelola sebuah rumah sakit besar. Terdengar kabar itu ke pengurus masjid. Para pengurus bermusyawarah dan menghasilkan keputusan: daripada dibeli oleh pengelola rumah sakit, lebih baik dibeli oleh kita untuk dijadikan pusat kegiatan atau semacam Islamic Center Masjid Jogokariyan. Sejak adanya keputusan musyawarah itu maka pihak Takmir datang ke pemilik rumah dan melobi agar rumah itu dapat dijual ke pengurus masjid, dan Alhamdulillah pemilik rumah bersedia serta memberi waktu kepada pengurus maksimal satu bulan untuk membayarnya.

Dengan usaha dan perjuangan yang tak kenal lelah dari para pengurus, akhirnya tidak lebih dari dua pekan ada donatur dari Surabaya yang membantu membelikan rumah 7 milyar itu untuk kepentingan kemakmuran dan  dakwah masjid Jogokariyan. Saat ini rumah yang terkenal dengan sebutan rumah 68 itu digunakan pengurus bagi pengembangan dakwah Islam oleh berbagai biro atau divisi.

Melihat makmurnya masjid ini dengan berbagai kegiatan, begitu pedulinya para pengurus terhadap masyarakat sekitar, dan begitu dahsyatnya efek keberadaan masjid terhadap kondisi sosial masyarakat, maka berbondong bondong tiap tahun masjid ini dikunjungi oleh berbagai pihak untuk menjadi tempat studi banding atau silaturahmi.   Hampir dari seluruh penjuru Nusantara pernah melakukan studi banding ke masjid Jogokariyan. Bahkan para pengurus masjid dari Eropa dan Amerika Serikat pernah mengunjungi masjid Jogokariyan untuk menggali cara pengurus dalam mengelola dan memakmurkan masjid.

Kontributor : Arip Somantri