Kepala KUA Cilebar Menerima Kunjungan Ketua Serikat PEKKA Karawang

Rabu, 15-05-2019 | 13:24:13

Cilebar (INMAS Kab. Karawang)

Menindaklanjuti hasil Sidang Itsbat Nikah di Luar Gedung Pengadilan Agama (PA) untuk wilayah Kecamatan Cilebar dipusatkan di “Kampung Santri” Desa Cikande pada tanggal 26 April dan 03 Mei 2019 yang lalu, Ketua Serikat Pemberdayaan Perempuan Kepala Keluarga (PEKKA) Kabupaten Karawang, Astini selaku panitia penyelenggara kegiatan tersebut datang berkunjung ke KUA Cilebar pada Selasa (14/05) siang.

Dalam pertemuan lebih dari 1 jam itu, Astini yang didampingi perwakilan dari aparat Desa Cikande menyampaikan permohonan kepada Kepala KUA Cilebar, H. Deni Firman Nurhakim untuk memproses penerbitan Buku Nikah 36 pasangan suami isteri (pasutri) yang pernikahannya telah ditetapkan legalitasnya oleh PA Karawang pada Jumat (03/05) lalu.

“Seperti arahan Kepala KUA saat Sidang Itsbat Nikah terakhir tempo hari, kedatangan kami kesini tidak lain untuk menyerahkan dokumen persyaratan pencatatan nikah 36 pasutri yang diminta. Alhamdulillah, tadi semuanya sudah dinyatakan lengkap,” jawabnya sumringah saat ditanya INMAS usai pertemuan.

Dalam kesempatan yang sama, kepada INMAS Deni menyampaikan bahwa KUA sangat mengapresiasi kegiatan yang telah dilakukan PEKKA Karawang di “Kampung Santri” Desa Cikande.

“Apa yang dilakukan PEKKA bersama PA Karawang di Desa Cikande itu jelas merupakan upaya yang sangat mulia. Karena masyarakat yang membutuhkan legalitas pernikahannya diberi kemudahan. Tidak perlu jauh-jauh datang ke Gedung PA di Karawang, tapi cukup datang ke Balai Desa setempat. Karena Majelis Hakimnya yang akan datang ke Desa untuk bersidang,” pujinya.

Lebih lanjut, Deni mengisahkan, penunjukan “Kampung Santri” Desa Cikande sebagai tempat Sidang Itsbat Nikah bukannya tanpa perjuangan. Karena semula, pelaksanaannya itu akan digabung dengan kecamatan yang lain dan bertempat di Aula Kantor Camat Telagasari. Bahkan, surat pemberitahuan sidang dan tempatnya itu sudah disebarkan kepada para peserta sidang itsbat nikah.

“Namun, alhamdulillah berkat kerjasama dengan semua pihak, pada akhirnya usulan dari KUA tersebut disetujui PA. Dan bagi kami, ini sesuatu yang patut disyukuri, karena menambah syiar ‘Kampung Santri’,” tambahnya.

Terkait proses pencatatan nikah hasil itsbat di KUA yang dipimpinnya, Deni menjelaskan, “Sesuai alurnya, setelah terbit putusan penetapan nikah dari PA, maka pasutri mengajukan permohonan kepada KUA agar legalitas pernikahannya itu dicatat. Dan bila persyaratan yang diminta dinyatakan lengkap, maka KUA akan menerbitkan Buku Nikah sebagai bukti bahwa pernikahannya telah resmi tercatat. Untuk pencatatan nikah model seperti ini (itsbat nikah, red.) tidak dikenakan biaya sama sekali alias gratis”. 

 

Kontributor : Denden/Deni Firman Nurhakim