Pembinaan Rutin Kemenag Majalengka: Tiga Hal Yang Tidak Akan Mengalami Kerugian

Senin, 11-02-2019 | 13:19:34

Majalengka (INMAS Majalengka).

Suasana religius senantiasa nampak dilingkungan Kemenag Kab. Majalengka terutama pada hari senin pagi. Hal ini ditandai dengan adanya tadarus Al-Quran, pembacaan asmaul husna dan pembinaan rohani. Pada kesempatan senin pagi ini, (11/2/19) KH. Abu Mansyur, M.Pd.I Kepala Seksi PAIS didapuk mengisi tausiyah didepan Kepala Kantor beserta segenap pegawai di lingkungan Kantor Kementerian Agama Majalengka.

Abu Mansyur, pria yang santun tersebut menjelaskan kandungan Surat Al Ashar. Menurutnya, dalam surah Al Ashr ada tiga hal yang tidak akan mengalami kerugian.

Pertama, orang yang beriman. Orang yang beriman adalah orang yang sangat beruntung dan tidak akan mengalami kerugian. Masalahnya, iman itu kadang berkurang kadang bertambah. Oleh karena itu agar iman senantiasa bertambah dan menguat, maka iman harus senantiasa diperbaharui. Abu Mansyur menjelaskan bahwa iman bisa diperbaharui dengan memperbanyak kalimah tahlil atau Laa Ilaaha Illallahu. Inilah lafadz yang terkadang sering diabaikan, padahal inilah kalimah yang sangat luar biasa untuk memperbaharui dan atau memperkokoh iman.

Kedua, hal yang tidak akan merugi adalah perbuatan amal shaleh. Menurut Abu Mansyur, amal sholeh adalah amal yang tidak menyimpang dari aturan. Semua aktifitas hidup adalah amal sholeh, pasalnya, semua aktifitas hidup itu ibadah. Hal ini ditandai dengan adanya doa pada setiap aktifitas yang dilakukan.

Ketiga, saling mengingatkan dalam kebaikan. Mengingatkan dalam kebaikan dan kesabaran merupakan hal yang tidak akan merugi. Untuk saling mengingatkan tersebut, Abu Mansyur menjelaskan bahwa ada 4 syarat agar saling mengingatkan berjalan dengan efektif dan efisien atau berhasil guna.

  1. Memiliki ilmu yang mumpuni. Orang yang memiliki ilmu akan lebih mudah dalam memberikan nasihat dibandingkan dengan orang yang tidak berilmu. Orang berilmu akan mudah didengar jika memberikan nasihat kepada orang lain.
  2. Nasihat akan efektif jika dimulai dari diri sendiri melalui perbuatan. Nasihat yang paling baik adalah dengan melakukan kebaikan melalui perbuatan tidak hanya sebuah perkataan belaka. 
  3. Tidak merasa lebih tinggi dari orang yang dinasihati. Kita tidak bisa memvonis seseorang atau menghakimi seseorang dengan sesuatu yang belum pasti. Boleh jadi seseorang yang melakukan maksiat ia akan mendapatkan tempat terbaik disisi Allah jika akhir hidupnya taubat dengan sebaik-baiknya. Begitupula boleh jadi seseorang yang melakukan amal sholih belum tentu ia akan mendapatkan tempat terbaik disisi Allah jika ternyata di akhir hidupnya justru bermaksiat kepada Allah.
  4. Jangan memaksakan diri dalam menasihati. Kewajiban memberikan nasihat hanya sebatas menyampaikan. Artinya setelah memberikan nasihat, kita tidak usah pusing dengan hasilnya. Kita hanya menyampaikan saja, jangan sedih jika tidak dituruti dan jangan ujub atau takabur jika mereka menuruti nasihat kita.

 

Kontributor: Taupik Hidayat